Wildan Yatim

(1933—...)
Pengarang

Wildan Yatim, sastrawan dan pakar dalam bidang biologi. Dia telah berkali-kali mendapatkan hadiah dalam sayembara mengarang.

Dia lahir tanggal 11 Juli 1933 di Padang Sidempuan, Sumatra Utara dan berasal dari keluarga muslim yang taat. Dia menamatkan pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah tahun 1946, SD di Ujung Gading tahun 1948, SMP di Lubuk Sikaping tahun 1951, SMA di Jakarta tahun 1954, dan Institut Teknologi Bandung, Jurusan Biologi tahun 1961. Tahun 1981 ia memperoleh Certificate in Medical Science di Hongkong University dan tahun 1988 meraih gelar doktor dari Universitas Padjadjaran, Bandung.

Sewaktu masih berstatus sebagai mahasiswa, ia aktif dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Setelah meraih gelar sarjana, ia aktif dalam KASI dan menjabat Wakil Ketua KASI Bandung tahun 1966--1968.

Pengalamannya dalam dunia karang-mengarang berawal ketika ia duduk di kelas dua SMP. Dia meraih Hadiah Pertama Sayembara Mengarang Prosa yang diadakan oleh Kantor Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pasaman. Ketika bersekolah di salah satu SMA di Jakarta, ia mulai menulis cerpen dan cerpen tersebut dikirimkan ke berbagai majalah yang terbit di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. Cerpen pertamanya "Menyingkir" dimuat dalam majalah Sunday Courier. Ketika masih berstatus sebagai mahasiswa, ia sibuk dengan studi dan hampir-hampir tidak mempunyai kesempatan menulis. Namun, ia pernah menjabat redaktur mingguan Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Barat dan redaktur majalah Scientiae tahun 1958. Setelah tamat sarjana muda, ia mencoba menulis lagi dan karya-karyanya dikirimkan ke berbagai majalah dan surat kabar mingguan. Cerpennya banyak dimuat di majalah Pedoman Minggu, Jakarta, dan "Lembaran Minggu" Pikiran Rakyat, Bandung.

Setelah memperoleh gelar sarjana, sekitar tahun 1961--1965, ia giat menerjemahkan cerpen berbahasa Inggris karya pengarang asing, seperti Hemingway dan Anton Chekov. Karya terjemahan itu dimuat dalam surat kabar Haluan dan Aman Makmur (Padang), Mahasiswa Indonesia (Bandung), dan Kompas (Jakarta). Pada tahun 1966—1968, ia giat menulis artikel nonsastra, yakni feature sosial politik dan ilmu pengetahuan populer (biologi) yang dimuat di Mahasiswa Indonesia dan Pikiran Rakjat (Bandung), serta Kompas dan Indonesia Raja (Jakarta). Sejak tahun 1969 hingga 1980 ia mulai menumpahkan perhatiannya untuk menulis karya sastra. Cerpennya yang dimuat pertama kali di majalah Horison berjudul "Di Puncak Bukit Padang Hilalang." Selanjutnya, cerpen-cerpennya terbit sekitar dua atau tiga judul per tahun. Selain dalam Horison, cerpennya juga terbit di Kompas, Pikiran Rakjat, Budaja Djaja, dan Indonesia Raja Minggu.

Kariernya dalam dunia pendidikan bermula ketika ia masih berstatus sebagai mahasiswa, yaitu sebagai asisten Zoologi di ITB Bandung (tahun 1957--1961). Setelah tamat dari ITB, ia kembali ke Sumatra dan diangkat sebagai dosen Biologi, di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang (tahun 1961--1965), pejabat Dekan FIPIA Universitas Andalas, Padang (tahun 1963--1965). Setelah itu, ia kembali ke Bandung bekerja sebagai dosen Biologi di Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran, Bandung (tahun 1965--1988).

Selain menulis karya sastra, Wildan Yatim juga menulis buku pelajaran (textbook), terutama yang berkaitan dengan bidang ilmu yang ditekuninya, antara lain Biologi (1974), Reproduksi dan Embriologi (1978), dan Genetika (1980).

Karya-karya sastranya yang telah diterbitkan antara lain (1) Saat Orang Berterus Terang (kumpulan cerpen, 1974), (2) Jalur Membenam (kumpulan cerpen, 1974), (3) Di Muka Pintu (kumpulan cerpen, 1975), (4) Pertengkaran (kumpulan cerpen, 1976), (5) Galau Meredam (novel, 1977), (6) Petualangan Tam (novel remaja, 1979), (7) Pondok di Balik Bukit (novel remaja, 1979), (8) Tak Ada Lagi Bayang-Bayang (novel, 1981), (9) Hati Bernyanyi (novel, 1981), (10) Mengarung Badai (novel, 1981), (11) Meniti Sinar Senja (novel, 1981), dan (12) Senandung (kumpulan cerpen, 1988).

Cerpennya yang berjudul "Surau Baru" memperoleh Hadiah Penghargaan dari majalah Horison tahun 1969, sedangkan cerpen "Perburuan Penghabisan" memperoleh Hadiah Hiburan Sayembara Mengarang Cerpen Horison tahun 1977/1978. Karyanya yang berjudul "Pergolakan" mendapat Hadiah Ketiga Sayembara Mengarang Roman yang diselenggarakan oleh Panitia Tahun Buku Internasional DKJ, Jakarta tahun 1972. Dua tahun kemudian (1974) naskah itu diterbitkan dalam bentuk buku oleh penerbit Pustaka Jaya. Tahun berikutnya (1975) novel tersebut meraih Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.

Aoh K. Hadimadja, 1970, dalam artikel yang berjudul "Wildan Yatim dalam Horison"--yang telah menelaah empat cerpennya yang berjudul "Senja di Sebuah Kedung", Bintang-Bintang seperti dapat Digalah", "Surau Baru", dan "Jaring Labah-Labah Memutih"--menyimpulkan bahwa tulisan Wildan Yatim lincah, terutama kalau ia melukiskan alam Minangkabau sehingga sangat tepat kalau ia disebut sebagai pelukis alam. Sementara itu Wilson Nadeak, "Saat Orang Berterus Terang: Kumpulan Cerpen Wildan "Yatim"--dalam buku Pamusuk Eneste, 1983, Cerpen Indonesia Mutakhir, Jakarta: Gramedia--menyatakan bahwa bobot sastra cerpen-cerpen Wildan Yatim terletak pada kemampuannya menggunakan kata secara intens di balik masalah sederhana yang diungkapkannya. Wildan dalam membuka cerita-ceritanya selalu dengan pelukisan situasi tempat tertentu dengan jernih dan bahasa yang bening dan hidup. Goenawan Mohamad dalam artikelnya yang berjudul "Posisi Sastra Keagamaan Kita Dewasa Ini" dalam Antologi Esei tentang Persoalan-2 Sastra susunan Satyagraha Hoerip, Jakarta, 1969, menyatakan bahwa Wildan Yatim adalah pelopor genre "sastra keagamaan". Jakob Sumardjo dalam Pengantar Novel Indonesia, Jakarta 1983, penerbit Karya Unipres, menyatakan bahwa meskipun Wildan banyak mengisahkan kehidupan pedesaan, terutama dalam cerpen-cerpennya, sebenarnya ia seorang modernis yang menginginkan adanya "modernisasi" desa. Wildan memang cermat dalam melukiskan detail kehidupan pedesaan, tetapi kadang-kadang begitu detailnya hingga terlalu banyak memotret dan mengesankan adanya keberlarutan nuansa perasaan halus dan lembut yang sederhana yang hampir termasuk seorang naturalis. Dia mengangkat kehidupan sehari-hari ke dalam novel dengan cara yang formal konvensional. Dia tidak tergerak untuk menulis dengan gaya yang mutakhir yang mewarnai angkatannya dalam majalah Horison.