Kartini

(1974—…)
Media Penyebar/Penerbit Sastra

Kartini diterbitkan oleh Yayasan Pratama Sari. Manejemennya, PT Variasi Jaya, pernah beralamat di Jalan Paseban Dalam No.5, Telepon 84469, Pos. Box. No.3426/Jkt. Pemimpin Umum Perusahaan dijabat oleh Drs. Lukman Umar; Wakil Pemimpin Umum/Perusahaan: Willy Risakotta, Pemimpin Redaksi/Penanggung Jawab: Hatawano; Managing Editor: alm.Titie Said Sadikun; Staf Redaksi: Nina Roodiana, Adriani, Karnel Oemarpurba, Drs. Lukman Umar, Willy Risakotta, Sekretaris Redaksi: Joen S. Pembantu Khusus: Rima Melati, Rae Sita, Dewi Resmani, dan Dr. Pribadi. Dasar hukum penerbitan majalah ini adalah SIT. No: 01457/SK-DEP-PEN Tgl. 25 Oktober 1974 SIC NO. Kep-034. PK/IC/XI/1974, tg. 1 Nopember 1974. Pencetak: Percetakan PT NITRIN. Dengan tebal 70 halaman.

Kartini merupakan sebuah majalah wanita dwimingguan di Jakarta yang kelompoknya pernah menerbitkan berbagai jenis majalah untuk setiap anggota keluarga. Majalah ini terbit pertama kali pada Hari Pahlawan, 10 November 1974, dengan oplah awal 15.000 eksemplar. Dalam tempo satu dasawarsa oplah itu meningkat sepuluh kali lipat sehingga Kartini menjadi majalah wanita dengan oplah terbesar dalam sejarah pers di Indonesia. Pada tahun 1982—1986, Kartini merupakan majalah penghasil iklan terbesar kedua sesudah majalah berita Tempo. Bagiannya dari penghasilan iklan majalah di Indonesia selama masa lima tahun itu adalah 19,02 persen dari jumlah keseluruhan 102,5 miliar rupiah.

Penerbitnya, Lukman Umar, semula dikenal sebagai agen atau distributor majalah dari penerbit-penerbit lain. Setelah selama lima tahun menjalani pengalaman di bidang keagenan, akhirnya ia menerbitkan Kartini untuk konsumsi kaum ibu yang dikatakannya sebagai tulang punggung dan kunci kesejahteraan keluarga. Semula majalah ini dikelola di rumahnya, di jalan kecil dan sepi, Jalan Paseban Dalam V. Kemudian, penerbit majalah ini menempati gedung bertingkat di jalan besar dan ramai, yaitu diJalan Garuda, dekat bekas pelabuhan udara Kemayoran.

Walaupun merupakan majalah wanita, Kartini dibaca juga oleh kaum pria. Menurut laporan Survey Research Indonesia (SRI), suatu lembaga riset swasta, pada tahun 1988—1989 Kartini dibaca oleh 58 persen wanita dan 42 persen pria. Artikel yang menonjol pada Kartini adalah hal aneh-aneh yang terjadi di tengah masyarakat golongan menengah ke bawah dan pendalaman terhadap berita yang unik di koran. Selain menerbitkan majalah, kelompok penerbitan ini mendirikan Yayasan Kemanusiaan Bakti Kartini yang menyalurkan bantuan keuangan bagi orang miskin penderita penyakit berat.

Kartini memuat karya sastra cerita bersambung antara lain berjudul "Jangan Ambil Nyawaku" karya Titie Said (1975); "Wajah-Wajah Cinta" karya La Rose (1975); "Bukan Karena Aku Tidak Mencintaimu…" karya La Rose (1975); "Kembang Padang Kelabu" karya Ike Soepomo (1979); "Lembah Duka" karya Titie Said (1979); "Lovina" karya Sunaryono Basuki KS (1990); "R.A. Karini" karya Dukut Imam Widodo (1991); "Sang Pengacara" karya Dukut Imam Widodo (1991); "Sang Juara" karya Saut Poltak Tambunan (1991); "Buram Berlatar Suram" karya Gus TF Sakai (1990); "Tak Cukup Sedih" karya Maria A. Sardjono (1996).

Cerita pendek, antara lain, berjudul "Sang Pangeran Telah Datang" karya Titiek WS (1975); "Kenangan Manis" karya Titie Said (1975); "Kakak Saya, Pengki" karya Faisal Baraas (1975); "Jepitan Cinta" karya Yati M. Miharja (1975); "Ody" karya Yati M. Miharja (1975); "Senyum Papa" karya Yati M. Miharja (1975); "Dukun" karya Puru Wijaya (1979); "Tangis Pagi Hari" karya Taufik Ikram Jamil (1990); "Rina" karya Korrie Layun Rampan (1990); "Pesona" karya Sunaryono Basuki KS (1991); "Tamu" karya Gus TF Sakai (1991); "Ikut Istri" karya Eddy E. Iskandar (1991); "Mata Air Marni" karya Gus tf Sakai (1994); "Bukan Sandiwara" karya Ratna Indraswari Ibrahim (1995); "Pelukis" karya Achmad Munif (1995); "Pengantin Lou" karya Korrie Layun Rampan (1995); "Tarian Gantar" karya Korrie Layun Rampan (1995); "Hati Seorang Ibu" karya Pudji Isdriani K (1995); "Saadah" karya Korrie Layun Rampan (1996); "Laron di Pinggiran Hutan" karya F. Rahardi (1996); "Surat Cinta dari Rina" karya K. Usman (1996); "Pencarian Panjang" karya Korrie Layun Rampan (1996); "Kicau Burung di Seberang Jalan" karya Saut Poltak Tambunan (1996); "Pengantin Kehidupan" karya Korrie Layun Rampan (1996); "Pulang" karya Saut Poltak Tambunan (1997); "Kunjungan Akhir Tahun" karya Yvonne de Fretes (1997); "Tukang Dendang" karya Darman Moenir (1997).

Novelet, antara lain, berjudul "Bukan Sekedar Kenangan Manis" karya Titiek W.S. (1979); "Namaku Diktat" karya Arswendo Atmowiloto (1980); "Gemuruh Ombak Gemuruh Matahari" karya Mayon Soetrisno (1981); "Bulan Kuning Sudah Tenggelam" karya Syamsiah Ahmad Tohari (1983); "Di Ambang Perceraian" karya Maria A. Sarjono (1990); "Teman Seperjalanan" karya Sunaryono Basuki Ks (1990); "Elsa" karya Arie MP Tamba (1990); "Cinta yang Hilang" karya Ratna Indraswari Ibrahim (1994); "Tanaka-San" karya Achmad Munif (1994); "Kilau di Mata Mama" karya Pipiet Senja (1996); "Menyusuri Jembatan Impian" karya Maria A. Sardjono (1996): "Dari Balik Awan" karya Ketut Sugiartha (1997).