Y.B. Mangunwijaya

(1929—1999)
Pengarang

Y.B. Mangunwijaya mempunyai nama lengkapnya Yusuf Bilyarta Mangunwijaya dan nama samarannya Wastuwijaya atau Thalib Yusuf. Pastor yang lebih dikenal dengan panggilan Romo Mangun ini lahir 6 Mei 1929 di Ambarawa, Jawa Tengah, dan meninggal 10 Februari 1999. Sejak kecil, anak sulung dari dua belas bersaudara, ayah Yulianus Sumadi Mangunwijaya dan ibu Serafin Kamdaniah ini memang bercita-cita ingin jadi insinyur. Ayahnya guru dan penilik sekolah di Magelang. Tahun 1943 keluarganya pindah ke Yogyakarta dan Mangunwijaya menamatkan sekolah lanjutan pertamanya di Yogyakarta tahun 1947. Setelah tamat SLA di Malang tahun 1951, ia hampir saja mendaftarkan diri ke Arsitektur ITB yang pada waktu itu baru dibuka. Namun, pertemuannya dengan Mas Isman, yang pernah menjadi komandannya, membuat ia untuk memilih menjadi pastor. Pada usia 14 tahun Mangunwijaya sempat mengangkat senjata melawan penjajah dalam statusnya sebagai tentara pelajar. Pengalaman yang tak dapat dilupakannya ialah menjadi sopir pengantar makanan untuk mayor Suharto, mantan Presiden RI. Romo Mangun menyelesaikan pendidikannya di Institut Filsafat dan Teologi Sancti Pauli, Yogyakarta (1959), Sekolah Teknik Tinggi di Rhein, Westfalen, Aachen, Republik Federal Jerman (1966), dan Institute for Humanistic Studies, Aspen, Colorado, USA.

Pada tahun 1972 ia mulai menuangkan pengalamannya dalam artikel, esai, dan cerpen yang dimuat di media massa. Salah satu cerpennya yang terhimpun dalam Dari Jodoh Sampai Supiyah memperoleh Hadiah Kincir Emas dari Radio Nederland.

Novel pertama berjudul Romo Rahardi, novel psikologi diterbitkan tahun 1981 oleh Dunia Pustaka Jaya. Burung-Burung Manyar, novel revolusi Indonesia, diterbitkan oleh Djambatan tahun 1981. Novel ini memenangi South East Asia Write Award tahun 1983 dari Kerajaan Thailand dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, Jepang, dan Inggris. Novel Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa, novel sejarah Halmahera Maluku Abad Ke-17, diterbitkan oleh Sinar Harapan tahun 1983 dan cetakan kedua diterbitkan oleh Djambatan tahun 1987. Trilogi novel Roro Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri, merupakan novel akhir zaman Sultan Agung dan Susuhunan Mangkurat I abad 17, diterbitkan tahun 1983—1986 oleh Gramedia. Balada Becak, fantasi, Humor, diterbitkan tahun 1985 oleh Balai Pustaka.

Buku nonfiksinya, antara lain, Ragawidya: Renungan Fenomenologis Religius Kehidupan Sehari-Hari, diterbitkan tahun 1975 oleh Penerbit Kanisius. Puntung-Puntung Roro Mendut, kumpulan esai dalam Harian Kompas 1973—1977 diterbitkan oleh Gramedia (1978). Pengantar Fisika Bangunan (1980) oleh Penerbit Gramedia. Sastra dan Religiositas mendapat Hadiah I Dewan Kesenian Jakarta untuk kategori esai sastra terbaik tahun 1982, cetakan I oleh Penerbit Sinar harapan, cetakan II Penerbit Kanisius.

Insinyur yang budayawan ini selain terkenal sebagai teoretikus yang menonjol di kalangan kaum arsitek profesional dan universitas, juga sebagai prtaktisi yang tahu medan pragmatik pelaksanaan. Namun, Romo telah mengundurkan diri dari "Grand Architecture" dan terjun ke Arsitektur Kaum Miskin." Sampai akhir hayatnya ia menghimpun dan mengayomi anak-anak jalanan sepanjang Kali Code, Yogyakarta, dalam suatu komunitas Pinggir Kali Code (Girli).

Menurut pengakuannya, ketika berada di desa Muntilan, ia masih dapat menikmati pendidikan dasar yang sangat berkualitas dan penuh keindahan. Dalam Hollands Inlanndse School (HIS) penganut Katolik yang iasuh para biarawan Belanda, ia menjadi salah seorang anak didiknya. Guru-gurunya sangat ulung dan sangat mencintai murid-murid pribumi. Mereka merasa bahagia dapat melihat anak didiknya mekar dalam sifat-sifat kemanusiaan yang baik, termasuk kebajikan suka membaca dan menikmati dunia cerita umumnya. Menurut Romo Mangun, pelajaran mengarang dan bercerita atau menulis cerita dipadukan dalam keutuhan unsur lain ialah keterampilan mendengarkan cerita.

Mangunwijaya mengakui bahwa bahasa Multatuli sangat digemarinya meskipun ketika ia masih menjadi murid sekolah teknik tingkat SMP, belum terpahami betul. "Toh, saya dapat merasakan sedikit betapa indah dan mempesona gaya bahasa yang dipakai dalam novel itu," katanya.

Romo Mangun juga mengakui bahwa penulis sastra selalu mulai dari mencintai lebih dahulu karya penulis lain. Baginya, H.B. Jassin adalah guru yang pertama kali memperkenalkan ia pada kesastraan walaupun hanya lewat buku-buku esai dan dokumentasinya yang berharga. "Buku Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai yang disusun dalam empat jilid adalah semacam "buku dewa" Jassin buat kita."

Amyrna Leandra Saleh dalam tesisnya yang berjudul "Roro Mendut karya Y.B. Mangunwijaya dan Serat Pranacitra: Sebuah Transformasi Kesastraan" menyatakan bahwa Y.B. Mangunwijaya menulis Roro Mendut berdasarkan pembacaan dan penafsirannya sendiri, bahkan berbeda dengan Roro Mendut karya Ajip Rosidi.