Horison

(1966—…)
Media Penyebar/Penerbit Sastra

Majalah Horison adalah bulanan kesusastraan yang paling lama hidupnya dalam sejarah sastra Indonesia, yaitu sejak tahun 1966. Ketika terbit pertama kali pada bulan Juli 1966, majalah itu tidak dapat dipisahkan dari suasana dan semangat kebudayaan pada tahun itu. Dasar diterbitkannya majalah ini adalah semangat untuk menegakkan demokrasi dan kebebasan mencipta. Majalah ini dibiayai oleh Yayasan Indonesia yang didirikan tanggal 31 Mei tahun 1966. Pengasuh majalah ini terdiri atas: Mochtar Lubis (Penanggung Jawab); Dewan Redaksi: Mochtar Lubis, H.B. Jassin, Taufiq Ismail, Soe Hok Djin (Arief Budiman), dan D.S. Moeljanto.

Pada penerbitan pertama alamat redaksinya adalah Jalan Blora 29, Jakarta III/6, alamat tata usaha: Pintu Besar Selatan 86—88, Tromolpos 42, Jakarta Kota. Harga per-eksemplar Rp5,- (u.b.), sudah termasuk sumbangan Pembangunan Monumen Nasional. Tarif iklan Rp0,30 (u.b.) per-mm. Dasar hukum majalah ini adalah Surat Izin Terbit: No.0401/SK/DPHM/SIT/1966 Tgl. 28 Juni 1966. Surat Izin Pemberian Kertas: SIPK/No. A-739/F/H-2/I Tgl. 29 Juni 1966; Izin Pepelrada Jaya: No. Kep. 272 P/VII/1966 Tgl. 15 Juli 1966. Horison adalah sebuah majalan bulanan sastra dalam pengertian yang seluas-luasnya. Tujuan utamanya ialah merangsang pemikiran-pemikiran dan eksperimen-eksperimen baru di bidang kesusasteraan khususnya, kebudayaan umumnya. Alasan dipilihnya nama Horison bagi majalah ini adalah karena Horisonmengandung arti sesuatu yang nyata-riel, tapi tak pernah akan kita capai ujungnya (Horison, No.1 Th.I, Juli 1966:3).

Pada tahun-tahun pertama terbit, majalah ini masih banyak memuat karya sastra yang berhubungan dengan situasi politik waktu itu, misalnya sajak-sajak "demonstran" dan karya-karya yang menentang kezaliman kekuasaan otoriter Orde Lama. Namun, setelah itu muncul penulis baru yang banyak di antaranya berasal dari lingkungan perguruan tinggi sehingga corak tulisan lebih mengarah kepada niat pembaharuan. Sampai tahun 1974—1975 Horison penuh dengan karyaavant garde yang dikerjakan, antara lain, oleh Sutardji Calzoum Bachri, Putu Wijaya, Danarto, Ikranegara, Sides Sudyarto. Setelah itu, makin sedikit karya mereka yang muncul sehingga makin santer isu merosotnya mutu majalah itu.

Dari tahun 1966 sampai tahun 1975, majalah ini mengalami zaman emas karena merupakan majalah sastra satu-satunya yang berwibawa. Pemuatan karangan pada majalah ini seolah-olah merupakan pengakuan keberadaan sastrawan. Dengan demikian Horison sebenarnya menampung tumbuhnya sebuah generasi baru angkatan sastra. Namun, pada tahun 1980-an majalah ini sudah ditinggalkan oleh kebanyakan penulis itu. Kemudian muncullah generasi penulis baru yang kebanyakan dilahirkan pada tahun 1950-an.

Horison merupakan fenomena baru sastra Indonesia karena berhasil bertahan sampai tahun ke-42 dan masih menunjukkan daya untuk hidup lebih panjang lagi. Majalah yang serupa biasanya hanya mampu hidup sekitar satu sampai empat tahun saja.

Sejak bulan November 1996 Horison menambah ruang untuk apresiasi sastra bagi siswa sekolah menengah umum, madrasah aliyah, dan pesantren, yang diberi nama Kakilangit. Ruang apresiasi ini berbentuk suplemen atau sisipan dengan jumlah halaman lebih banyak daripada halaman isi majalah. Hal itu tidak hanya dapat mempertinggi apresiasi, pemahaman, dan kecintaan siswa pada puisi, cerita pendek, drama, dan novel, tetapi juga diharapkan dapat menggugah mereka untuk mengarang. Sebagaimana dinyatakan dalam halaman depannya, Kakilangit ini bertujuan untuk mempertinggi apresiasi dan pemahaman sastra siswa SMU, SMK, madrasah aliyah, dan pesantren dengan memperkenalkan puisi, cerpen, drama, dan novel Indonesia untuk diresapi dan dinikmati. Dengan menampilkan proses kreatif sastrawan Indonesia, majalah ini menambah pengetahuan sastra dan bahasa pembacanya sebagai penunjang kurikulum, majalah ini diharapkan pula dapat membantu merangsang bakat sastra yang terdapat pada siswa. Isi Kakilangit, jika didiskusikan di kelas atau di klub Kakilangit dengan bimbingan guru bahasa dan sastra, akan dapat mengembangkan apresiasi, pengetahuan, dan kecintaan siswa pada khazanah sastra Indonesia. Rubrik yang muncul dalam sisipan ini, antara lain, adalah drama, puisi, novel atau cerpen dan ulasannya, riwayat hidup pengarang dan proses kreatifnya, pengalaman guru, pengetahuan bahasa dan sastra, anekdot sastrawan, dan glosari. Siswa dan guru diberi peluang terbesar untuk mengisi rubrik-rubrik tersebut. Pada saat peluncuran Kakilangit, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, dan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat menyampaikan kata sambutan yang dimuat di Kakilangit 1/November 1996. Sejak tahun 1999 Horison juga menampilkan lembaran sisipan Mastera (Majelis Sastra) setiap empat bulan sekali yang memuat karya sastra pilihan dari tiga Negara, Brunei Darussalam, Indonesia, dan Malaysia.

Horison juga menyelenggarakan "Penerima Anugerah Sastra Horison". Misalnya, pengarang cerita pendek Raudal Tanjung Banua menerima Anugerah Sastra Horison 2004 melalui cerpennya "Cerobong Tua Terus Mendera". Cerpen tersebut menyisihkan 1.500-an peserta Sayembara Menulis Cerita Pendek yang diadakan dalam rangka ulang tahun ke-38 Horison. Penyerahan Anugerah Sastra Horison 2004 itu, yang berupa uang tunai sebesar lima belas juta rupiah, dilakukan pada acara penutupan program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB), 30 September 2004, di Balikpapan, Kalimantan Timur. Acara itu sendiri diikuti sekitar 600 siswa dan guru SMU dan sekolah sederajat se-Balikpapan. SBSB adalah program Horison berupa apresiasi sastra untuk siswa SMU, yang diselenggarakan sejak tahun 2000 atas dukungan dana The Ford Foundation. Raudal Tanjung Banua yang kini tinggal di Yogyakarta menerima langsung Anugerah Sastra Horison 2004 sekaligus menjadi sastrawan tamu pada acara SBSB tersebut.

Pada terbit tahun XLII nomor 4, April 2008, pengasuh majalah ini adalah Pemimpin Redaksi: Jamal D. Rahman; Dewan Redaksi: Taufiq Ismail, Fadli Zon, Jamal D. Rahman, Agus R. Sarjono, Moh. Wan Anwar, Cecep Syamsul Hari, dan Joni Ariadinata; Alamat redaksi: Jalan Galur Sari II No.54, Utan Kayu Selatan, Jakarta 13120. Majalah ini dijual dengan harga Rp12.500, per-eksemplar (halaman 3).