Sastra Kontekstual

Gejala Sastra

Sastra Kontekstual merupakan sastra yang menyuarakan manusia dan persoalan zamannya atau yang mengungkapkan konteks zamannya. Dalam sastra kontekstual, tercermin realitas zaman dan kehidupan sosial zaman yang bersangkutan. Dengan sastra kontekstual, akan terbaca dan terdengar suara manusia zamannya itu yang dibatasi oleh waktu dan lingkungan tertentu.

Menurut Arief Budiman (Minggu, 6 Januari 1985), sastra kontekstual adalah sastra yang tidak mengakui keuniversalan nilai-nilai kesusastraan, melainkan hanya mengakui nilai-nilai sastra, terikat oleh waktu dan tempat. Dalam bayangan Arief Budiman kesusastraan Indonesia modern selama ini sudah terlalu lama dicekoki kriteria estetisme dan universalisme kelas menengah Barat sehingga menjadi begitu berat sebelah menganggap hanya yang ditulis dengan selera begitulah yang pantas dianggap sastra. Padahal, sastra yang demikian hanya mewakili pandangan serta selera kelas menengah kota Indonesia yang kebarat-baratan itu.

Jacob Sumardjo (Kompas, 23 Juni 1985) menegaskan bahwa munculnya gagasan "sastra kontekstual" akhir-akhir ini menarik perhatian, bukan karena ribut-ributnya, tetapi karena mengundang pertanyaan: mengapa gagasan itu bisa timbul? Sastra, kontekstual itu menarik karena memperhitungkan konteks sosial, konteks geografis, dan konteks historis sebagai sebab utama timbulnya sastra, dan bukan faktor kesekian dari sastra. Penulis bukan berasal dari kelompok gagasan, ini tetapi mereka hanya ingin mencoba menjawab secara empiris mengapa gagasan semacam itu bisa timbul. Jadi, kalau sastra kontekstual seperti diinginkan oleh kaum pencetusnya mau nyata di Indonesia, syarat-syarat yang membentuk kondisi itu harus dibangun, yakni domisili sastrawan-sastrawan nasional yang cukup banyak dalam konteks yang dimaksud. Kedua, dibangun pusat penerbitan besar dengan para sastrawan senior atau dibangunnya pusat-pusat kesenian dengan modal yang cukup. Ketiga, pusat baru itu harus memiliki mekanisme komunikasi secara nasional, seperti Jakarta. Dengan demikian, dalam benak kita terbayang bahwa sastrawan-sastrawan semacam Arifin C Noer, Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi W.M., dan Rendra berdomisili di Medan atau Ujung Pandang dengan memiliki TIM, Kompas, dan Horison, bahkan Tempo atau Femina terbit di kota-kota propinsi itu. Kalau demikian kondisinya, tentu akan muncul sastra kontekstual yang berbeda dengan konteks Jakarta.

Menurut Ariel Haryanto (Pikiran Rakyat, 21—22, Mei 1985), apa yang belakangan disebut-sebut "sastra kontekstual" akan lebih jelas disebut "pemahaman atas kesusastraan secara kontekstual", yakni pemahaman atas kesusastraan dalam kaitannya dengan konteks sosial-historis yang bersangkutan. Untuk singkatnya, pemahaman seperti itu selanjutnya disebut pemahaman kontekstual. Pemahaman itu muncul belakangan ini sebagai sebagai salah satu perlawanan awal terhadap paham universal yang kini dominan dalam kesusastraan Indonesia. Dalam paham universal, konteks kesusastraan dianggap tidak penting atau dianggap tidak sepenting "kesusastraan" itu "sendiri". Perbedaan kedua paham itu bukan sekadar perbedaan dua macam selera berkesusastraan, melainkan perbedaan pemahaman tentang kehidupan sosial serta sikap dan tindakan masyarakat. Oleh karena itu, perlawanan paham kontekstual tidak hanya tertuju pada persoalan kesusastraan itu "sendiri" saja.

Penulisan karya sastra memang harus diarahkan kepada pencapaian yang indah. Akan tetapi, persoalannya adalah apakah yang disebut indah itu sama untuk semua orang. Di sinilah muncul gagasan tentang apa yang disebut sebagai sastra kontekstual. Untuk itu, perlu ditegaskan ihwal 'yang indah' dan 'yang berarti'. Yang indah memberi kesan nilai yang indrawi, sedangkan yang berarti mengandung pengertian yang lebih luas. Sastra yang baik adalah sastra yang berarti bagi seseorang. Apakah arti sastra tersebut didasarkan pada rasa keindahan, atau rasa pengalaman relegius, atau rasa rangsangan untuk lebih bersemangat dalam menghadapi hidup yang berat ini, semua ini terpulang kembali pada si penikmat sastra. Sastra yang baik jadinya adalah sastra yang punya arti bagi penikmatnya. Itulah yang menjadi gagasan dasar Arief Budiman.

Pendekatan tentang sastra kontekstual selama paruh pertama tahun 1985 disebabkan tiga faktor, yaitu momen historis yang tepat, penampilan seorang (yang dapat dibedakan dari orangnya sendiri) Arief Budiman di garis depan perdebatan, dan dukungan media massa cetak dari kota-kota besar di Pulau Jawa, khususnya bagian barat dan tengah.