Titis Basino P.I.

(1939—...)
Pengarang

Titis Basino, nama lengkapnya Titis Retnoningrum Basino, terkenal sebagai pengarang cerpen dan novel, lahir di Magelang, Jawa Tengah, 17 Januari 1939. Dia lahir dari pasangan Basino Atmodisuryo dan Suparmi dan dibesarkan di Purwokerto hingga lulus SMA A pada tahun 1958. Pada 5 Mei 1964, Titis menikah dengan seorang arsitek, Ir. Poernomo Ismadi. Nama inilah yang kemudian dilekatkan di belakang namanya dan menjadi lebih terkenal dengan nama Titis Basino PI.

Dia menyelesaikan pendidikan di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, Jurusan Sastra Indonesia sampai pada tingkat sarjana muda pada 1962. Pekerjaan pertamanya adalah sebagai karyawan di perpustakaan FSUI, tahun 1962. Titis kemudian bekerja sebagai pramugari udara Garuda Indonesia Airlines pada 1963—1966.

Titis pertama menulis karya sastra berbentuk cerita pendek. Cerpennya yang pertama berjudul "Rumah Dara", dimuat majalah Sastra, No.12 th.II, tahun 1962. Cerpennya yang kedua berjudul "Dia" dimuat majalah Sastra, No.5 th.III,1963. Cerpen ini dan cerpen berikutnya, "Hotel" juga dimuat di majalah Sastra, No 7—8 th. III, 1963. Cerpen "Suatu Keputusan" yang dimuat majalah Sastra, No.9—10 Th.III, 1963 memperoleh hadiah hiburan majalah itu. Pada setiap edisi, cerpen Titis menghiasi lembaran majalah itu. Pada tahun 1964, satu cerpen lagi "Aku Melihat Senyumnya" dimuat majalah Sastra, no.3 Th. IV , 1964. Namun, setelah itu nama Titis seolah-olah tenggelam dalam kesibukannya menjadi seorang istri insinyur sebagai ibu rumah tangga. Selama beberapa tahun ia tidak menulis cerpen.

Hampir sewindu lamanya Titis memainkan perannya sebagai ibu rumah tangga dan sepertinya ia benar-benar telah melupakan kegiatan kepengarangannya. Pada tahun 1973 , di majalah femina, No.12, muncul lagi nama Titis Basino melalui cerpennya "Hotel" yang sebenarnya sudah pernah dimuat majalah Sastra. Beberapa cerpen berikutnya dimuat majalah Horison.

Tidak puas menulis cerpen, Titis mulai mencoba-coba menulis novel, meskipun pada awalnya sekadar untuk bacaan pribadi dan tidak dimaksudkan untuk diterbitkan. Belakangan, setelah novel Titis dibaca H.B. Jassin, kritikus dan dokumentator sastra Indonesia itu menganjurkan agar novelnya dikirimkan ke penerbit. Tahun 1978 terbitlah novel Titis yang pertama, yaitu Pelabuhan Hati. Sambutan pembaca terhadap novel ini ternyata sangat beragam.

Banyaknya resensi mengenai novel itu membuat Titis semakin terpacu untuk serius menekuni kegiatan menulis, meskipun itu dilakukan di antara kesibukannya mengurusi suami dan keempat putranya. Tahun 1983, terbitlah novel Titis berikutnya, yaitu Di Bumi Aku Bersua di Langit Aku Bertemu, disusul dengan novel Bukan Rumahku (1986), dan Dataran Terjal (1988). Sejak itu, nama Titis Basino PI makin kukuh tercatat dalam sejarah sastra Indonesia.

Selepas terbitnya keempat novel itu, Titis seolah-olah kembali tenggelam. Kecintaan dan tanggung jawab Titis kepada keluarga membuatnya merasa terlalu sedikit waktu yang dapat dimanfaatkannya untuk menulis. Setelah suaminya meninggal dunia dan anak-anaknya dewasa, ia mempunyai banyak waktu luang. Terlebih lagi setelah Titis menunaikan ibadah haji, ia seakan-akan begitu bebas mengungkapkan kegelisahannya. Pada Agustus 1997, lahirlah sebuah novel berjudul Dari Lembah ke Coolibah, sebuah novel yang menggambarkan perselingkuhan seorang ustad pembimbing dengan peserta haji di tengah perjalanan suci ke Mekah dan terus berlanjut di Tanah Air. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Pusat Bahasa), Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 1998, memberi penghargaan kepada Titis atas sukses novelnya itu.

Dari Lembah ke Coolibah merupakan bagian pertama dari sebuah trilogi perselingkuhan. Dua novel lainnya adalah Welas Asih Merengkuh Tajali (1997), dan Menyucikan Perselingkuhan (1998). Pada tahun 1999, trilogi ini mendapat anugerah Hadiah Sastra Mastera (Majelis Sastera Asia Tenggara) karena dipandang tidak sekadar memperlihatkan kejujuran sastrawannya dalam mengangkat masalah yang sering dihadapi dunia perempuan, tetapi juga memperlihatkan kematangannya menggunakan teknik dan gaya bertuturnya. Sebelumnya, Titis juga dinominekan sebagai pemenang Hadiah Sastra Asean (Sea Write Award) bersama N. Riantiarno dan Wing Kardjo.

Jika dibandingkan dengan sastrawan perempuan lainnya—bahkan juga dengan sebagian besar sastrawan Indonesia—Titis di akhir tahun 1990-an itu tergolong sastrawan yang paling produktif. Dalam waktu dua tahun, ia berhasil menyelesaikan lebih dari 17 novel yang relatif tebal. Dengan demikian, hingga sekarang Titis telah menghasilkan lebih dari 20-an novel. Karya novelnya yang lain adalah Aku Kendalikan Air, Api, Angin, dan Tanah (1998), Aku Supiah Istri Hardhian (1998), Tangan-Tangan Kehidupan (1998), Terjalnya Gunung Batu (1998), Tersenyum pun Tidak Untukku Lagi (1998), Bila Binatang Buas Pindah Habitat (1999), Mawar Hitam Milik Laras (1999), dan Garis Lurus, Garis Lengkung (2000).

Karya Titis "Meja Gambar" diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi The Drafting Table oleh Claine Sivensen dan diterbitkan oleh Yayasan Lontar.

Kini selain menulis, Titis Basino juga aktif sebagai Anggota Dewan Pengawas Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin. Bersama-sama dengan teman-teman di PDS H.B. Jassin, ia mencurahkan perhatian untuk melanjutkan kerja besar yang telah diwariskan oleh H.B. Jassin terhadap khazanah sastra Indonesia.