Korrie Layun Rampan

(1953—...)
Pengarang

Korrie Layun Rampan merupakan sastrawan dan kritikus yang produktif. Karyanya berbentuk cerita pendek, novel, puisi, serta kritik dan esai. Pada awal kepengarangannya, dia sering menggunakan nama samaran, misalnya nama teman-temannya, Atikah, Solihah, Moh. Sodiq. Dia lahir di Samarinda, Kalimantan Timur tanggal 17 Agustus 1953 dan berasal dari keluarga pegawai negeri. Ayahnya bernama Paulus Rampan, pensiunan tentara berpangkat sersan. Ibunya bernama Martha Renihay.

Korrie Layun Rampan menikah dengan Hernawati K.L. tanggal 10 Juli 1973. Dari perkawinannya itu Korrie dianugerahi enam orang anak, yaitu (1) Anthoni Ardhy Rampan, (2) Evita Feirin Rampan, (3) Riena Dyaningtyas Rampan, (4) Eliade Rinding Rampan, (5) Dayeng Rinding Renihay Rampan, dan (6) Amalia Rinding Renihay Rampan.

Pendidikan Korrie Layun Rampan dimulai dari SD yang hanya ditempuh selama empat tahun. Dia lulus SD tahun 1964. Oleh karena prestasinya yang baik, Korrie mendapat beasiswa dari Pemerintah Daerah Tingkat I Kalimantan Timur untuk bersekolah di SMP hingga perguruan tinggi. Setelah lulus SMA di Samarinda tahun 1970, Korrie Layun Rampan melanjutkan studi ke Yogyakarta. Mula-mula ia memilih Jurusan Keuangan dan Perbankan sampai sarjana muda, kemudian beralih ke Fakultas Sosial Politik, Universitas Gadjah Mada.

Kesenangannya terhadap dunia sastra dimulai sejak kelas IV SD. Pada saat itu ia sudah mulai membaca karya sastra. Dia telah membaca novel karya Hamka Tenggelamnya Kapal van der Wijk. Saat itu, Korrie tergugah hatinya untuk menulis. Ketika bersekolah di SMP, Korrie sudah membaca majalah Sastra, Horison, Cerpen, Budaya Jaya, dan Indonesia.

Ketika belajar di SMA, ia menulis puisi di majalah dinding di sekolahnya. Di samping itu, ia juga mengisi siaran khusus sastra, yaitu dalam acara "Pancaran Sastra" di RRI Studio Samarinda.

Sejak berkuliah di Yogyakarta, Korrie Layun Rampan bergabung dengan Persada Studi Klub (PSK), kelompok seniman/ sastrawan muda yang dibimbing oleh Umbu Landu Paranggi. Sejak tahun 1972 Korrie Layun Rampan menulis dengan produktif. Beberapa tulisannya dimuat di berbagai koran dan majalah, seperti Kompas, Berita Buana, Suara Karya, Sinar Harapan, Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, dan Horison. Karya-karya Korrie yang tersebar itu lalu dibukukan dengan judul Perjalanan Sastra Indonesia, diterbitkan oleh Penerbit Gunung Jati tahun 1983.

Perhatiannya terhadap sastra juga diwujudkan dalam bentuk penerbitan. Dia mendirikan Yayasan Arus, salah satu wadah yang menerbitkan buku-buku sastra. Di samping itu, ia juga memiliki dokumentasi sastra yang tempatnya menyatu dengan rumah tinggalnya. Buku yang ada dalam ruang dokumentasinya itu berjumlah kira-kira 25.000 judul. Dia juga menyimpan buku di Yogyakarta dan Kalimantan. Motivasinya dalam mengumpulkan buku-buku sastra itu adalah untuk mendukung usahanya dalam menulis buku. Dokumentasi yang dikumpulkan berupa buku-buku sastra, majalah, dan kliping sastra. Dia juga mengumpulkan buku yang berkenaan dengan sosiologi, psikologi, antropologi, dan biografi tokoh- tokoh terkenal. Buku tertua yang menjadi koleksinya adalah roman Melayu-Tionghoa terbitan sebelum abad XIX.

Korrie Layun Rampan Korrie aktif di berbagai bidang pekerjaan, selain berprofesi sebagai sastrawan dan dan aktif di dunia penerbitan, dia juga menjalani profesi sebagai guru, dosen, jurnalis, penyiar di RRI dan TVRI Stasiun Pusat, Jakarta. Tahun 1978-1980 Korrie Layun Rampan mulai bekerja di penerbit Cypress, kemudian dia bekerja di penerbit Sinar Harapan tahun 1980—1982, Korrie menjadi redaktur senior, redaktur pelaksana, dan merangkap direktur keuangan majalah wanita Sarinah tahun 1982. Tahun 2001 Korrie menjadi Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi surat kabar Sentawar Pos (Barong Tongkok, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Selain itu, dia mengajar di Universitas Sendawar, Melak, Kutai Barat.

Korrie juga mempunyai perhatian pada dunia pendidikan dan pengajaran. Rumah Sastra KLR yang dikelolanya menggarap masalah pendidikan dari usia dini (PAUD) sampai usia remaja. Korrie juga akan membangun universitas KLR di Samarinda. Aktivitas Korrie di dunia politik mengantarnya menjadi anggota DPRD Kutai Barat periode 2004-2009, ia menjabat sebagai Ketua Komisi 1, tugasnya sebagai jurnalis dan duta budaya. Sementara itu, aktivitas Korrie di bidang sosial, antara lain menjadi Ketua Bidang Seni Budaya Dewan Adat Dayak

Novel Korrie Upacara dan Api Awan dan Asap berhasil memperoleh Hadiah Sayembara Roman DKJ tahun 1976 dan 1978. Kumpulan puisinya Cuaca di atas Gunung dan Lembah (puisi anak-anak) telah memperoleh hadiah dari Yayasan Buku Utama tahun 1984 sebagai kumpulan puisi terbaik.

Kumpulan cerpennya, antara lain, adalah (1) Matahari Makin Memanjang, 1986, Jakarta: Bahtera Jaya; (2) Perhiasan Bumi, 1986, Jakarta: Bahtera Jaya; (3) Ratapan, 1989, Jakarta: Balai Pustaka; (4) Perjalanan Guru Sejarah, 1983, Jakarta: Bahtera Jaya; (5) Kekasih, 1981, Ende: Nusa Indah; (6) Tak Alang Kepalang, 1993, Jakarta: Balai Pustaka; (7) Malam Putih, 1983, Jakarta: Balai Pustaka; (8) Perhiasan Matahari, 1989, Jakarta: Balai Pustaka; (9) Perhiasan Bulan, 1988, Ende: Nusa Indah, dan Kayu Naga (2007). Kumpulan puisi yang dihasilkan Korrie adalah (1) Matahari Pingsan di Ubun-Ubun, (2) Alibi, (3) Cermin sang Waktu, serta (4) Mata dan Sawan.

Karyanya yang berbentuk kritik dan esai juga cukup banyak, seperti (1) Cerita Pendek Indonesia Mutakhir: Sebuah Pembicaraan, 1982, Jakarta: Nur Cahaya; (2) Puisi Indonesia Mutakhir Sebuah Perkenalan, 1980, Jakarta: Nur Cahaya; (3) Kesusasteraan Tanpa Kehadiran Sastra, 1984, Jakarta: Yayasan Arus; dan (4) Jejak Langkah Sastra Indonesia, 1986, Ende: Nusa Indah. Hasil karya Korrie Layun Rampan yang berbentuk cerita anak ialah (1) Nyanyian Tanah Air, 1981, Jakarta: Cypress; (2) Pengembaraan Tonsa di Posa, 1981, Jakarta: Sinar Harapan; (3) Pohon Raksasa di Rimba Raya, 1983, Jakarta: Cypress; dan (4) Mulawarman Bersama 25 Pahlawan Kalimantan, 1985, Jakarta: Cypress.

Berkat aktivitasnya yang begitu banyak terutama di bidang tulis menulis, sampai tahun 2012 dia sudah menerima hadiah atau penghargaan sebanyak 16 buah, misalnya 1) Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia, 2006, 2) Hadiah Pelopor Sastra Kalimantan Timur dari Pemerintah Kota Balikpapan, 2009, 3) Hadiah Citra Darma Pustaloka dari Perpustakaan Nasional RI, 2010, 4) Penghargaan dari Pemerintah daerah Provinsi Kaltim 2012, dan 5) Penghargaan dari Komunitas etnis Dayak Benuaq 2012.