Sandiwara Miss Tjitjih

(1930)
Lembaga Sastra

Sandiwara Miss Tjitjih merupakan kumpulan sandiwara profesional berbahasa Sunda yang munculnya pada tahun 1930-an. Sandiwara Miss Tjitjih diambil dari nama Tjitjih, seniwati (sinden, penyanyi lagu-lagu Sunda, penari, dan pemain sandiwara Sunda). Ayahnya, Uta Murta, petani dan juga tukang kayu. Ibunya, Neno berasal dari kampung Regol, di belakang pendopo Kabupaten Sumedang. Tjitjih yang memiliki bakat seni itu dibesarkan dalam lingkungan masyarakat sekitar pendopo kabupaten. Ia sering dipanggil ke pendopo kabupaten untuk mempertunjukkan kemampuannya dalam seni suara dan seni tari di hadapan tamu-tamu bupati. Pendidikannya hanya sampai Sekolah Angka Dua. Perawakannya termasuk kecil, berkulit agak cerah, rambut lurus-halus, mata cerita, tak cantik tapi menarik; sederhana dalam penampilan tapi agak banyak bicara (cerewet).

Tjitjih mulai terjun dalam dunia sandiwara tahun 1926, pada usia 18 tahun. Ia dibawa oleh suaminya, Neneng, bergabung dalam sandiwara Opera Valencia di Bandung yang didirikan tahun 1920 oleh Abubakar Bafagih, keturunan Arab dan Bangil, Jawa Timur. Perkumpulan sandiwara tersebut, yang menggunakan bahasa Melayu sebagai media komunikasinya, memulai kegiatan di Palimanan (Cirebon) karena kepala desa (kuwu) Palimanan menyediakan bekas lumbung padi sebagai tempat pertunjukan. Kemudian berpindah-pindah tempat di Jawa Barat, antara lain di Pamanukan, Karangampel, Lorasang, dan Bandung. Dalam pertunjukan lakon Jula Juli Bintang Tiga di Karangampel dan Lorasang, Tjitjih memerankan Jula-Juli Tiga, tokoh bidadari di kahyangan yang turun ke bumi untuk menyerahkan cincin yang hilang milik seorang pangeran.

Tjitjih menikah lagi dengan Abubakar Bafagih setelah bercerai dengan Neneng. Berkat suaranya yang merdu, tariannya yang menarik, dan aktingnya yang mengagumkan, lama kelamaan Tjitjih menjadi sripanggung dalam perkumpulan sandiwara itu dan dikenal dengan julukan Miss Tjijih (pada masa itu sripanggung sandiwara biasa disebut Miss). Sebelum pertunjukan utama dimulai, ia biasa tampil dalam nyanyian dan tarian. Bukan hanya menyanyikan lagu-lagu keroncong Melayu, melainkan juga tembang Sunda, seperti lagu-lagu: Udanmas, Ceurik Rahwana, Kapati-pati, Ceurik Oma. Tarian yang ditampilkannya, antara lain, adalah tari ronggeng, tari Bali, tari "dansa", dan tari kenken (cancan).

Keterampilan dan kemahiran dalam berakting membuatnya jadi buah bibir masyarakat penggemarnya. Berhubung tokoh Miss Tjitjih dan unsur-unsur seni Sunda (lagu dan tari) yang menjadi penunjang pertunjukan, sandiwara ini populer dan digemari masyarakat. Pada tahun 1928 Opera Valencia melakukan beberapa perubahan. Nama perkumpulan diubah menjadi Miss Tjitjih Toneel Gezelschap (Perkumpulan Tonil Miss Tjitjih). Media komunikasinya memakai bahasa Sunda dan unsur-unsur seni Sunda pun kian menonjol, sehingga dapat dikatakan berubah menjadi pertunjukan seni Sunda, dan merupakan perkumpulan sandiwara Sunda pertama. Perubahan tersebut, yang terjadi di Sukamandi (Subang) tahun 1928 memungkinkan masuknya seniman-seniman Sunda sebagai pendukung pertunjukan seperti Edah, Enah, Suhanda, Suheri, Surya, Kanta, Dudung, Igun (pelawak), Mini, Rokayah.

Perkumpulan sandiwara Miss Tjitjih mengadakan pertunjukan tidak terpaku pada satu tempat, tetapi berkeliling ke berbagai tempat, terutama kota di wilayah Jawa Barat, termasuk Jakarta, dan juga Jawa Tengah. Di tiap tempat, pertunjukan berlangsung selama 1—6 bulan, sejumlah kota dikunjungi beberapa kali. Di daerah pesisir utara tempat-tempat yang dikunjungi adalah Serang, Jakarta, Purwakarta, Kerawang, Cilamaya, Cikampek, Pamanukan, Sukamandi, Cirebon, Palimanan, Losari, Tegal, Pekalongan. Sementara itu, tempat-tempat di daerah pedalaman yang disinggahi antara lain, adalah Kuningan, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Tanjungsari, Cicalengka, Sukabumi, Cisaat, Cianjut, Bogor, Bandung, Majalaya, dan Rangkasbitung. Ada pun lakon-lakon yang biasa dibawakan ialah Gelung Ciyoda (sanggul Ciyoda), Gelung Cianjur (gelung Cianjur), Gejed Milo, Karnadi Bandar Bangkong (Karnadi Saudagar Kodok), Eulis Acih, Gagak Solo, Srigawa, Bentang Jaarbeurs (Bintang Jaarbeurs), Kalepatan Putra Dosana Ibu Rama (Kesalahan anak dosanya orang tua), Mugiri, dan lain-lain, yang sebagian diambil dari karya sastra Sunda. Pertunjukan biasa diadakan di gedung bioskop, alun-alun, pasar, atau lapangan yang kosong. Untuk berpindah-pindah tempat digunakan berbagai macam alat angkut termasuk kereta api. Seringkali pembayaran ongkosnya dilakukan kemudian secara mencicil. Kelompok sandiwara ini pernah diundang untuk mempertunjukan seni tari di Istana Bogor di hadapat Gubernur Jenderal (1931), seni suara (kawih) di pendopo Kabupaten Garut di hadapan Bupati Kartalegawa, di Keraton Kanoman di hadapan Sultan Kanoman (1933), seni sandiwara di pendopo Kabupaten Lebak.

Kecintaan Tjitjih terhadap seni begitu mendalam sehingga kesehatan fisiknya terabaikan dan terkena penyakit paru-paru. Meskipun sutradara yang juga suaminya melarangnya bermain karena kesehatannya terganggu, ia memaksakan diri naik panggung. Pada akhir tahun 1938, ia memerankan tandak dalam lakon Gagak Solo, karya Thio Tik Jin; begitu bagus dan mengesankan penampilan aktingnya. Beberapa bulan kemudian, tepatnya 27 Agustus 1939, ia meninggal di kampung halamannya, di Sumedang. Namun demikian nama Miss Tjitjih diabadikan menjadi nama perkumpulan sandiwara Sunda yang menetap di Jakarta dan tetap tampil sampai sekarang.

Sandiwara Miss Tjitjih mengenyam masa jayanya pada tahun 1940-an. Saat itu rombongan sandiwara ini sudah memiliki tempat pertunjukan, yaitu di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat (dekat Bioskop Rivoli). Di samping mementaskan cerita-cerita roman modern, perkumpulan sandiwara ini pun mengangkat cerita-cerita legenda dari daerah Jawa Barat. Tema cerita yang diangkat umumnya yang berbau misteri dan horor. Sementara itu, bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu pasar yang dicampur bahasa Sunda. Tema cerita dan bahasa yang digunakan ini sudah menjadi "pakem" atau aturan yang tetap yang telah terpola. Menurut Eko Mintarsa (Pos Kota, 1999), yang sudah menjadi sutradara sejak tahun 1974, apabila unsur tersebut diubah, seakan-akan ada sesuatu yang kurang dan terasa hambar.

Sandiwara Miss Tjitjih sudah memiliki penggemar tersendiri. Penggemarnya mayoritas kalangan masyarakat menengah ke bawah. Hal ini menjadi relevan dengan motivasi pendirian sandiwara ini, yaitu ingin menghibur kalangan masyarakat menengah ke bawah. Oleh karena itu, penampilan pemain, cerita, bahasa, bahkan tempatnya sengaja disesuaikan dan disuguhkan untuk kelas tersebut. Menurut Eko lebih lanjut, Miss Tjitjih pernah satu kali berpentas di Gedung Kesenian Jakarta, tetapi pementasan itu dianggap gagal. Kendala datang dari pemain yang merasa canggung bermain di tempat yang mewah dan penonton yang dapat dihitung dengan jari.

Setelah 70 tahun berkiprah di dunia seni pertunjukkan, kondisi Sandiwara Miss Tjitjih agak memprihatinkan. Keprihatinan ini disebabkan sulitnya mendapatkan gedung, mendapatkan pemain, dan semakin kehilangan penontonnya. Setelah panggung tempat pertunjukkan di Cempaka Putih terbakar pada tahun 1997, perkumpulan sandiwara ini sulit mendapatkan tempat yang sesuai dengan dana yang dimiliki. Kemudian, setelah generasi ketiga sandiwara ini mengalami krisis pemain, karena pemain-pemain remaja tidak mendapat pendidikan khusus. Mereka hanya melihat dan mencerna dari yang dilakukan oleh para pemain yang tua-tua.

Mulai April 1998, Sandiwara Miss Tjitjih sudah mendapat tempat untuk sementara, yaitu di gedung Bioskop Berdikari di Teluk Gong, Jakarta Utara. Dalam seminggu hanya tiga kali sandiwara ini berpentas dengan harga karcis tiga ribu rupiah.