Marga T.

(1943—...)
Pengarang

Marga T. atau Marga Tjoa lengkapnya bernama Intan Margaretha Harjamulia adalah sastrawan wanita yang lahir pada tanggal 29 September 1943 di Jakarta. Dia juga mempunyai nama asli, yakni Tjoa Liang Tjoe. Marga T. mulai dikenal tahun 1970-an dengan novelnya, Karmila. Novel tersebut ditulisnya saat masih mahasiswi dan ketika diterbitkan pada bulan Desember 1973. Novel tersebut meledak sehingga mengalami cetak ulang berkali-kali. Ternyata, sukses Karmila, banyak mengilhami penulis lain mengikuti jejak Marga T, yakni menulis novel-novel manis. Pendidikan sekolah dasarnya tamat tahun 1956, sekolah menengah pertama tahun 1959, sekolah menengah atas tahun 1962, dan Fakultas Kedokteran, Universitas Trisakti di Jakarta.

Marga T. penganut agama Katolik yang taat. Dia mulai menulis ketika kelas dua SMP dan tulisannya dimuat di majalah sekolah. Ketika kelas tiga SD, ia sudah menjadi juara dalam lomba mengarang. Kepiawaiannya dalam dunia tulis-menulis merupakan bakat alam.

Marga T. dikenal sebagai penulis sastra populer yang produktif. Sampai saat ini Marga T telah menerbitkan 80 cerita pendek, 50 tulisan untuk anak-anak (novel, novelet, dan kumpulan cerpen), dan 38 novel lengkap. Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman, tulisan Marga T. yang kini dokter merangkap ibu rumah tangga semakin bervariasi. Tidak hanya kisah-kisah cinta yang manis, tetapi juga novel detektif, spionase, dan bahkan cerita satire. Karyanya banyak dimuat dalam Sinar Harapan, Star Weekly, Jaya, Kompas, femina, Dewi, Mitra, Gadis, Rias, Balita, dan Suara Karya. Cerpennya yang pernah disiarkan melalui media televisi berjudul "Saga Merah". Cerpen tersebut iadaptasi menjadi film dengan judul "Bayang-Bayang" dan ditayangkan oleh televisi Surabaya. Karya Marga T. lainnya yang pernah difilmkan antara lain adalah novel Badai Pasti Berlalu dan Karmila. Novel-novel Marga T. Yang sudah terbit adalah Rumahku adalah Istanaku (1969), Karmila (1971, dibukukan (1973), Badai Pasti Berlalu (1974), Gema Sebuah Hati (1976), Bukan Impian Semusim (1976), Sepotong Hati Tua (1977), Lagu Cinta: kumpulan cerpen (1979), Sebuah Ilusi (1982), Monik: sekumpulan cerpen (1982), Fatamorgana (1984), Saga Merah (1984), Rahasia Dokter Sabara (1984), Bukit Gundaling (1984), Ketika Lonceng Berdentang: cerita misteri (1986), Kishi: buku kedua trilogi (1987), Batas Masa Silam: Balada Sungai Musi (1987), Oteba: buku ketiga trilogi (1987), Ranjau-ranjau Cinta (1987), Saskia: sebuah trilogi (1987), Untukmu Nana (1987), Setangkai Edelweiss: sambungan Gema Sebuah Hati (1987), Sembilu Bermata Dua (1987), Sekali dalam 100 tahun: kumpulan satir (1988), Tesa (1988), Kobra Papageno: Rahasia Kuil Ular (1989), Istana di Kaki Langit (1990), Petromarin (1990), Waikiki Aloha: kumpulan satir (1990), Kobra Papageno: Manusia Asap dari Pattaya (1990), Sonata Masa Lalu (1991), Namamu Terukir di Hatiku (1991), Rintihan Pilu Kalbuku (1992), Seribu Tahun Kumenanti (1992), Berkerudung Awan Mendung (1992), Sepagi Itu Kita Berpisah (1994), Dikejar Bayang-bayang (1995), Melodi Sebuah Rosetta (1996), Dicabik Benci dan Cinta (1998), Didera Sesal dan Duka (1998), Matahari Tengah Malam (1998), Amulet dari Nubia (1999), Dipalu Kecewa dan Putus Asa (2001), Dibakar Malu dan Rindu (2003), dan Sekuntum Nozomi (buku satu hingga keempat) (2002—2006).

Sasaran pembaca karya Marga T. adalah remaja dan ibu rumah tangga, khususnya ibu muda. Hal itu berkaitan dengan gaya penyampaian dan bahasa yang sederhana sehingga dapat dibaca dengan mudah. Nama Marga T. mulai melejit setelah novelnya Karmila terbit tahun 1971. Karmila telah mengalami cetak ulang 9 kali dan novelnya Badai Pasti Berlalu (1974) laris manis terjual 24.000 buku meskipun dengan harga cukup mahal untuk ukuran masa itu, yakni Rp 800 per buah. Film "Badai Pasti Berlalu"(1977) dari novel Badai Pasti Berlalu memperoleh penghargaan Piala Citra untuk editing, fotografi, editing suara dan musik di Festival Film Indonesia (FFI) 1978 Ujung Pandang, juga merebut Piala Antemas FFI 1979 sebagai film terlaris 1978—1979 dan sebagai film terlaris kedua di Jakarta dengan jumlah penonton 212.551 orang.

Marga T. menikah pada tahun 1979 dengan seorang pemuda alumnus Universitas Trisakti. Suaminya lulusan Fakultas Teknik Kimia. Marga T. menekuni kariernya sebagai dokter setelah kembali dari Eropa. Bentuk kerja sama antara Marga T. dan suaminya terlihat pada novelnya Petromarin (diikutsertakan dalam Sayembara Novelet Majalah femina tahun 1982). Cerita itu berlatar daerah pengeboran minyak lepas pantai. Suaminyalah yang menyusun detail teknis pengeboran minyak itu.

Cerpennya yang pertama berjudul "Kamar 27" terbit dalam surat kabar Sin Po tahun 1964 ketika Marga T. berusia 21 tahun. Pada tahun 1969 ia menulis cerita anak dengan judul Rumahku adalah Istanaku.

Sesuai dengan pengakuannya dalam isian kuesioner yang dilakukan oleh David T. Hill pada tahun 1977, sebagian besar tokoh dalam ceritanya adalah tokoh di sekelilingnya dan 80% sesuai dengan kenyataan, selebihnya diolah sendiri melalui imajinasinya. Sebagian besar karyanya menggunakan tokoh utama wanita karena ia merasa lebih mudah melukiskan tokoh wanita. Baginya, anatomi serta pikiran laki-laki berbeda dengan wanita. Marga T. harus berhati-hati untuk memperkenalkan seseorang yang diragukan identitas, perasaan, dan pikirannya.