Dua Dunia

(1956)
Karya Sastra

Dua Dunia merupakan kumpulan cerpen karya N.H. Dini yang terbit pada tahun 1956 kemudian pada tahun 2002 diterbitkan ulang cetakan ke-3 oleh Grasindo, Jakarta.

Dua Dunia (1956) berisi 7 buah judul, yaitu (1) "Dua Dunia", (2) "Istri Prajurit", (3) "Djataju", (4) "Kelahiran", (5) "Pendurhaka", (6) "Perempuan Warung", dan (7) "Penemuan".

"Dua Dunia" mengisahkan seorang perempuan bernama Iswati yang baru saja sembuh dari sakit tiphus yang menghabiskan rambutnya. Ia sedang menyisir rambutnya dengan hati-hati sambil berdialog dengan ayahnya. Mereka membicarakan perihal suami Iswati yang telah menceraikannya. Laki-laki itu akan mengambil anaknya, Kanti, dan ingin mengasuhnya. Namun, Iswati bersikeras ingin mempertahankan Kanti anak satu-satunya. Sekalipun peraturan menyatakan bahwa anak perempuan harus mengikuti ayahnya jika kedua orang tuanya bercerai, ia tetap akan membesarkannya sendiri.

Ayah Iswati bercerita tentang masa lalu ibunya yang penjudi sehingga menghabiskan uang berapa pun yang ada di tangannya. Selain itu, Iswati terkenang ketika ia menyaksikan Darwono suaminya berhubungan mesra dengan ibu tirinya. Darmono, ayah Kanti selalu mengirim uang untuk putrinya, Kanti, tetapi uang itu tidak ke sampai alamat yang dituju. Uang Kanti dipakai berjudi oleh ibunya. Saat itu Iswati yang telah mengasuh Kanti dengan ihkas sedang berjuang untuk mempertahankan anaknya yang akan diambil oleh ayahnya. Iswati mengkhawatirkan jika suatu ketika Kanti sengsara diasuh oleh ayahnya. Ia tidak peduli oleh peraturan agama yang menganjurkan agar anak wanita sebaiknya diasuh oleh ayahnya jika terjadi suatu perceraian. Iswati yang menyayangi Kanti dengan rasa kemanusiaan yang tinggi tidak peduli akan nasihat ayahnya. Bahkan, Iswati telah mempersiapkan hartanya jika suatu ketika bekas suaminya itu menuntut di pengadilan atas perlakuannya mempertahankan anak tidak beribu itu.

"Istri Prajurit" mengisahkan seorang gadis bangsawan bernama Ningsih yang menikah dengan seorang prajurit dari keluarga kebanyakan yang bernama Gardjo. Perkawinan mereka sebenarnya tidak direstui keluarga Ningsih, sehingga mereka dikeluarkan dari keluarganya. Akan tetapi, perkawinan mereka sebenarnya membuahkan kebahagiaan walaupun hanya sekejap. Garjo gugur di medan perang. Kepedihan itu menjadi semakin mencekam ketika tiba-tiba Nani anaknya sakit. Keluarga Ningsih tidak mengulurkan tangannya sedikit pun.

Kepedihan Ningsih menjadi reda ketika kawannya datang dari kota. Wanita itu mencoba membujuk Ningsih dengan susah payah agar ia mau pergi ke kota untuk mencari nafkah bagi ia dan anaknya. Semula Ningsih masih mempertahankan kebangsawanannya sehingga ia merasa berat untuk mencari pekerjaan di kota. Akan tetapi, akhirnya nasihat kawannya itu menyentuh hatinya, kemudian Ningsih bangkit dan mengambil keputusan untuk ikut ke Jakarta mencari hidup demi masa depannya.

"Djatayu" mengisahkan seekor burung garuda dalam cerita Ramayana. Tokoh Djatayu itu sangat digemari oleh seorang gadis bernama Prita. Ia mempertahankan Djatayu itu ketika ayahnya akan menjual seperangkat wayangnya kepada orang lain untuk membiayai sekolah anak sulungnya yang meninggal beberapa waktu yang lampau. Semula ayah Prita adalah seorang dalang yang cukup berhasil. Ia bahagia bersama istri dan dua orang anak pria dan wanita. Tetapi, kebahagiaan itu sirna ketika anak sulungnya meninggal dan Prita (16 tahu) sakit malaria tropika yang mengakibatkan otak dan syarafnya terganggu. Akibat penyakitnya, Prita tidak mampu mengikuti pelajaran. Akhirnya, ia dikeluarkan dari sekolahnya. Di rumah gadis itu hanya berangan-angan bahwa suatu saat Djatayu akan membawanya terbang ke mana ia suka. Ia sangat rindu kepada kakaknya hingga setiap sore ia selalu duduk dekat warung dan menyalami setiap pria yang lewat di muka warung itu.

Suatu ketika Prita melihat kendaraan aneh yang belum pernah dilihatnya. Kendaraan skuter itu milik kawan ayah Prita. Pada saat itu kawan ayah Prita sedang menemui ayahnya. Diam-diam gadis itu menuntun benda aneh itu dan mencoba menyalakan mesinnya. Bersama kendaraan yang dianggapnya Djataju itulah, ia terbang mengendarai skuter sesuka hatinya. Saat itu hujan gerimis sehingga jalan licin. Dalam keadaan bahagia, Prita akhirnya jatuh tergelincir bersama burung Djatayunya (kendaraan bermotor skuter) hingga menghembuskan napas terakhir.

"Kelahiran" mengisahkan mengisahkan kerasnya kehidupan di suatu daerah mengakibatkan setiap orang selalu mencari kesempatan mendapatkan uang dengan cara apa pun. Di desa tempat tinggal Sardin ada seorang calo penjual tenaga kerja sehingga orang berebut dan menyerahkan dirinya untuk bekerja yang dapat menguntungkan calok tersebut. Hal itu terjadi karena mereka sudah terjepit oleh kebutuhan ekonomi sehingga tidak sadar dirinya akan rugi dan sebaliknya si calo pun tidak sadar bahwa dirinya telah merugikan orang lain.

Sardin seorang pekerja kuli pelabuhan itu pun tertarik oleh pekerjaan itu. Ia meninggalkan pekerjaannya itu dan ingin dipekerjaan di kota lain yang belum jelas. Sudah beberapa hari ia duduk-duduk bersama kawan lainnya dan mengharap terpilih untuk dibawa pergi. Akan tetapi, dengan tubuh yang kurus dan muka yang pucat, tidak mungkin ia terpilih sebagai pekerja yang idamkan. Setiap pulang ke rumah istrinya yang hamil besar marah karena suaminya tidak pernah membawa uang.

Tiba-tiba adik istrinya datang dari desa membawa beras. Istri Sardin berkata bahwa suaminya diminta pulang saja ke kampung mengurus sawah mertuanya. Sardin sebagai laki-laki yang ingin mandiri merasa berat untuk pulang ke kampung. Setelah makan, diam-diam ia pergi ke rumah kawannya ingin menagih hutang kepada kawannya. Namun, usahanya tidak berhasil. Kawannya itu malah meminta kepada Sardin agar mau mengantarkan seorang perawan untuknya. Ia mau membayar uang sebanyak sepuluh rupiah jika Sardin berhasil menyuguhkan gadis kepadanya.

Sardin berpikir bahwa wanita itu adalah Darni, adik istrinya itu, tetapi Sardin berusaha menepis niat buruk itu. Ia segera pergi meninggalkan kawannya tanpa berkata sepatah pun. Di tengah jalan, anaknya berlari-lari memanggil ayahnya agar lekas pulang karena istrinya melahirkan.

Sampai di rumah para tetangga sudah berkumpul. Istrinya melahirkan dengan selamat. Salah seorang tetangga mendekati Sardin sambil berkata, "Ini ada uang empat rupiah, kaca dua keranjang itu telah dibeli oleh orang Cina dan seng itu pun laku seringgit," demikian kata tetangga yang baik hati itu. Dalam Hati Sardin bersyukur, bahwa tetangganya itu ternyata tahu akan penderitaannya. Ia ingat kawannya yang akan memberinya uang sepuluh rupiah dan ia ingat Danti yang sudah akan di jualnya. Ia berjanji dalam hati tidak akan menjual orang seperti lainnya.

"Pendurhaka" mengisahkan Jati, wanita muda generasi baru, yang tampak berlainan dibandingkan dengan kakak-kakaknya yang termasuk generasi kuno. Mereka lima orang bersaudara, tiga orang kakaknya termasuk generasi lama yang "patuh" kepada kehendak orang tuanya, sedangkan Sul dan Jati termasuk tokoh yang berpikiran modern. Mereka menganggap bahwa ibunya egois, tidak mau menerima keadaan yang dihadapi anak muda pada masa kini. Oleh karena itu, Jati dan kakaknya berdialog sangat sengit. Kakak Jati menyarankan agar adiknya pulang ke rumah karena ibunya telah lama menderita memikirkan gadis itu. Jati seorang guru yang tampak sukses meniti kariernya sebagai guru di kota kecil. Akan tetapi, ibunya menginginkan agar gadis itu lekas pulang "untuk menikah".

Jati mencoba mengingat-ingat perlakuan ibunya terhadap dua orang kakak wanitanya yang dipaksa kawin dengan pria pilihan ibunya. Ia juga telah menyaksikan perselisihan ibunya dengan kakaknya yang mulai menentang kehendak ibunya. Ketika itu, Sul sedang bersemangat dalam perjuangannya merintis kemerdekaan bersama kawan-kawannya. Ibunya mencegah kepergian Sul karena ia seorang gadis. Akan tetapi dengan tenang dan pasti, Sul pergi sambil menjinjing ransel tanpa menghiraukan kemarahan ibunya.

Hingga saat itu, kakak-kakak Jati tetap menganggap perilaku Sul dan Jati salah dan durhaka terhadap ibunya. Kakaknya menganggap bahwa Jati anak keras kepala. Jati segera berkata bahwa kekerasan hatinya itu adalah warisan dari ibunya dan masih beruntung ia juga mewarisi kesabaran dari ayahnya. Sekali lagi kakaknya berkata bahwa malam itu ia banyak kerja sambil bangkit dari tempat duduknya. Jati segera menjawab bahwa ia pun selalu banyak kerja. Oleh karena itu, Jati tetap tidak akan pulang menemui ibunya.

"Perempuan Warung" mengisahkan kehidupan Kinah, seorang perempuan warung. Anggapan sebagian orang perempuan warung adalah wanita jalang. Namun, seperti kisah Kinah merupakan wanita penjaga warung yang baik hati. Sore itu kinah bergegas pergi ke warung kakak iparnya bernama Karjan. Sampai di warung Karjan marah karena adik iparnya itu terlambat datang. Wanita itu hanya diam saja mendengar omelan kakaknya, karena ia sudah sering mendengar cacian seperti itu. Setelah Kinah asyik membantu pekerjaan di warung itu, Karjan pergi dengan diam-diam. Ia sangat senang karena yang membantu di warung bukan istrinya, melainkan adik iparnya. Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh tinggi datang memesan kopi. Pria itu ternyata kawan Kinah di kampung yang tidak ia sukai. Pria itu bernama Marjan, bekas penjahat yang rupanya baru keluar dari penjara. Pria itu mencoba menggoda Kinah. Tetapi Kinah menolak, ia berkata bahwa saat itu ia telah bersuami dan ia hidup bahagia bersama suaminya. Laki-laki itu berusaha mendebat perkataan Kinah, karena jika suaminya menyayangi istrinya, mengapa Kinah dibiarkan menjadi perempuan warung? Kinah hanya berkata bahwa ia ingin mencari makan dengan halal. Kinah tidak berkata bahwa ia berada di tempat itu hanya menggantikan kakaknya yang baru melahirkan. Ternyata Marjan mau mengerti, ia meninggalkan Kinah dengan memberi uang yang cukup lumayan. Ia berjanji akan datang ke warung Kinah kembali.

"Penemuan" mengisahkan bahwa malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Seorang sopir kendaraan tiba-tiba menabrak tiga orang sekaligus. Dua orang meninggal dunia sekaligus dan satu orang luka parah hingga patah kaki, yakni seorang pelajar. Saat itu sopir penabrak tersebut mendatangi korban dan meminta maaf atas perbuatannya yang sangat ceroboh. Ia sangat menyesal dan tidak lain hanya dapat mengucapkan maaf kepada pelajar itu. Perang batin terjadi dalam benak pelajar itu apalagi setelah sopir itu bercerita tentang musibah yang baru dialaminya. Sopir itu bercerita bahwa ia baru saja kehilangan istri dan dua orang anak. Peristiwanya terjadi ketika rumah milik sopir itu terbakar dan anaknya tidak berhasil diselamatkan dari kobaran api, sedangkan istrinya yang mencoba melarikan diri telah ditembak oleh musuh dalam peperangan itu.

Dalam keadaan kacau ia mencoba menjadi sopir untuk mencari nafkah. Sopir itu berkata bahwa ia tidak akan menyerahkan diri kepada polisi karena ia pun sudah lama menyerah kepada keadaan. Pelajar itu berkata sambil berteriak, "Tetapi Kau sudah membunuh!" Pelajar itu menyaksikan sinar mata sopir yang tertuju kepadanya, yaitu sinar mata yang penuh kebencian. Pelajar itu merasakan pening di kepalanya. Ia mencoba memejamkan kepalanya dan ia mendengar suara pintu tertutup.

Di dalam Suluh Merdeka, tanggal 21 Maret 1970 pernah ada pendapat yang mengatakan bahwa penulis novel Dua Dunia dan Hati yang Damai itu bukan saja membeberkan cara-cara ia menyusun karangan, melainkan memaparkan juga rasa cintanya dan kegelisahannya sewaktu akan menikah dengan orang asing.