Harimau-Harimau

(1975)
Karya Sastra

Harimau-Harimau merupakan novel karya Mochtar Lubis yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1975 oleh Pustaka Jaya dengan tebal 215 halaman. Cetakan keempat tahun 1989. Novel itu dibuka dengan sebuah sajak karya Jose M.A. Capdevila. Pada tahun 1992 novel itu diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dengan judul Tiger-Tiger oleh Horlimann dengan tebal 227 halaman. Yayasan Buku Utama pada tahun 1976 memilih novel tersebut sebagai buku fiksi terbaik untuk kategori fiksi remaja tahun 1975 dan Mochtar Lubis memperoleh hadiah dengan nilai uang Rp1.000.000,00.

Harimau-Harimau berisi kisah sekelompok pencari damar yang telah seminggu berada di hutan belantara Sumatra. Mereka berjumlah tujuh orang, yaitu Pak Haji Rakhmad, Sutan, Tabib, Sanip, Buyung, Wak Katok, dan Pak Balam. Mereka semua adalah murid Wak Katok, seorang ahli pencak dan pembuat jimat. Mereka juga merupakan orang-orang yang terpandang di kampung halamannya.

Wak Katok secara tidak langsung merupakan pemimpin pencari damar itu. Buyung sebagai laki-laki termuda di kelompok itu ingin mempelajari ilmu gaib dan ilmu sihir untuk memikat seorang gadis yang bernama Zaitun. Akan tetapi, keinginan Buyung belum dikabulkan oleh Wak Katok.

Di dalam hutan mereka sering beristirahat di huma milik Wak Hitam yang memiliki ilmu gaib yang sangat ditakuti. Wak Hitam mempunyai istri banyak dan yang tercantik adalah Siti Rubiyah yang baru dinikahinya dua tahun terakhir.

Hubungan Buyung dengan Siti Rubiyah sangat erat. Buyung merasa kasihan ketika mendengar cerita Siti Rubiyah, bahwa ia menderita batin sejak menikah dengan Wak Hitam yang lebih pantas menjadi kakeknya. Siti Rubiyah terpaksa menikah dengan Wak Hitam karena kehendak orang tuanya.

Baru setengah jam dari huma Wak Hitam dalam perjalanan pulang, Buyung teringat pada perangkap kancilnya dekat huma itu. Atas saran Sutan, Buyung kembali ke sana untuk memeriksa perangkapnya. Ternyata dugaan Buyung tepat, ada kancil dalam perangkapnya. Ketika akan menyusul teman-temannya, ia bertemu dengan Siti Rubiyah yang sedang termenung di atas batu. Antara rasa kasihan dan nafsu, hubungan seks pun terjadi dan Buyung berjanji akan membawa Rubiyah melepaskan diri dari cengkeraman nafsu Wak Hitam. Padahal sebenarnya dalam hati Buyung, sedikit pun tidak ada rasa cinta atas perempuan itu. Justru ia menyesal karena telah melanggar ajaran agamanya. Setelah berkumpul lagi dengan teman-temanya, baik penyesalan dan janji muluk, maupun peristiwa hubungan seks dengan Rubiyah tetap menghantui perasaan Buyung.

Karena mendengar suara rusa yang melengking di malam hari, mereka bermaksud memburunya. Esok harinya, Buyung, Wak Katok, dan Sutan berangkat memburu rusa. Buyung berhasil membunuh rusa dengan menggunakan senapan tua milik Wak Katok. Ketika menguliti rusa, mereka dikejutkan suara auman harimau yang datangnya dari tempat berburu.

Seekor harimau tua di dalam hutan itu marah karena rusa buruannya telah diambil oleh ketujuh pencari damar. Darah rusa di sepanjang jalan yang dilalui oleh pencari damar membuat harimau bertambah lapar.

Korban pertama adalah Pak Balam, betisnya hancur dimakan harimau. Setelah Pak Balam menyusul Talip digigit dan dicakar harimau. Ketakutan mereka memuncak ketika Pak Balam mengatakan "Harimau itu diutus Tuhan untuk meghukum mereka karena dosa-dosanya."

Pak Balam mengakui dosa-dosa yang diperbuatnya selama ini. Pengakuan itu diikuti oleh Sanip, Talip, dan Pak Haji. Sementara, Buyung tidak mau menceritakan dosa-dosanya. Pak Balam akhirnya meninggal dunia lalu disusul Talip. Sutan pergi meninggalkan kelompok pencari damar itu, akhirnya ia juga dimakan harimau. Wak Katok kemudian mengusir Pak Haji, Sanip, dan Buyung. Ia ingin menyendiri. Buyung dan kedua temannya yang lain sepakat untuk merebut senapan di tangan Wak Katok. Dalam perkelahian dengan Wak Katok, Pak Haji tewas tertembak. Sanip dan Buyung akhirnya melumpuhkan pemimpin palsu itu. Buyung kemudian memancing harimau dengan cara mengikat Wak Katok di pohon. Ketika harimau datang hendak menerkam Wak Katok, Buyung menembak harimau hingga tersungkur. Wak Katok akhirnya pingsan dan terkencing-kencing di celana.

Banyak tanggapan atas novel Harimau-Harimau. Hal itu membuktikan, bahwa novel Harimau-Harimau mendapat perhatian dan penilaian yang baik dari masyarakat, penulis, dan kritikus sastra. Tanggapan itu, misalnya dari Nurdin Setiadi (1983) yang memaparkan pengarang novel Harimau-Harimau mengajak pembaca supaya berpikir realistis tidak hanya memupuk angan-angan. Segala yang berbau mistik yang masih berbentuk isu dan diragukan kebenarannya sebaiknya diteliti secermat-cermatnya.

Sri K.(1976) menyatakan bahwa novel Harimau-Harimau memiliki plot yang rapi dan teratur dalam jalinan yang saling berkaitan erat, yang satu sama lain mendukung keseluruhan cerita. Penyajiannya dengan bahasa yang simpel membuat novel ini memukau pembacanya untuk menikmati sampai habis.

Ali Audah (1976) mengungkapkan novel Harimau-Harimau akan memberi efek yang lain, seperti suasana desa, hutan, orang-orang, dan pemuda-pemuda yang bersahaja, berpikir, dan bekerja seperti apa adanya. Dialognya bersifat mendidik dan temanya pergumulan manusia menghadapi kedahsyatan alam: hutan, harimau, dan dirnya sendiri.

Putu Arya Tirtawirya (1975) mengungkapkan bahwa setiap orang wajib melawan kezaliman di mana pun juga kezaliman itu berada. Salahlah bagi orang memencilkan diri dan pura-pura menutup mata terhadap kezaliman yang menimpa diri orang lain, besar kecil kezaliman atau ada dan tak adanya kezaliman tidak boleh diukur dengan jauhnya terjadi dari mana juga di dunia harus diri seseorang. Manusia harus mencintai manusia dan untuk menjadi manusia haruslah orang terlebih dahulu membunuh harimau di dalam dirinya.

Dalam pandangan Satyagraha Hoerip (1975) Harimau-Harimau merupakan novel yang menarik digarap dengan kemahiran yang tinggi dan seruan kepada pembaca agar selalu waspada akan ancaman maut terhadap kehidupan bersama kita yang sewaktu-waktu dapat memorakporandakan umat manusia.

H.B. Jassin (1980) mengungkapkan adanya dua kelompok, yaitu kelompok tua dan kelompok muda. Kelompok tua menjadi objek kritikan, tetapi pada kelompok muda juga ada tokoh-tokoh yang tidak bisa diterima dalam masyarakat atau negara dalam lingkungan yang lebih besar. Kelompok muda masih memiliki sesuatu yang diharapkan. Kelompok itu merupakan kelompok yang penuh kesadaran, aspirasi, dan tegas.

Riris K. Sarumpaet (1976) mengemukakan pandangannya bahwa novel Harimau-Harimau sangat memukau karena menggunakan bahasa yang imajinatif. Kalimatnya tidak bertele-tele. Kisahnya padat dalam jalinan plot yang kompak. Tokoh diperkenalkan satu demi satu dengan watak masing-masing dengan jelas. Tindakan tiap-tiap tokoh cukup jelas penyebabnya, baik segi "hitam" maupun segi "putih". Tokoh-tokoh manusianya juga digambarkan dengan jelas. Penyajian kisahnya diungkapkan dalam tipografi yang terang.

Hazil Tanzil (1976) menyatakan bahwa novel ini memperoleh penghargaan sebagai bacaan remaja terbaik yang diadakan oleh Departemen P dan K karena adanya moralitas, yaitu rasa berdosa dan penyesalan serta janji pada diri sendiri tokoh utama untuk tidak melakukan pelanggaran moral lagi.

Dja'far H. Assegaf (1975) menyatakan bahwa novel tersebut melukiskan tema yang amat sederhana, yaitu setiap orang, jauh di dalam lubuk hatinya dan kotak ingatannya menyimpan rahasia pengalamannya yang tidak ingin dikenangkannya kembali. Akan tetapi, dalam saat-saat kritis ketika orang tersebut menghadapi maut, bayangan akan masa lalunya dan kenangan yang tersimpan dalam guci rahasia benaknya akan kembali keluar.

Novel ini amat baik dibaca oleh remaja karena dapat membangkitkan semangat untuk mengenal alam dan di akhir cerita memberikan pengajaran bahwa perbuatan jahat itu akan berbalas juga.

Pamusuk Eneste (1976) menegaskan bahwa semua unsur struktur, seperti cerita, tema, plot, latar, suasana, dll diabdikan pada perwatakan. Watak-watak pelaku ditonjolkan begitu rupa sehingga menjadi dominan daripada unsur atau aspek yang lain.

Kor Kasdi W.A.(1981) menyatakan bahwa ada dua pengertian tentang harimau, yaitu harimau dalam alur jelas memang binatang, tetapi dalam konteks kemanusiaan pada tokoh-tokohnya dapat diartikan nafsu setan. Secara simbolis, juga dapat diutarakan bahwa manusia-manusia bawah yang bekerjanya sebagai pencari damar dengan keras melawan nasib, dimakan oleh ketakutan akan dunia kenafkahan itu seolah seperti harimau yang penuh kelaliman yang ingin memamah manusia yang lemah tersebut.

Heru Emka (1983) mengungkapkan bahwa dalam novel ini moral dan dialektika dipertentangkan dengan dosa sehingga para pelakunya pun tergulung pada obsesi yang membuahkan frustrasi.

Dipaparkan oleh DBB/H (1979) bahwa novel Harimau-Harimau merupakan novel politik yang cukup simbolik dan hidup. Dengan kekuatan imajinasinya Muchtar Lubis memindahkan situasi politik Indonesia sejak tahun 1966 ke dalam kehidupan para pencari damar di tengah hutan lebat di Sumatera. Keberanian dan kepengecutan serta jarak antara kelompok muda idealis dan kelompok tua mapan yang hanya mementingkan keselamatan diri sendiri. Mochtar Lubis juga ingin menelanjangi kepengecutan seorang pemimpin yang merasa menjadi galak karena sedang memiliki kekuasaan.

Maman S. Mahayana dkk. (1992) menepis pandangan negatif A. Teeuw tentang beban moral yang dikandung novel dengan menyatakan bahwa masalah moral orang per orang dalam novel ini tampak dengan sengaja ditekankan untuk mempertegas pesan yang hendak disampaikan pengarangnya. Sungguhpun begitu , bagi masyarakat yang masih kuat terikat pada kepercayaan takhayul—baik mantera maupun jimat-jimat—novel initerasa hendak menyodorkan kesadaran bahwa yang penting dalam hidupini adalah kepercayaan terhadap Tuhan dan keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri.

Soedjijono (1985) menegaskan, bahwa novel ini ditinjau dari penyajian tahapan aksion termasuk novel yang menari, dari segi penyajian mistri termasuk novel yang menegangkan dan mengasyikkan, dan dari segi tema utama novel ini termasuk novel moral. Perincian kode kultural yang ada dalam novel ini telah difungsikan secara terpadu dalam struktur dan memiliki relevansi dengan kehidupan faktual manusiawi.