Yusakh Ananda

(1934— 2002)
Pengarang

Yusakh Ananda atau kadang-kadang dituliskan dengan cara Yusach Ananda dikenal sebagai pengarang cerita pendek. Dia dilahirkan di Sambas, Kalimantan Barat pada tahun 1934 dan meninggal tahun 2002. Nama kecilnya adalah Zubier Muchtar. (Horison, Januari 2001). Pendidikan yang pernah ditempuh oleh Yusakh Ananda adalah SD dan SMP tahun 1948-1951 di Pontianak. Sejak itu ia mengikuti berbagai kursus, bahasa Inggris, bahasa Belanda, jurnalistik, seni lukis, fotografi, pertanian dan peternakan. Yusakh mempunyai hobi menulis dan berternak unggas. Bahkan, ia telah menerbitkan majalah sekolah dengan tulisan tangan. Saat itu, Yusakh sudah menulis cerpen dengan judul "Pagi Tenang", yang berisi suasana kampungnya. Cerpennya yang berjudul "Kerja di Bawah Bintang" dimuat di majalah Indonesia, No. 3, Th. VIII, Maret 1957.

Yusakh Ananda masih keturunan bangsawan, di Sambas orang-orang yang memakai kata Urai di belakang namanya, biasanya disingkat U, pertanda dari kalangan bangsawan. Akan tetapi, Yusakh Ananda merasa malu menggunakan gelar kebangsawanannya itu. Oleh karena ia sewaktu kecil sering diolok-olok temannya bahwa nama Urai sebenarnya gelar hadiah dari orang Tionghoa.

Cerpennya yang berjudul "Kampungku yang Sunyi" dan "Catatan di kampung Kelahiran" mendapat hadiah majalah Kisah tahun 1953 dan 1954. Kumpulan cerita pendeknya yang berjudul Demikianlah pada Mulanya, Pustaka Jaya, 1980 berisi 9 cerpen. Kumpulan cerpen ini merupakan kumpulan cerpen yang khas tahun 1950-an, yaitu cerita pendek angkatan majalah Kisah.

Sebagai pengarang cerpen, Yusakh Ananda seangkatan Trisnoyuwono dan Sukanto S.A. Dia adalah pengarang dari generasi Kisah. Yusakh memunculkan cerpen-cerpennya di majalah Kisah, Sastra, Mimbar Indonesia, Horison, dan Kompas. Selain itu, cerpen-cerpen Yusakh berisi cerita kehidupan sehari-hari, seperti bagaimana rasanya kekurangan beras. Menurut Jakob Sumardjo, ciri khas cerpen karya Yusakh Ananda adalah pembeberan deskriptif dari pengalaman yang sederhana. Oleh karena tekniknya yang seperti itu menyebabkan hampir semua cerpen karya Yusakh menjadi kurang baik karena semacam sketsa belum sebagai cerpen. Misalnya cerpennya yang berjudul "Penunggu Bukit yang Nakal" dan "Sebuah Kelumit yang Terlepas."

Latar belakang kepengarangan Yusakh Ananda ternyata mendapat bimbingan dari bibinya yang bernama Fatimah. Bagi Yusakh, Fatimah merupakan ibu keduanya. Oleh karena sejak kecil, ia diasuh oleh bibinya tersebut. Sebelum Perang Dunia II, Yusakh sering disewakan buku-buku roman terbitan Lukisan Pujangga, Roman Pergaulan, dan Balai Pustaka. Dari penerbitan inilah Yusakh mengenal Hamka, Matu Mona, Merayu Sukma, Mohammad Dimyati, Yoesoef Souyb, Abdul Muis, Nur Sutan Iskandar, Sutan Takdir Alisyahbana, Suman H.S., dll. Di samping itu, Yusakh juga sering diceritai oleh Urai Fatimah tentang revolusi Perancis. Dampak revolusi ini sangat buruk bagi orang-orang bangsawan yang tidak tahu apa-apa karena mereka telah menjadi korban keganasan dan sakit hati yang timbul akibat revolusi tersebut.

Cerita tentang keganasan revolusi Perancis dikaitkannya dengan kedatangan Jepang di Indonesia yang telah membawa perubahan, yaitu tidak adanya perbedaan antara sesama warga dan sudah tidak sepantasnya apabila raja-raja masih merasa mempunyai kekuasaan. Kakaknya, Urai Bawadi, seorang tokoh politik terkemuka di Kalimantan Barat juga menolak kembalinya swapraja. Hal ini sering menjadi bahan perdebatan kecil antara bibinya dengan kakaknya. Oleh karena bibinya, Fatimah, masih memegang teguh serta mengagungkan keningratannya. Bahkan, pada tahun 1946 ketika dirayakan hari lahir Bestuur Commissie, Urai Fatimah, bibi Yusakh Ananda, masih berkomentar bahwa "pusaka istana Sambas akan dipakai dan dibesarkan lagi".

Pengalaman berorganisasi Yusakh Ananda adalah menjadi anggota Dewan Pimpinan Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) Komisariat Kalimantan Barat.