Kompas

(1965—…)
Media Penyebar/Penerbit Sastra

Kompas merupakan nama surat kabar harian ibukota yang diterbitkan pertama kali pada tanggal 28 Juni 1965 dan sampai sekarang masih terbit. Harian ini diterbitkan oleh Yayasan Bentara Rakyat dengan Surat Izin Usaha penerbitan Pers SK Menpen No. 013/SK/Menpen/SIUPP/A.7/1985 yang beralamat di Jalan Pintu Besar Selatan 86-88 Jakarta Kota. Pada tahun 1985 redaksi harian ini pindah ke Palmerah Selatan 26--28 Jakarta 10270, telepon 5347710, 5347720. Pendirinya adalah PK. Ojong (1920--1980) dan Jakob Oetama. Jenis penerbitannya adalah harian umum dengan pemimpin redaksinya sejak tahun adalah Suryopratomo, J.B. Kristanti, P.M. Sudarto, Indrawan S.M., sedangkan sebagai staf redaksi Drs. J. Adi Subrata, Irawati S.H., Marcel Beding, Indra Goenawan M., Hartantho, Drs. Bob Barnabas, Lukman Setiawan. Lustrator: G.M. Sudarta dan dan wartawan foto P. hendarto dan redaksinya adalah August Parengkuan, Umak Laksono, R.B. Sugianto.

Sebagai harian umum, Kompas mempunyai moto "Amanat hati Nurani Rakyat". Sehubungan dengan moto tersebut, pembaca sasarannya adalah masyarakat umum. Harian Kompas memuat ruang kesusasteraan atau kebudayaan, yang terbit hari Minggu (Kompas Minggu). Jenis karya sastra yang dimuat antara lain cerpen, puisi, cerber, dan kritik esai. Selain itu, dalam koran Kompas ini terdapat ruang khusus "Surat Pembaca". Surat pembaca ini dikirim dari beberapa kota, seperti Salatiga, Jatinegara, Solo, Bandung, Surabaya, Medan, dan Ujungpandang. Selain karya sastra, koran ini memuat artikel olahraga, iklan, berita, tajuk rencana, kesehatan, berita luar negeri, politik, ekonomi, budaya, dan seni. Penyebarluasan harian Kompas ini bersifat nasional dan agen/cabang penyebar koran ini terdapat di berbagai kota, seperti Bandung, Cirebon, Semarang, Bogor, Kudus, Solo, Purwokerto, Makassar, Kendari, Manado, Balikpapan, Banjarmasin, Lampung, Palembang, Surabaya, Malang, Jember, Kupang, Denpasar, Mataram, Jambi, Pekanbaru, Medan, dan Aceh.

Sasaran pembacanya adalah masyarakat umum kelas menengah. Harian ini juga pernah memuat pengumuman tentang Lomba Deklamasi Sajak-Sajak Chairil Anwar yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan DKI Jakarta pada tahun 1970. Selain itu, Kompas juga memuat berita tentang Anugerah Seni pada tahun 1970 yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sastrawan yang mendapat anugerah itu adalah (1) Nasjah Djamin untuk novelnya Gairah untuk Hidup dan Gairah untuk Mati, (2) Iwan Simatupang untuk novelnya Merahnya Merah, (3) Taufiq Ismail untuk kumpulan puisinya Benteng, (4) Subagio Sastrowardoyo untuk kumpulan puisinya Daerah Perbatasan.

Kegiatan sastra juga dimuat di harian ini (dalam artikel: "Surat Arief Budiman dari Taiwan untuk Altono", Selasa, 7 Juli 1970" berisi: Asia Foundation yang berpusat di Kuala Lumpur melakukan Konferensi Pengarang-Pengarang Asia yang tergabung dalam PEN (Poet, E. Ssayist, Novelist). Pemimpin Asia Foundation adalah John D. Sutter. Konferensi dilaksanakan selama seminggu mulai tanggal 13 Juni di Taipeh. Peserta dari Indonesia antara lain Taufiq Ismail, Ajip Rosidi, Sori Siregar, Djohan Nasution, Arief Budiman. Diskusi masalah kesusastraan berlangsung selama 6 jam. Ketua Konferensi ialah Dr. Lim Yu Tang. Pada kesempatan itu Kawabata memberikan pidato sebagai pemenang hadiah Nobel.

Cerita pendek yang dimuat dalam koran ini cukup banyakpada setiap terbitan hari minggu (Kompas Minggu). Sejak tahun 1991 cerpen-cerpen yang dimuat setiap hari Minggu itu dipilih dan dijadikan antologi cerpen pilihan Kompas hingga sekarang (tahun 2008). Cerpen pilihan Kompas tahun 1992--1996 sudah dikumpulkan dan diterbitkan oleh harian Kompas tahun 1996 dan diberi judul Pistol Perdamaian. Cerpen-cerpen itu berjudul (1) "Pistol Perdamaian" oleh Kuntowijoyo, (2) "Doa Seorang Perawan" oleh Bondan Winarno, (3) "Dongeng Sebelum Tidur" oleh Seno Gumira Ajidarma, (4) "Eksperimen Moral" oleh TB. Raharjo, (5) "Mang Santa" oleh Joni Ariadinata (6) "Menanam Karen di Tengah Hujan" oleh Afrizal Malna, (7) "Meteorit" oleh Sony Karsono, (8) "Orang Besar" oleh Jujur Prananto, (9) "Sampan Asmara" oleh Kimtrojoyo, (10) "Penumpang Kelas Tiga" oleh A.A. Navis, (11) "Rong" oleh Gendut B. Riyanto, (12) "Orak Dani" oleh Aria Kamandala, (13) "Sang Pengeluh" oleh Yusrizal KU, (14) "Sentimentalisme Calon Mayat" oleh Sony Kusmo, (15) "Separo Jalan" oleh Ismet Fanang, (16) "Sulab dan Sepatu" oleh Seno Gumira Adjidarma, dan (17) "Warung Pinggir Jalan" oleh Leo Pamungkas. Selain itu, beberapa cerpen yang pernah dimuat di koran ini juga dijadikan antologi oleh Kuntowijoyo dengan judul Hampir Sebuah Subversi diterbitkan oleh Grassindo tahun 1999. Cerpen-cerpen yang dimuat dalam antologi adalah cerpen karya Kuntowijoyo yang telah memperoleh predikat "Cerpen Terbaik Kompas tahun 1995" yang berjudul "Laki-Laki yang Kawin dengan Peri", tahun 1996 dengan cerpen "Pistol Perdamaian", dan tahun 1997 dengan cerpen "Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan". Ketiga cerpen inilah yang dihimpun dalam buku tersebut bersama 24 cerpen yang lain yang terbit tahun 1994--1998. Setelah itu, hampir dapat dipastikan bahwa setiap tahun diluncurkan penerbitan Cerpen Pilihan Kompas sehingga sampai tahun 2008 telah terbit sekitar 17-an buku kumpulan cerpen terbitan Kompas. Peluncurannya dilaksanakan dengan ulang tahun korang tersebut.

Kritik esai yang dimuat dalam harian Kompas antara lain (1) "Hilang Tanpa Bekas karya J.P. Satre" oleh Wing Kardjo, 5 Januari 1970, (2) "Catatan Elementer bagi Calon Aktor" oleh W.S. Rendra, 5 Januari 1970, (3) "Sebuah Jaket Berlumur Darah" oleh Abdoelhamid Notowidagdo, 4 Februari 1970, (4) "Memoriam: Armijn Pane, Pelopor Angkatan Pujangga Baru" oleh El In, 18 Februari 1970, (5) "Sebuah Sajak Amir Hamzah (Pemerintah Menganugrahkan Satya Lencana kebudayaan kepada Amir Hamzah)" oleh Gatot Susilo, 2 Maret 1970, (6) "Pengarang-Pengarang Indonesia Telah Memasifkan Tokoh-Tokoh Ceritanya", 2 Maret 1970, (7) "Dr. Hamka, Taufiq Ismail, dan Tatengkeng adalah Pengarang Keagamaan" oleh El, 7 Maret 1970, (8) "Dewan Kesenian Medan di Mata Seorang Pejabat" oleh Sori Siregar, 16 Maret 1970, (9) "Langit Makin Mendung Tidak Menghina Islam" oleh H.P., 19 Maret 1970, (10) "Mengadili Karya Sastra Tidak Relevant" oleh Pat, 21 Maret 1970, (11) "Masalah Syimbolisasi pada Sastra Indonesia" oleh John Liku, 23 Maret 1970, (12) "Memperkenalkan Sastra Melalui Surat Kabar" oleh Soemarsa S.R., 23 Maret 1970, (13) "Langit Makin Mendung di FSUI Rawamangun: Diskusi oleh Lembaga Kesusasteraan" oleh Sori Siregar, 13 April 1970, (15) "Menunggu Godot di Yogya" oleh B. Soeharto, 20 April 1970, (16) "H.B. Jassin Dituntut 2,5 tahun di penjara" oleh Hp, 25 April 1970, (17) "Mengenang Chairil Anwar" oleh Ariswara, 27 April 1970, (18) "H.B. Jassin Rela Dihukum kalau Benar Bersalah" oleh Hp, 30 April 1970, (19) "Menurut Iwan Simatupang: Kita Harus Melibatkan Kesenian dengan Segala Permasalahan Masa Kini" oleh Jw., 4 Mei 1970, (20) ""Teater Abad Pertengahan" oleh Fh. Sri Rahayu Prihatmi, 11 Mei 1970, (21) "Drama Gong dalam Teater Bali" oleh Putu Wijaya, 11 Mei 1970, (22) "Tentang Pelarangan Pengarang" oleh Arif Budiman, 11 Mei 1970, (23) "Mama dan Peristiwa" oleh Arifin C. Noer, 11 Mei 1970, (24) "Berita: Tentang Harian Sin Po" oleh Daud Budiman, 15 Mei 1970, (25) "Ceramah Gerson Poyk: Mengapa Saya Memilih Satire" oleh El, 15 Mei 1970, (26) "Perjalanan Arifin C. Noer" oleh Jasso Winarno, (27) "Dr. Henry Hopkirs di depan Dramawan-Dramawan Indonesia" oleh Alfans Taryadi, 25 Mei 1970, (28) "Rame-Rame tentang Kritik Drama" oleh Remy Silado, 7 Juli 1970, (29) "Teater Varitas Memainkan Drama Televisi di Ujung Senja" oleh Bakdi Soemanto, 14 Juli 1970, (30) "Penyair dan Tuhan" oleh Msh, 18 Agustus 1970, (31) ""Perlunya Unit Drama bagi TVRI" oleh Bakdi Soemanto, 25 Agustus 1970, (32) "Penyair Sebagai Pandu Wisata" oleh A.R., 19 September 19970, (33) "Kesusasteraan Dihukum karena Pengarang Tidak Punya Kekuatan Formil" oleh A.A. Navis, 6 Oktober 1970, (34) "Sajak-Sajak Toety Heraty" oleh Harry Aveling, 6 Oktober 1970, (35) "Sori Siregar dan Cina Selatan" oleh N., 6 Oktober 1970, (36) "Seniman-Seniman Menuntut Hak Merdeka", oleh Sutarno Prijomarsono, 6 Oktober 1970, (37) "Taman Ismail Marzuki dalam Tahun 1970" oleh El, 2 Januari 1970, (38) "Buku-Buku Pelajaran Kesusasteraan di Sekolah Menengah" oleh M. Hutagalung, 5 Januari 1970, (39) "Mungkinkah Sebuah Pusat Kesenian di Yogya" oleh Abdul Hadi W.M., 5 Januari 1970, (40) "Berita Pementasan "Caligua" karya Albert Camus diindonesiakan oleh Asrul Sani Dipentaskan di TIM Teater Kecil 13, 14, 15 Januari 1970", 5 Januari 1970, (39) "Perkenalan Sekilas dengan Sastra Afrika Modern, 19 Januari 1970.