Tuyet

(1978)
Karya Sastra

Tuyet merupakan novel karya Bur Rasuanto yang pertama kali dipublikasikan dalam bentuk cerita bersambung dalam harian Kompas pada tanggal 8 Mei sampai dengan 12 Juni 1978. Pada tahun yang sama cerita bersambung ini diterbitkan dalam bentuk buku oleh Gramedia (Jakarta) dengan tebal 162 halaman.

Tuyet mengisahkan Alimin yang bertugas sebagai seorang wartawan Indonesia di Vietnam ketika negeri ini dalam badai peperangan di akhir tahun 1960-an. Di negeri yang sedang dilanda perang itu, Alimin bergaul dan bersahabat dengan berbagai macam orang dari segala penjuru dunia, termasuk dengan orang-orang Vietnam. Salah seorang di antara orang Vietnam itu adalah Tuyet, seorang gadis muda yang namanya diangkat sebagai judul novel itu.

Novel Bur Rasuanto ini dibuka dengan pertemuan antara Alimin dan Tuyet. Tuyet menemui Alimin di tempat kosnya untuk menanyakan kiriman uang dari seorang wartawan Eropa yang telah pulang ke negerinya. Uang itu sebanyak dua puluh lima ribu piester, yang diperlukan Tuyet untuk menolong ayahnya yang dituduh sebagai komunis.

Seorang mayor yang cukup berkuasa memberi tahu pada Tuyet bahwa ayahnya akan dikirim ke Phu Quoq, sebuah tempat tahanan politik yang telah diubah menjadi neraka. Tidak seorang pun tahanan yang dikirim ke tempat ini pernah keluar dalam keadaan hidup atau mati sekalipun. Namun, keputusan tentang nasib ayah Tuyet itu bisa berubah seandainya Tuyet menyerahkan uang dua puluh lima ribu piester. Dan, apabila ia tidak mampu membayar, ia boleh mengganti uang itu dengan tubuhnya.

Tuyet berusaha menjaga kesucian dirinya dengan meminta bantuan Alimin. Alimin berusaha menolong Tuyet. Namun, usaha yang dilakukan Alimin akhirnya sia-sia demikian juga kiriman uang dari wartawan Jerman itu yang akhirnya sampai juga di akhir cerita. Akan tetapi, dalam surat yang dikirimkan kepada Alimin, Tuyet telanjur memutuskan menyerahkan tubuhnya kepada sang mayor untuk menyelamatkan ayahnya.

Dari kisah yang terungkap itu, novel Bur Rasuanto ini sesungguhnya menampilkan masalah pergeseran dan perbenturan nilai, sebagaimana diperlihatkan lewat tokoh Alimin dan Tuyet dan juga sebagaimana dikatakan oleh beberapa orang kritikus yang mengamati novel Tuyet tersebut. Dalam suatu seminar di Taman Ismail Marzuki (23 September 1980) yang khusus memperbincangkan Tuyet, Leon Agusta menyatakan bahwa novel Bur Rasuanto tersebut menawarkan nilai-nilai tertentu melalui pengalaman tokohnya sehingga novel Tuyet terasa relevan dan memiliki arti penting untuk suatu kesadaran kemanusiaan.

Sapardi Djoko Damono (Tempo No. 89/Th. X, 5 Juli 1980) mengatakan bahwa sebenarnya bukan kisah tentang Tuyet yang ingin ditampilkan pengarang, melainkan pergolakan dan pergeseran nilai-nilai yang memungkinkan kisah semacam itu terjadi. Pergolakan dan pergeseran nilai itu tercermin dari pandangan tokoh, yaitu antara Tuyet dan Alimin, yang menyebabkan adanya perbenturan nilai. Tuyet--dalam novel Bur Rasuanto itu--beranggapan bahwa dengan menjual dirinya kepada Alimin, ia tidak perlu menyerahkan tubuhnya pada sang mayor sehingga ia merasa masih bisa mempertahankan kemurnian dirinya. Di pihak lain, Alimin beranggapan bahwa dengan menjual diri itu Tuyet bukanlah seorang perempuan yang baik.

Sedia Willing Barus dalam Kompas Minggu (18 Maret 1979)—melalui tulisannya yang berjudul "Bengisnya Kekuasaan"—mencoba melihat Tuyet dalam novel Bur Rasuanto ini sebagai seorang gadis yang tertindas oleh kekuasaan yang begitu bengis dalam menentukan nasib orang. Di tengah-tengah ketidakberdayaan diri dalam menghadapi ganasnya kekuasaan, tokoh Tuyet merupakan cermin manusia yang memperjuangkan hidupnya dengan segala kehormatan dan kemampuan yang ada padanya, meskipun kehormatan sebagai taruhannya.

Hampir senada dengan pendapat Sedia Willing Barus di atas yaitu resensi Korrie Layun Rampan tentang novel Tuyet (Berita Idayu/Bibliografi No. 9, September 1979) memandang Tuyet sebagai korban sebuah sistem yang dilahirkan oleh perang. Dalam perang, suara rakyat bukanlah suara Tuhan, melainkan suara penguasa yang dipandang sebagai suara Tuhan. Mereka yang memegang picu senjata dengan mudah akan menghitamkan yang putih ataupun memutihkan yang hitam.