Sanoesi Pane

(1905—1968)
Pengarang

Sanoesi Pane terkenal sebagai sastrawan Angkatan Pujangga Baru, lahir di Muara Sipongi, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, 14 November 1905, dan meninggal di Jakarta, 2 Januari 1968. Kakak kandung Armijn Pane ini mempunyai seorang istri dan enam orang anak. Salah seorang anaknya, Nina Pane mempunyai putra yang bernama Andre Aksana juga menjadi novelis.

Pendidikan Sanoesi Pane diawali dengan bersekolah Hollands Inlandse School (HIS) di Padang Sidempuan kemudian pindah ke Tanjung Balai lalu masuk Europeesche Lager School (ELS) di Sibolga, Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Padang, dan diselesaikan di Jakarta tahun 1922. Selanjutnya ia masuk Kweekschool di Jakarta dan lulus 1925 serta melanjutkan ke Sekolah Hakim Tinggi juga di Jakarta (hanya setahun) kemudian memperdalam pengetahuannya tentang kebudayaan Hindu di Inia (1929—1930).

Mula-mula Sanoesi Pane bekerja sebagai guru di Kweekschool Gunung Sahari, Jakarta, lalu pindah ke HIK Lembang, pindah lagi ke HIK Gubernemen Bandung kemudian pindah di Sekolah Menengah Perguruan Rakyat, Jakarta. Karena aktif dalam Partai Nasional Indonesia, ia pernah dipecat sebagai guru. Sanoesi Pane juga aktif dalam organisasi Jong Sumatra dan Gerindo. Dia pernah menjadi redaktur majalah Timboel (1931—1933), harian Kebangoenan (1936)—yaitu surat kabar berbahasa Melayu-Tionghoa—dan redaktur Balai Pustaka (1941). Sanoesi Pane menjabat sebagai redaktur kepala di bagian buku Melayu bersama-sama dengan Sutan Takdir Alisjahbana dan kawan-kawan. Dia mendirikan dan mengelola majalah Poedjangga Baroe dengan kedudukan sebagai pembantu umum. Atas jasa-jasanya di bidang sastra, pada tahun 1969–-setahun setelah Sanoesi Pane meninggal dunia—Pemerintah Republik Indonesia memberikan Hadiah Sastra bersama beberapa sastrawan lainnya yang sama-sama telah meninggal dunia, yaitu Marah Rusli, Abdul Muis, Amir Hamzah, Armijn Pane, dan Chairil Anwar.

Sanoesi Pane bersama Muhammad Yamin banyak menggali sumber sejarah dan mengangkat tradisi lama ke dalam karyanya. Puisi-puisi karya Sanoesi Pane memperlihatkan persentuhan dengan ajaran theosofi dan filsafat Hindu. Sementara itu, karya dramanya umumnya menggali peristiwa sejarah seperti ditemukan pada drama Kertajaya dan Sandhyakala ning Majapahit, kecuali dramanya Manusia Baru yang mengangkat latar Inia modern. Beberapa ahli menggelompokkan Sanoesi Pane ke dalam kelompok pengarang Angkatan Pujangga Baru. Sebenarnya Sanoesi Pane berada pada perbatasan antara angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru. Di satu sisi model puisi-puisi awalnya masih terikat dengan bentuk soneta, seperti yang dilakukan Muhammad Yamin, tetapi di sisi lain ia menulis karya drama yang mencerminkan idealisme Pujangga Baru.

Kumpulan sajak pertamanya berjudul Pancaran Cinta terbit tahun 1926, menyusul kemudian kumpulan sajak Puspa Mega (1927), drama Airlangga (1928, dan yang drama Burung Garuda Terbang Sendiri (1929). Pada tahun 1931 terbit kumpulan sajaknya Madah Kelana yang kemudian disusul drama Kertajaya (1932). Tahun 1933 terbit dramanya Sandyakala ning Majapahit lalu disusul drama Manusia Baru (1940). Tahun itu juga terbit terjemahan Sanoesi Pane, yakni Arjuna Wiwaha (yang diterjemahkan dari bahasa Jawa Kuna karya Mpu Kanwa), disusul buku Sejarah Indonesia (1942), Bunga Rampai dari Hikayat Lama (1946, terjemahan dari bahasa Jawa Kuna), Indonesia Sepanjang Masa (1952), dan kumpulan puisi Gamelan Jiwa yang terbit tahun 1960.

Karya sastra Sanoesi Pane tersebar di berbagai media massa, antara lain drama dalam majalah Timboel berjudul "Airlangga" (No.2 s.d 10 Th.2, 1929), "Damar Wulan" (No.6, 7, 9, 11, 14, 25 Th.3, 1929), "Eenzame Garoedavlucht" (No.6, 7, 8 Th.5, 1931), "Kertajaya" (No.4-5 Th.6, 1932), "Sandyakala ning Majapahit" (No.1-2, 3-4, 5-6 Th.7, 1933); dalam majalah Poedjangga Baroe berjudul "Kertajaya" (No.3, 4-5-6 Th.6, 1938) dan "Manusia Baru" (No.5 Th.8, 1940). Puisi-puisinya terbit dalam majalah Jong Sumatra, yakni "Tanah Airku" (No.9 Th.4, 1921); dalam majalah Timboel berjudul "Bertemu" (No.1 Th.6, 1932), "Doa", "Marhaen" (No.2 Th.6, 1932), "Laksmi", dan "Penjunjung Bumi" (No.3 Th.6, 1932); dalam majalah Poedjangga Baroe berjudul "Rindu (No.6 Th.1, 1933); dalam majalah Medan Bahasa berjudul "Sumpah Sakti", "Kupu Malam", dan "Do'a" (No.1-2 Th.5, 1955). Prosanya dalam Pandji Poestaka berjudul "Lukisan Rumah" (No.11-12 Th.10, 1932); dalam majalah Gema Suasana berjudul "Pelanduk Jenaka Menundukkan Raja Gajah" (No.7 Th.1, 1948).

Teeuw (1952) menyebut Sanusi Pane sebagai orang penting ketiga dari golongan Pujangga Baru setelah Takdir dan Amir Hamzah. Lebih lanjut, dinyatakan bahwa tidak mudah bagi kita mendapatkan garis nyata dalam karangan-karangan Sanusi Pane. Namun, jelas bahwa Sanusi Pane tergolong pengarang Pujangga baru yang mempertahankan otonomi bagi seni dan seniman dengan menyatakan bahwa bentuk-bentuk tidak takluk kepada jiwa, tetapi bentuk jiwa itu adalah satu.