Serambi Indonesia

(1989—...)
Media Penyebar/Penerbit Sastra

Serambi Indonesia dirintis dan didirikan oleh M. Nourhalidyn dan H. Sjamsul Kahar. Terbit perdana pada 9 Februari 1989 dengan SIUPP No. 087/SK/Menpen/ SIUPP/A/7/1986. ISSN: 0852-6621, penerbit PT Aceh Media Grafika.

Serambi Indonesia semula bernama mingguan Mimbar Swadaya yang dipimpin oleh M. Nourhalidyn(1943-2000) yang berdiri pada 1970-an. Pada tanggal 9 Februari 1989, mingguan Mimbar Swadaya menjadi harian Serambi Indonesia. M Nourhalidyn duduk sebagai Pemimpin Umum dan Sjamsul Kahar(wartawan Kompas di Aceh) sebagai Pemimpin Redaksi. Serambisempat berhenti terbit karena diancam oleh Gerakan Aceh Merdeka. Meraka menganggap berita-beritanya dianggap lebih menguntungkan pihak TNI. Namun, hal itu dapat dilaluinya.

Pada saat tsunami menerjang Aceh pada 26 Desember 2004, koran ikut menjadi korban. Kantornya dan mesin cetaknya di kawasan Desa Baet, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, hancur. Lebih kurang 55 karyawan, 13 diantaranya adalah redaktur dan wartawan senior hilang. Mereka pun terpaksa berhenti terbit. Namun, pada 1 Januari 2005, koran ini kembali terbit.

Kantor yang baru berada di kawasan Bandara Lambaro, Aceh Besar, Banda Aceh telah merekrut tenaga redaksi baru. Kini harian yang bertiras 35 ribu eksemplar per hari itu dipimpin oleh Sjamsul Kahar, sebagai Pemimpin Umum dan Mawardi Ibrahim, sebagai Pemimpin Redaksi.

Harian Serambi Indonesia terbit setiap hari dengan jumlah 24 halaman. Dalam penyajiannya, harian ini menampilkan rubrik-rubrik yang berkaitan dengan berbagai persoalan, meliputi ekonomi dan bisnis, politik, Internasional, olahraga, daerah, dan budaya. Sebagai surat kabar daerah yang porsi halamannya lebih banyak melaporkan peristiwa daerah, Serambi Indonesia juga peduli untuk mengetengahkan persoalan-persoalan budaya yang dihadirkan setiap hari minggu baik berupa cerita pendek maupun esai-sai kebudayaan. Tulisan-tulisan tersebut bukan ditempatkan secara khusus pada sebuah rubrik budaya, melainkan tetap mengisi pada rubrik opini, hanya warna tulisannya saja yang dibedakan.

Setelah kantor redaksi harian Serambi Indonesia terkena bencana alam tsunami, dan Redaktur Budayanya meninggal dunia, di harian Serambi Indonesia tiada lagi rubrik yang secara khusus yang memuat tulisan-tulisan berupa karya sastra. Jika ada cerpen yang dimuat pada setiap terbitan hari Minggu, namun cerpen tersebut bukan dimuat di rubrik budaya, akan tetapi dimunculkan di rubrik opini mendampingi artikel-artikel yang berbicara tentang budaya secara universal. Kendati demikian, tampaknya apa yang dilakukan Redaktur Opini harian Serambi Indonesia yakni dengan menampilkan cerpen secara rutin pada setiap edisi Minggu bisa jadi merupakan sebuah pertanda baik untuk dibukanya sebuah rubrik khusus untuk tulisan-tulisan berupa karya sastra.