Tempo

(1971—…)
Media Penyebar/Penerbit Sastra

Tempo merupakan majalah berita mingguan umum yang terbit setiap hari Sabtu. Majalah ini dikelola oleh para jurnalis yang di antaranya juga dikenal sebagai sastrawan. Majalah Tempo tersimpan di Perpustakaan Nasional dengan nomor katalog: 3353. Ketika pertama kali terbit, Februari 1971 yang tampak di antara para pengelolanya adalah terutama nama-nama sastrawan, yaitu Ketua Dewan Redaksi: Goenawan Mohamad, Wakil Ketua: Bur Rasuanto, Redaktur Pelaksana: Usamah, dan Anggota: Sju'bah Asa, Putu Widjaya, dan Isma Savitri. Adapun Pemimpin Umum: Goenawan Mohamad, Wakil Pemimpin Umum: Fikri Jufri. Alamat Redaksi: Jalan Senen Raya 83, Jakarta, Penerbit: Yayasan Jaya Raya, Pencetak: PT Dian Rakyat. Susunan redaksi Tempo selalu berubah. Pada tahun 1985 pengelola majalah ini terdiri atas Pemimpin Redaksi: Goenawan Mohamad, Wakil Pemimpin Redaksi: Fikri Jufri, Wakil Redaktur Eksekutif: Herry Komar, Redaktur Pelaksana Kompartemen: A. Margana, Bambang Bujono, Isma Savitri, Karni Ilyas, Putu Setia, serta Zakaria M. Passe, dan Sidang Redaksi: Agus Basri, Aries Margono, Budiman S. Hartojo, Budi Kusuma, Didi Prambadi, Diah Purnomowati, Ed Zoelverdi, dan lain-lain. Penerbitnya pun berubah, yaitu Grafiti Pers dan dicetak oleh Temprint Jakarta dengan alamat redaksi: Gedung TEMPO, Jalan H.R. Rasuna Said Kav. C-17, Kuningan, Jakarta 12940.

Pemilihan kata "Tempo" didasarkan atas beberapa alasan, antara lain (1) nama itu singkat dan bersahaja, enak diucapkan oleh lidah orang Indonesia dari segala jurusan, (2) nama itu terdengar netral, tidak mengejutkan ataupun merangsang, dan (3) nama itu bukan simbol suatu golongan. Ada beberapa konsep yang diterapkan dalam majalah Tempo, antara lain menghidangkan informasi yang akurat dan objektif yang meliputi semua bidang; ditulis dalam bahasa Indonesia yang segar, bersih, tapi ringan yang dihiasai gambar-gambar menarik dan terang; menggunakan teknik cetak termodern; dan diasuh oleh tenaga-tenaga yang mengerti apa yang diperlukan di Indonesia sekarang dibidang bacaan.

Nomor pertama majalah Tempo diterbitkan dalam satu publikasi yang diberi nama "nomor perkenalan". Sekitar tahun 1982 Tempo pernah ditutup untuk sementara ketika menulis peristiwa kerusuhan kampanye pemilu di lapangan Banteng, sedangkan kematiannya terjadi pada bulan-bulan pertama (Februari) tahun 1994 akibat pembredelan oleh pemerintah Presiden B.J. Habibie gara-gara menurunkan berita tentang pembelian kapal perang bekas atas perintah Habibie sehingga mengakibatkan kesalahpahaman antara Menhankam dan Presiden. Lima tahun kemudian pada saat pemerintahan Gus Dur Tempo terbit kembali pada No. 1/XXIV/6—12 Maret 2000 dengan susunan redaksi, yaitu Pimpinan Umum: Fikri Jufri, Pimpinan Perusahaan: Zulkifli Lubis, Pimpinan Redaksi: Bambang Harymurti, Redaksi Eksekutif: Toriq Hadad, Redaktur Senior: Goenawan Mohamad, Isma Sawitri, Putu Setia, S. Prinka, Redaktur Pelaksana: Dwi Setjo Irawanto, Farid Gaban, Gabriel Sugrahetty Dyan K, Happy Sulistyadi, Leila S. Chudori, dan Rustam F. Mandayun. Alamat redaksi terletak di Jalan Proklamasi No. 72, Jakarta 10320 sampai sekarang. Penerbit: PT Arsa Raya Persada dan dicetak oleh PT. Dian Rakyat.

Komitmen Tempo yang ingin menumbuhkan komunikasi bukan saja antargolongan di masyarakat, melainkan juga antara pelbagai bidang kehidupan sebagaimana tampak dalam pelbagai rubriknya. Komitmen ini cukup memberikan peran bagi perkembangan bidang masing-masing, termasuk perkembangan kesenian dan kebudayaan umumnya atau kesusastraan di Indonesia khususnya.

Nama-nama rubrik dalam majalah Tempo terus berubah atau bertambah sesuai dengan kebutuhan. Pada tahun pertama (1971) terdapat rubrik Laporan Utama, Ekonomi, Film, Ilustrasi, Internasional, Kota & Desa, Nasional, Pokok & Tokoh, Buku, Seni, dan Teater. Ketika menginjak pembaharuan SIUPP tahun 1985 nama-nama rubrik mengalami penambahan rubrik baru seperti Agama, Agenda, Album, Catatan Pinggir, Hiburan, Hukum, Ilmu & Teknologi, Indonesiana, Kesehatan, Kolom, Komentar, Kontak Pembaca, Kriminalitas, Lingkungan, Luar Negeri, Musik, Olah Raga, dan Sudut dari Redaksi, Duniasiana, Pendidikan, dan Tari. Pada tahun 1990-an terdapat nama-nama rubrik baru seperti Rehal, Selingan, Perilaku, Inovasi, Komputer, Opini, Tari, Iqra, Wawancara, dan Kesehatan. Manfaat utama majalah ini terletak pada pemberitaannya baik bersifat aktual maupun review, yang benar-benar berdasarkan fakta serta terlebih dulu melalui proses cek and recek sehingga berita yang disajikan bisa berfungsi sebagai dokumen dan menjadi bahan sejarah. Salah satu tulisan khas yang menjadi ciri majalah Tempo adalah rublik Catatan Pinggir yang selalu ditulis oleh Goenawan Mohamad sebagai salah satu redaktur senior.

Media ini dapat dikatakan bersifat ilmiah populer. Sasaran pembaca majalah ini kaum terpelajar yang paham pengetahuan sampai para pakar yang peduli pada bidangnya masing-masing atau kaum intelektual. Majalah ini mempunyai moto yang benar-benar cocok ketika tahun 1990-an menemukan ungkapan "enak dibaca dan perlu" untuk kalimat persuasi dalam promosinya (iklan). Redaksi menganggap bahasa sebagai faktor penting untuk menyampaikan informasi dalam ragam jurnalistik sehingga diadakan Redaktur Bahasa yang dipegang oleh Slamet Djabarudi. Para pengelola menyatakan bahwa seluruh bahan bacaan dalam majalah Tempo ditulis dalam bahasa Indonesia yang segar, bersih, tapi ringan, sebagaimana diungkapkan dalam 'iklan persuasi' pada Nomor Perkenalan itu (1971:4), demi menghindari pembaca dari beban-beban yang kurang perlu. "Memang sudah merupakan maksud kami, untuk mengajak para pembaca mengikuti peristiwa yang berlangsung di setiap lapangan hidup, problem yang menuntut pemecahan, serta perbedaan-perbedaan pendapat yang menghendaki toleransi. Ke arah tujuan tersebut, kami memasak suatu gaya penyajian yang khusus. Redaksi selalu berusaha mempergunakan bahasa yang cerah dan segar, kocak dan enak--karena kami berpendapat bahwa memberi informasi tidak sama dengan membebani pembaca dengan kejengkelan."

Surat pembaca yang dimuat dalam majalah Tempo berasal dari berbagai kota, seperti Surabaya, Rembang, Palembang, Sulawesi Tenggara, Pematang Siantar, Samarinda, Ujungpandang, Aceh, Belitung, Kediri, Magelang, Yogyakarta, dan Riau. Kota-kota tempat agen majalah ini, khususnya di Pulau Sumatera, adalah Tanjungkarang, Bengkulu, Melaboh, Batusangkar, Medan, Bukittinggi, Jambi, Padang, Payahkumbuh, Palembang, Pangkalpinang, dan Pekanbaru.

Ada beberapa karya sastra berupa esai yang pernah dimuat dalam majalah Tempo, antara lain puisi "Bulan Ruwah" karya Subagio Sastrowardojo (1 September 1973) dan "Tempo" anonim, (8 September 1973). Esai drama, antara lain "WS. Rendra, Ini Kali" oleh Yusril Djalinus, (20 Mei 1972), "Teater Keplokan Jujur" anonim, (10 Juni 1972), "Penonton Dapat Duit Tidak" oleh (Rahman, 17 Juni 1972), "Habis Manis Sepah Ditelan Jejak Komedi Rakyat" anonim, (17 Juli 1972), "Jawa di Mata Laksus" oleh Subagio Sastrowardojo, (1 September 1973), "Godot Tanpa ha.ha.ha" oleh redaksi, (6 Oktober 1973), "Bukan Sandiwara Ketawa-Ketawa" oleh Sjubah Asa, (20 Oktober 1973), "Cerita buat Orang Saleh" oleh Sjubah Asa, (3 November 1973), "Sang Penyair dan Sang Panglima" oleh Goenawan Mohamad, (24 November 1973), "Pementasan Nyonya dan Nyonya" oleh Sjubah Asa, (16 Juni 1974), "Salman dan Teater Wadag" oleh Sjubah Asa, (13 Juli 1973), "Pak Dullah dan Raden Sastro" oleh Sjubah Asa, (27 Juli 1974), "Orkes Cemplang-Cemplung" oleh Sjubah Asa, (4 Mei 1974), "Sebuah Stop untuk Arifin" redaksi, (4 Mei 1974), "Satu Tahun Marliyah" redaksi, (22 Juni 1974), "Euripides yang Tak Disi" oleh Ikranegara, (12 April 1975), "Mega-Mega di Malaysia" oleh Sori Siregar, (10 Mei 1975), "Menjual Suriname" oleh Putu Wijaya, (17 Mei 1975), "Topeng-Topeng Telanjang" oleh Ikranegara, (26 Juli 1975), "Teater Entah" oleh Goenawan Mohammad, (3 Mei 1973), "Teater Lapang Dada" redaksi, (3 Mei 1975), "Mengapa Rendra? Mengapa Bukan Rendra?" redaksi, (23 Agustus 1975), "Halo-Haleluya-nya Rendra" oleh Th. Sumartana, (23 Agustus 1975), "Teater Goro-Goro Rendra 1957" oleh Rendra, (30 Agustus 1975), "Raja Mati, Lunglai" oleh Zakaria M. Passe, (11 Januari 1975),

Tempo mengalami perkembangan dengan pesat. Pada tahun 1998,Tempo menerbitakan majalah Tempo versi digital. Tempo Digital berisikan edisi majalah selama satu tahun dalam bentuk CD dengan harga Rp35.000. Pada tanggal 12 September 2000 Tempo menerbitkan majalah dalam bahasa Ingris yang diberi nama Tempo Magazine. Pada tanggal 2 April 2001 menerbitkan Koran Tempo dengan tiras 100.000 perhari dengan harga Rp2300,00. Tahun 2005 Tempo meluncurkan Tempo Interaktif yang menggunakan teknologi internet sebagai medianya.