Mega-Mega

(1968)
Karya Sastra

Mega-Mega merupakan naskah drama karya Arifin C. Noer. Semula drama ini dimuat dalam majalah sastra Horison selama tiga kali pemuatan, yaitu Nomor 10/III, Oktober 1968, halaman 306—315; Nomor 11/III, November 1968, halaman 341—350; dan Nomor 12/III, Desember 1968, halaman 371—378. Padan tahun 1999 diterbitkan dalam bentuk buku setebal 124 halaman (+vii halaman) oleh Penerbit Pustaka Firdaus, Jakarta. Pada tahun 2000-an penerbit STSI Bandung menerbitkannya kembali dalam bentuk buku dengan judul yang sama.

Dalam Mega-Mega dikemukakan ihwal Mae yang hidup sendirian di kota Solo. Ia ingin dipandang sebagai "ibu" (pimpinan) oleh para gelandangan di sekitarnya yang umurnya memang lebih muda. Mae sangat menyayangkan Retno, perempuan muda yang cukup cantik (untuk ukuran para gelandangan), tetapi hidupnya menjadi pekerja seks komersial. Mae juga selalu menasihati Panut agar tidak memilih pekerjaan sebagai pencopet. Anggota yang lainnya adalah Hanung, seorang penyandang cacat kaki, yang masa kecilnya dihabiskan di panti asuhan. Tukijan adalah seseorang yang punya cita-cita membuka kehidupan baru di Sumatra. Seorang gelandangan bernama Kojal agak berlainan watak karena ia selalu berkhayal untuk mendapatkan uang banyak sehingga ia selalu membeli kupon undian lotre.

Suatu hari, Kojal mendapat lotre dan mengajak kawan-kawannya berfoya-foya. Mereka makan-makan di restoran, membeli pakaian di toko Kim Sin, dan bertamasya ke Tawangmangu. Bahkan mereka mampu membeli keraton Mataram. Lotre Kojal menciptakan pertengkaran antara Hanung dan Tukijan. Hanung berusaha membela Kojal yang ditampar Tukijan karena ia merasa cemburu pada Kojal yang berusaha meraba kaki Retno yang sedang tidur. Mae berusaha melerai mereka. Kekhawatiran Mae ditinggal anak buahnya akhirnya menjadi kenyataan. Hanung berangkat ke Jakarta dan Tukijan bersama dengan Retno berangkat ke Sumatra untuk bertransmigrasi.

Mega-Mega mengungkapkan sebuah tema yang lahir dari lingkungan yang secara sosial-ekonomi merupakan masyarakat minoritas sesuai dengan latar yang dipakai yaitu gelandangan dengan pola kehidupan yang tak pasti. Akan tetapi, dari ketakpastian itu manusia bisa menjadi apa saja.Tokoh Mae, misalnya, sebagai gelandangan perempuan tua, praktis hidupnya hanya menjadi gelandangan. Itulah sebabnya, ia agak iri pada Retno yang masih muda dan masih besar harapan potensi dirinya bisa dijadikan uang dengan menjadi pelacur.

Tokoh dengan kondisi terparah adalah Kojal. Ia adalah lambang manusia pengkhayal yang mendapatkan kesenangan dengan khayalannya. Ia mengkhayal sebagai pemenang lotre dan ia mendapatkan apa yang dikhayalkannya tersebut. Demikian parahnya pikiran Kojal, sampai-sampai seluruh jalan cerita dalam drama ini diisi oleh jalan pikiran Kojal sehingga bisa mempengaruhi semua perilaku tokoh untuk mengikuti khayalannya, yaitu menghabiskan uang hasil menang lotre.

Kemungkinan lain yang lebih positif terdapat pada tokoh karsa Tukijan. Di antara semua tokoh yang hidup bergelandang, tokoh Tukijan memiliki cita-cita yang paling realistis. Dalam rangka menyongsong masa depan, ia bercita-cita membuka lahan di Pulau Sumatra sebagai tenaga transmigrasi. Cita-cita itu adalah sebuah keinginan positif dan layak didukung karena sesuai dengan program pemerintah saat itu (Orde Baru) dalam mengatasi masalah lapangan kerja dan penurunan wilayah hunian di Jawa. Di akhir cerita dinyatakan bahwa ia sudah berangkat ke suatu pulau dengan tujuan bertransmigrasi bersama Retno sebagai calon istrinya.

Mega-Mega pertama kalinya ditulis pada tahun 1968 ketika masa pembangunan negara baru dimulai dan negara sedang berusaha membangun kekuatan di segala bidang. Mega-Mega mungkin menjadi sebuah potret bagi negara Indonesia yang masih belum mantap dalam penyelenggaraan negara sehingga segala kemungkinan bisa terjadi di masa datang, baik positif maupun negatif, tergantung pada anggapan dan sikap warganya dalam memperlakukan negara tempat lahirnya. Pola hubungan tokoh dalam drama ini adalah pola hubungan antara manusia dan manusia lainnya, baik individual maupun sosial. Mae dengan sikapnya yang ingin dianggap sebagai seorang "ibu", telah menciptakan suasana lingkungan para gelandangan yang terikat secara emosional.