Teater Minikata

Gejala Sastra

Teater Minikata merupakan seni pertunjukan teater yang sedikit sekali menggunakan dialog. Istilah itu dilontarkan oleh Gunawan Mohammad dalam menanggapi pementasan teater Rendra (1968), "Bip Bop" dan "Rambate-Rate Rata". Pementasan drama yang dilakukan W.S. Rendra dengan "Bengkel Teater"-nya pada nomor pementasan "Bip Bop" dan Rambate-Rate Rata" itu sedikit sekali menggunakan kata. Pementasan itu lebih banyak mempergunakan gerak atau improvisasi yang dilakukan secara spontan. Pendapat Goenawan Mohamad itu disampaikan dalam sebuah esai yang berjudul "Mengapa Minikata?" (Kompas, 28 Juni 1969). Istilah itu kemudian dikemukakan pula oleh Goenawan Mohamad dalam makalahnya yang berjudul "Sebuah Pembelaan untuk Teater Indonesia Mutakhir" yang disampaikan pada acara diskusi sastra di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, 27 November 1973, dan kemudian dimuat dalam buku Seks, Sastra, Kita (1980).

Setelah kembali dari studinya di Amerika, pada tahun 1968, Rendra bersama kelompok Bengkel Teater mencipta suatu pertunjukan teater nonverbal dan nonlinear yang dikenal dengan nama 'Mini Kata', selanjutnya disebut dengan MK. Teater M K mengubah bentuk pertunjukan teater Indonesia ke arah pembaruan. Peristiwa politik dan sosial yang terjadi di Indonesia memberi inspirasi kuat pada hadirnya MK. Di Amerika pada tahun 1960-an juga terjadi bentuk estetis yang bergolak. Teater MK maksi dalam kata tetapi maksi dalam makna. Sedikit ujaran dan kaya gerak tubuh ciptaan aktor yang memiliki makna berlapis-lapis. Suatu penyadaran akan keterbatasan dunia verbal, yaitu sebuah kehendak puisi untuk menghindarkan diri dari kecerewetan kata-kata, sedapat mungkin langsung menggambarkan suatu situasi. Pada waktu itu pertama kali penonton menyaksikan teater modern tanpa naskah. Pemberontakan dan pembaruan Rendra melalui MK drama relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia pada saat itu, yaitu pemberontakan terhadap nilai-nilai kehidupan yang dianggap mandeg dan pembatasan nilai-nilai sosial sebagai antisipasi terhadap kebobrokan sosial. Selain itu, gagasan urakan yang ditawarkannya menjadi bermakna di tengah tradisi Jawa yang hanya mementingkan tata krama dan sopan santun tanpa mengindahkan pemahaman didaktis dari penggemarnya.

Teater Minikata W.S. Rendra diawali dengan semacam keyakinan yang sama seperti yang dimiliki Ron Tavel, yaitu keyakinan kepada kemampuan faktor aktor di atas pentas. Aktor bukanlah mesin kata-kata, tetapi dia adalah artis. Di atas segalanya, aktor menjadi pusat perhatian dan tumpuan harapan seni pertunjukan. Teater yang kurang atau sedikit sekali didukung oleh bentuk plot kata-kata, tetapi dipenuhi oleh gerak, menjadikan unsur kata tidak mutlak ada dan posisi kata tidak dominan dalam sejarah sebuah pertunjukan teater. Teater minikata, dalam pelatihan, bukanlah murni kreativitas Rendra, tetapi hasil dari suatu forum bersama anggota Bengkel Teater mengembangkan ide. Sebelum MK hadir, Teater Indonesia didominasi oleh bentuk pertunjukan teater realisme yang dibentuk oleh sekolah tinggi teknik, sekolah putri, sekolah seni drama di film, dan Fakultet Sastra, Pedagogi dan Filsafat UGM.

Berdasarkan pendapat Goenawan Mohamad itu apa yang dinamakan teater minikata hanya ada dalam dua pementasan teater Rendra, "Bib-bob" dan "Rambate-Rate Rata". Pementasan teater lain tidak ada yang serupa dengan teater Rendra itu. Istilah minikata belum ada yang serupa dengan teater Rendra itu. Bahkan, yang menggunakan untuk bentuk pementasan yang lain pun belum ada. Istilah minikata bukan terjemahan dari istilah pantonim karena pantomim hanya menggunakan gerak-gerik yang diiringi dengan suara musik, tetapi tanpa menggunakan kata-kata. Istilah lain untuk minikata adalah teater murni (menurut Subagio Sastrowardojo), teater primitif (menurut Arifin C. Noer), dan teater puisi (menurut Dami N. Toda). Metode penciptaan MK merupakan langkah-langkah mengenali potensi energi alam bagi pelatihan tubuh. Untuk itu, diperlukan pilihan tempat yang baik seperti di Parangtritis. Teknik minikata adalah "gerak indah", bukan gerak tari, tetapi gerak tanpa struktur. Intinya berangkat dari spontanitas dan improvisasi dalam rangka menanggapi rangsangan dari luar kata-kata diungkapkan secara minim dan berfungsi mengekpresikan imaji.