Sastra Kitsch

Gejala Sastra

Karya seni tanpa nilai seni biasa disebut sebagai kitsch, suatu bentuk vulgaritas dan pandangan dalam bahasa. Kitsch, menurut Sapardi Djoko Damono, merupakan sebuah istilah umum yang dikenakan pada karya tiruan yang mengambil bahan dari kesan yang sejati yang dibuat atau disusun untuk memenuhi selera masyarakat luas namun tidak peka terhadap inti kesan. Pada abad ke-19 pengertian kitsch rapat dengan seni yang sentimental dan cengeng yang juga menunjuk pada seni yang tidak sempurna. Kata kitsch dipakai untuk memadai karya seni, karya sastra, busana dan yang lainnya yang bercita rasa vulgar, sentimental, atau kadang-kadang megah mewah. Kitsch bersandar pada formula, pengulangan konvensi dan kosong dari kreativitas dan keorisinalan seni sejati. Kitsch adalah istilah yang berasal dari bahasa Jerman dari kata verkitschen yang berarti "yang termurah" atau mengacu pada kata kitschen yang artinya "mengumpulkan uang berlumpur dari jalanan". Juga untuk menunjuk pada objek yang miskin cita rasa dan juga miskin kualitas sehingga disebut sampah artistik. Karya-karya yang tergolong pada kitsch dihasilkan untuk memenuhi selera massa, misalnya terdapat pada barang-barang souvenir yang selalu mengacu pada cita rasa yang jelek. Kata ini mulai dikenal di pasar seni Munich pada tahun 1860-an sampai 1870-an untuk menamai gambar-gambar atau sketsa-sketsa murahan yang sangat disukai di pasaran. Kitsch merupakan karya-karya yang muncul dalam lingkungan borjuasi di Jerman yang merupakan orang kaya baru. Orang-orang ini adalah sebuah kelas sosial baru yang merasa iri pada kesan elit dan kesan tradisional/klasik. Mereka kemudian menciptakan karya sendiri yang lebih menjadi identitas kelas mereka. Sebuah karya yang digolongkan sebagai karya kitsch dapat dinyatakan sebagai karya yang memiliki nilai estetik yang miskin dan nilai moral yang diragukan. Pada tahun 1930-an Theodor Adorno, Herman Broch, dan Clement Greenberg memperlawankan pengertian avant garde dan kitsch.

Adorno menamai kitsch sebagai industri yang mengacu pada pengertian karya-karya yang terkontrol dan formulaik yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan pasar dan memberikan masukan pada masyarakat yang pasif. Adorno juga mengklaim bahwa kitsch adalah parodi dari katarsis dan parodi kesadaran estetik. Broch mengatakan kitsch adalah kejahatan dengan menggunakan sistem nilai kesan dengan kata lain kesenian atau kesan bahwa kebaikan sementara kitsch adalah kejahatan. Apabila kesenian itu kreatif, kitsch tergantung semata-mata pada perampasan kesenian kreatif yang ditirunya. Bagi Broch kitsch tidak sama dengan seni yang buruk. Kitsch mencoba untuk meniru keindahan tanpa kebenaran.

Pada tahun 1980-an saat timbulnya atau munculnya postmodernism batas antara kitsch dan seni tinggi menjadi kabur. Pada masa itu berkembang sebuah pengertian yang berasal dari istilah "camp taste". Camp menunjuk pada ironi apresiasi yang rendah nilainya yang salah satunya dicontohkan adalah kitsch. Kata camp diturunkan dari kata slang bahasa Perancis camper yang berarti "bersikap pada kebiasaan yang melebih-lebihkan". Susan Sontag mengatakan bahwa camp adalah sebuah atraksi untuk menunjukkan kualitas kemanusiaan itu sendiri yang menunjukkan kegagalan dari kesungguhan hati yang menunjukkan sebagian kualitas gaya yang unik dan mencerminkan bagian yang paling sensitif. Camp adalah sebuah kebohongan yang merupakan tantangan untuk sebuah kebenaran. Dari istilah tersebut kemudian muncul pemahaman yang disampaikan oleh Nerdrum bahwa seni melayani publik, kitsch melayani ekspresi personal; seni melayani politik sementara itu kitsch murni sensual 'bakat telanjang yang memposisikan diri sendiri'. Nedrum menyatakan bahwa seni ada untuk dirinya sendiri dan ditujukan untuk publik. Kitsch melayani kehidupan dan ditujukan untuk kemanusiaan. Nedrum sampai pada pemahaman tersebut berasal dari pemikirannya bahwa kariernya dan juga karier dari banyak pekerja seni yang mapan tergantung pada ekspresi individual. Oleh sebab itu, dia lebih senang dikatakan sebagai pelukis kitsch daripada seorang pelukis karena menurutnya kerja kesenian itu adalah kerja kitsch. Oleh sebab itu, postmodernism yang memegang konsep camp taste dan memegang pengertian kitsch sebagai ironi dari kegagalan kesungguhan hati menunjukkan bahwa kitsch pada kenyataannya terlihat sebagai sebuah kenyataan dan sungguh-sungguh sebuah ekspresi keindahan. Namun, pada kasus yang lain, sangat sulit untuk menggabungkan kitsch dengan seni, kata kitsch tetap dipakai untuk memadai cita rasa yang jelek.