Interlude

(1973)
Karya Sastra

Interlude: Sekumpulan Sajak merupakan buku kedua kumpulan sajak Goenawan Mohamad setelah Parikesit (1971). Kumpulan sajak ini memuat 16 sajak dalam 33 halaman. Buku tersebut diterbitkan oleh Yayasan Indonesia Jakarta, November 1973. "Interlude" merupakan penggalan judul sajak kelima (dari 15 sajak yang mempunyai judul dan satu sajak tanpa judul) dalam Interlude, yakni "Pada Sebuah Pantai: Interlude", diciptakan tahun 1973. Sajak lainnya berjudul "Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum" ditulis tahun 1971, "Dongeng Sebelum Tidur" (1971), "Barangkali telah Kuseka Namamu" (1973), "Potret Taman untuk Allen Ginsberg" (1973), "Kwatrin tentang Sebuah Poci" (1973), (tanpa judul, 1973), "Rekes" (1973), "Kabut" (1963), "Di Kebun Jepun" (1973), "Tamu" (1965), "Tentang Sinterklas" (1973), "Kematian sang Juragan" (1973), "Sajak Anak-Anak Mati" (1973), "Gatoloco" (1973), dan "Afterword" (1972-1973).

Sajak-sajak yang terhimpun dalam Interlude tergolong sajak yang dikenal dengan sebutan sajak suasana. Tema yang dominan pada sajak itu berkisar tentang hubungan cinta, kesetiaan, kesepian, dan kegelisahan, serta persoalan sosial politik yang terkait dengan nasib manusia orang per orang. Selain itu, penyair juga merespon berbagai persoalan di dunia sebagai akibat hubungan yang tak berimbang antara negara maju dan negara berkembang.

A. Teeuw (1980) mengkaji bahasa dan stilistika sajak "Interlude" sebagai titik tolak pendekatan struktural yang dilakukannya. Secara cermat Teeuw menunjukkan komposisi sajak yang aneh, yang menggabungkan prosa dan bangun sajak dalam wujud pengalineaan dan pembaitan. Dikemukakan pula tema dominan yang menjadi kandungan beberapa sajak dalam kumpulan itu.

Dalam kata pengantar Interlude itu, Sapardi Djoko Damono mengomentari, bahwa dengan sajak-sajak yang ditulis pada periode 1960—1970-an itu, Goenawan Mohamad berhasil menciptakan peristiwa-peristiwa yang menjadikan kenang-kenangannya bisa berkomunikasi. Kenangan mungkin sentimentil dan Goenawan telah menghindari kemungkinan itu dengan mengangkat dirinya lebih tinggi sambil berkata, "Ternyata kenangan hanya perkara yang lucu", dan kenangan adalah "separuh ilusi" atau "percuma saja". Goenawan telah menulis baris-baris yang mirip dengan pernyataan-pernyataan yang mencoba menghapus segi sentimental kenangan. Beberapa sajaknya yang lebih panjang mencoba untuk sampai pada suasana hati, pada sajak, daripada ide-ide. Beberapa sajak pendeknya membuktikan bahwa Goenawan Mohamad merupakan seorang penyair lirik yang baik dan disukai.

Jajak MD (1973) menyatakan, bahwa sajak-sajak Interlude merupakan bongkaran setumpuk arsip kenangan sebagai kumandang gumam percakapan dalam dirinya, pembicaraan kontemplasinya, baik kenangan yang hanya sebagai perkara yang lucu, separuh ilusi, percuma saja, maupun hanya sebagai beban, yang kemudian telah disusun dan dirangkainya dengan cermat dan sebaik mungkin. Keseluruhan sajak Goenawan membawa beban yang sarat sehingga sukar diselami. Ada sajak yang dibuka dan ditutup dengan kalimat yang sama yang intinya memohon keadilan. Sajak-sajaknya liris ditandai dengan adanya percakapan-percakapan, tetapi tidak menggiring pembaca ke suatu arah, juga tidak menyesatkan pembaca karena sajak-sajaknya itu menggambarkan suasana hati, bukan ide-ide. Pengulangan karena, kurang menghemat kalimat. Hal itu menjadi ciri bentuk sajaknya meskipun hal itu mungkin sebagai penekanan atau pembangetan. Goenawan lihai menguasai kalimat-kalimat untuk sajak yang menyentuh persoalan sosial politik sehingga tidak tergelincir ke dalam slogan, propaganda, atau protes.

Sides Sudyarto Ds (1974) menyatakan, bahwa Intererlude benar-benar mendirikan bulu roma, terutama jika kita membaca sajak "Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum". Sajak itu ibarat cerpen yang berhasil membuat "imajinasi" konkret. Keindahan dan isinya berasosiasi pada peristiwa pemilu sehingga seolah-olah berasal dan dekat dengan pengalaman indrawi meskipun bukan memori. Sajak yang berjudul "Dongeng Sebelum Tidur" yang menyerupai dongeng rakyat "Angling Dharma", seolah-olah ditulis hanya untuk orang Indonesia, terutama sekali orang Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sajak itu merupakan pikiran Goenawan Mohamad yang begitu yakin, bahwa (walaupun dengan kata tanya) suatu saat harus ada seseorang yang mencintai kesetiaan lebih dari pada kehidupan, dan sebagainya. Goenawan ternyata antiborjuis, seperti terkesan dalam "Potret Taman untuk Allen Ginsberg". "Pada Sebuah Pantai: Interlude" malah merupakan sebuah percikan dari konsep pemikiran atheis; senada dengan suara Jean Paul Sartre: "manusia hanya nafsu yang sia-sia belaka". Keislaman Goenawan juga tercermin dari sajaknya yang tanpa judul, yang menyiratkan kepasrahan menerima takdir lewat kalimat, "Nasib telah tertib", juga terlihat dari sajaknya berjudul "Rekes" yang berarti permohonan atau doa. "Gatoloco", sebagai sajak, tetap baik, tetapi sukar untuk dipahami. Goenawan bisa dipandang bermuka dua dan kacau. Gatoloco merupakan pengaruh dari unio tasauf, dunia sufinya sebagian orang Jawa, tepatnya dunia abangan, yaitu satu sekte Islam yang banyak melenceng dari syariat Islam sejati, padahal tak seorang pun meragukan keislaman Goenawan waktu itu.

M.S. Hutagalung (1974) mengakui, bahwa sajak yang terkumpul dalam Interlude tidaklah mudah (mungkin maksudnya tidak mudah dipahami) walaupun bagi orang yang biasa menikmati sajak. Sajak Goenawan mempunyai ciri sajak simbolik: memberi saran dan isyarat yang tidak begitu jelas ke arah perasaan, imaji, asosiasi ataupun pengertian-pengertian tertentu. "Sajak Anak-Anak Mati", misalnya, cerita dan maknanya tidak jelas, tetapi gambaran, citra, atau imajinya sangat mengesankan. Ada tiga anak yang lincah menarikan burung gereja yang juga mungil dan lincah. Bait selanjutnya sajak itu menggambarkan kesepian, kenangan tentang yang sudah tiada, dan kemurungan. "Kwatrin tentang Sebuah Poci" pun merupakan simbolik tentang manusia yang berasal dari tanah yang mampu berilusi, kelak akan retak dan abadi. Sajak pendek "Tentang Sinterklas" sangat padat dan menimbulkan banyak tafsiran menarik. Sinterklas yang putih dibunuh oleh Piet yang hitam, yang artinya kemerdekaan yang menyebabkan orang bisa membunuh. Sajak "Barangkali telah Kuseka Namamu" sepertinya memfilsafatkan 'ada dan tiada' yang menjadi tema kegemaran Goenawan, yang artinya, relatifnya segala pengertian dan makna. Dalam banyak sajaknya, Goenawan merumuskan kehidupan dalam dialog filsafat yang digali dari mistik kejawen yang menjunjung kesetiaan walaupun harus mengorbankan kehidupan. Goenawan sangat kuat dalam membangun suasana dan perenungan.

Linus Suryadi AG (1978) menyatakan, bahwa ilham sajak Goenawan dari dunia pewayangan, tanpa harus menjadi tradisonalis atau neotradisionalis, juga tanpa harus berikhtiar menyajikan nostalgia pada masa silam. Ia menggali cerita rakyat Prabu Anglingdharma dan Setiawati dan Batik Madrim dalam sajak "Dongeng Sebelum Tidur" atau karya mistik Jawa terkenal dalam sajak "Gatoloco". Ia juga mencari ilham sajaknya pada perbedaan ras di Afrika dalam sajak "tentang Sinterklas". Sebagian sajak dalam Interlude berpola kuatrin dan sebagian lagi berpola bebas, bahkan panjang-panjang. Perbedaan antara kedua pola itu terletak pada ekspresi yang sangat terkendali, terkuasai, pada pola-pola kuatrin; dan ekspresi loosss pada sajak yang berpola bebas dan panjang. Namun, keduanya sama-sama merupakan ungkapan lirik-lirik dan berasal dari perenungan. Hal itu terlihat dalam sajak "Kwatrin tentang Sebuah Poci", "Kabut", "Tentang Sinterklas", "Tamu", "Sajak Anak-Anak Mati", "Barangkali telah Kuseka Namanu", dan sajak tanpa judul pada halaman 15. Tiga sajak yang diciptakan dengan teknik berbeda ialah "Gatoloco" dengan teknik dialog dan wawancara walaupun secara batin atau imajiner; "Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum" dengan teknik komposisi doa; sedangkan "Dongeng Sebelum Tidur" dengan teknik bercerita. Sajak "Kematian Sang Juragan", "Di Kebun Jepun", "Pada Sebuah Pantai: Interlude", "Potret Taman untuk Allen Ginsberg", "Afterword", dan "Rekes" merupakan sajak panjang. Kata "interlude" yang diangkat sebagai judul merupakan ilustrasi tipikal dari campur aduknya kebudayaan; merupakan cermin yang memantulkan realita persentuhan budaya regional dan asing yang dipergauli dan merasuki seorang penyair. Begitu pula dengan judul-judul dan kata-kata dalam sajak memberi kontur sajak itu sendiri. Goenawan Mohamad, sebagai penyair Indonesia modern, mempunyai hak hidup dan substansi karya yang wajar-wajar saja dan sah adanya. Ia bersetuju dan telah memakainya sejak tahun-tahun dulu dalam kerja yang pribadi sekali, yakni penciptaan sajak itu.

Hoedi Soejanto (1979) berpendapat, bahwa sajak Goenawan Mohamad dalam Interlude sebagian besar merupakan sejumlah teka-teki yang mungkin atau tidak sanggup menghibur sebagai musik kamar. Kehidupan, sebagaimana sajak, adalah teka-teki yang tidak pernah selesai, tetapi kehidupan yang berhasil, sebagaimana sajak yang berhasil, selalu mengandung teka-teki yang menghanyutkan, msik kamar yang menahbiskan hidup. Sungguhpun bernama "Interlude", bukanlah sejumlah sajaknya dapat dicernakan dalam suasana intersetebal 140 halaman.meso. Kontemplasinya tidak cukup khusyuk dan miskin melodi bahkan beberapa sajaknya terasa mempunyai beban sosial.