Hans Bague Jassin

(1917—2000)
Pengarang

Hans Bague Jassin yang dikenal dengan nama H.B. Jassin lahir di Gorontalo, Sulawesi Utara, 31 Juli 1917 dan meninggal di Jakarta, 11 Maret 2000. Ayahnya bernama Bague Mantu Jassin, seorang kerani Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM).

Ibunya bernama Habiba Jau. Kegemaran ayahnya membaca dan mengoreksi bacaan-bacaan dalam perpustakaan pribadinya mempunyai pengaruh besar terhadap Jassin. Jassin kecil sering membaca koleksi ayahnya secara diam-diam karena dilarang membaca bacaan orang dewasa. Kegemaran membaca ini terus berlanjut dan inilah yang kemudian menjadi pemicu baginya untuk menjadi kritikus dan kolektor dokumen sastra Indonesia. Di kemudian hari kedudukan Jassin sebagai kritikus dan esais menjadi sangat kuat sehingga Gayus Siagiaan menjulukinya sebagai "Paus Sastra Indonesia". Koleksi pribadinya dokumen sastranya kemudian terkumpul di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, sebuah lembaga yang amat banyak jasanya dalam pendokumentasian sastra Indonesia dan menjadi salah satu pusat penelitian sastra Indonesia yang penting pula.

Ia berasal dari keluarga Islam. Istrinya yang pertama bernama Tientje van Buren. Istrinya yang kedua bernama Arsita yang meninggal tanggal 12 Maret 1962. Mereka menikah tahun 1946 dan mempunyai anak bernama Hanibal Jassin dan Mastina Jassin. Setelah Arsita meninggal, H.B. Jassin menikah lagi dengan Yuliko pada tanggal 16 Desember 1962. Mereka dianugerahi dua orang anak, yaitu Yulius Firdaus Jassin dan Helena Magdalena Jassin.

H.B. Jassin sebagaimana telah dipaparkan di atas dijuluki Paus Sastra Indonesia oleh Gayus Siagian karena otoritasnya sebagai kritikus dan esais terkemuka di Indonesia pada dasawarsa 1950—1960an. Menurut Jassin, seseorang yang mau menjadi kritikus harus mempunyai bakat seniman, berjiwa besar, dapat menghindari nafsu dengki, iri hati, dan benci. Seorang kritikus juga harus memiliki sikap riang dalam berhadapan dengan siapa pun. Selain itu, seorang kritikus juga memerlukan pengalaman hidup yang cukup agar dapat melihat suatu persoalan dari berbagai sudut. Dialah satu-satunya kritikus sastra Indonesia yang tekun dan secara terus-menerus mengikuti perkembangan sastra Indonesia dari tahun 1950-an hingga 1970-an. Karena usianya makin tua, sesudah tahun 1970 ia kurang sempat lagi mengikuti perkembangan sastra. Namun, semangatnya untuk menghimpun dokumentasi sastra masih terus berlanjut.

Pada tahun 1970, Jassin pernah diajukan ke pengadilan dan dijatuhi hukuman bersyarat satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun. Ia dituduh menghina agama Islam karena bertanggung jawab memuat cerpen Kipanjikusmin "Langit Makin Mendung" dalam majalah Sastra, Agustus 1968. Pledoinya yang berjudul "Pembelaan Imajinasi" merupakan salah satu dokumen historis terpenting mengenai sastra Indonesia. Selain itu, karena ikut menandatangani Manifes Kebudayaan, ia dipecat dari Fakultas Sastra, Universitas Indonesia tahun 1965 beberapa bulan sebelum G-30-S/PKI meletus.

H.B. Jassin menamatkan pendidikan HIS Gorontalo tahun 1923, HBS-B selama 5 tahun di Medan tahun 1939, dan Fakultas Sastra, Universitas Indonesia tahun 1957. Kemudian, ia memperdalam pengetahuan dalam bidang Ilmu Perbandingan Kesusasteraan di Universitas Yale, Amerika Serikat tahun 1958--1959. Karena jasanya dalam bidang sastra Indonesia, ia menerima Doktor Honoris Causa dari Universitas Indonesia tahun 1975. Menurut Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar, Dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada waktu itu, pengetahuan orang tentang sastra Indonesia didasarkan pada pengetahuan yang dikembangkan oleh H.B. Jassin.

H.B. Jassin sangat berjasa dalam perkembangan sastra Indonesia karena kegiatan menulis esai dan kritik sastranya. Sebagai seorang kritikus, H.B. Jassin adalah orang pertama yang membela Chairil Anwar. Hal itu dilakukannya pada tahun 1956, yang saat itu Chairil Anwar dituduh sebagai plagiat melalui bukunya Chairil Anwar Penyair Angkatan 45. Minatnya dalam bidang ini dimulai awal tahun 1940-an.

H.B. Jassin pernah bekerja di Kantor Asisten Residen Gorontalo tahun 1939, sebagai redaktur Balai Pustaka tahun 1940—1942, sebagai dosen di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia tahun 1953—1959, sebagai dosen luar biasa di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia sejak tahun 1961 (menjadi pembimbing skripsi), dan menjadi Lektor tetap di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia sejak tahun 1973 hingga pensiun. Dia menjadi pegawai di Lembaga Bahasa Nasional (sekarang Pusat Bahasa), Departemen Pendidikan Nasional tahun 1954—1973. Dia pernah menjadi redaktur majalah Pudjangga Baroe tahun 1940—1942, Pandji Poestaka tahun 1942—1945, Pantja Raja tahun 1945—1947, Mimbar Indonesia tahun 1947—1956, Zenith tahun 1951—1954, Bahasa dan Budaja tahun 1952—1963, Kisah tahun 1953—1956, Seni tahun 1955, Sastra tahun 1961—1964 dan 1967—1969, Medan Ilmu Pengetahuan, Buku Kita, dan Horison sejak tahun 1975 sampai 1980-an.

Menurut Sapardi Djoko Damono, dalam banyak kritikannya, Jassin suka mengelu-elukan kecenderungan baru dalam kesusasteraan baru, tetapi dalam karya kreatifnya ia sama sekali tidak berminat terhadap pembaharuan. Cerpen-cerpennya dalam Poedjangga Baroe ditulisnya secara lugas, yaitu mencatat kejadian di sekelilingnya dengan sedikit komentar. Cerpen-cerpennya itu ditulis dan diterbitkan dalam tiga zaman.

Buku sastra yang ditulis H.B. Jassin cukup banyak, antara lain adalah Angkatan 45 (1951), Tifa Penyair dan Daerahnja (1952), Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esai jilid I—IV (1954, 1967; edisi baru 1985), Kesusastraan Dunia dalam Terdjemahan Indonesia (1966) Heboh Sastra 1968: Suatu Pertanggungjawaban (1970). Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia (1963), Pengarang Indonesia dan Dunianja (1963), Surat-Surat 1943—1983 (1984), Sastra Indonesia dan Perjuangan Bangsa (1993), dan Koran dan Sastra Indonesia (1994).

H.B. Jassin juga tercatat sebagai editor sejumlah buku yang berupa bunga rampai, yaitu Pantjaran Tjinta: Kumpulan Tjerita Pendek dan Lukisan (1948), Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi (1948), Kesusasteraan Indonesia di Masa Depan (1948), Kisah: 13 Tjerita Pendek (1955), Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (1956), Analisis Sorotan Tjerita Pendek (1961), Amir Hamzah Raja Penyair Pudjangga Baru (1962), Pudjangga Baru Prosa dan Puisi (1963), Tenggelamnya Kapal van der Wijk dalam Polemik (editor bersama dengan Junus Amir Hamzah (1963), Angkatan 66: Prosa dan Puisi (1968), Polemik: Suatu Pembahasan Sastra dan Kebebasan Mentjipta Berhadapan dengan Undang-Undang dan Agama (kumpulan esai yang diterbitkan di Kuala Lumpur tahun 1972), dan Kontroversi Al-Qur'an Berwajah Puisi (1995). Sastra Indonesia Sebagai Warga Sastra Dunia (1983), Pengarang Indonesia dan Dunianya (1983), Surat-Surat 1943—1983 (1984), Sastra Indonesia dan Perjuangan Bangsa (1993), Koran dan Sastra Indonesia (1994), Darah Laut : Kumpulan Cerpen dan Puisi (1997), dan Omong-Omong HB. Jassin (1997)

H.B. Jassin juga menerjemahkan beberapa karya sastra asing atau yang terpaut dengan kesusastraan, yaitu Renungan Indonesia dari Indonesiche Overpeinzingen karya Sjahrazad (nama samaran Sutan Sjahrir), Terbang Malam dari Vol de Nuit karya A. de St. Exupery (1947), Kisah-Kisah dari Rumania terjemahan bersama Taslim Ali dan Carla Rampen dari Nouvelles Roumaines (1964). Tjerita Pandji dalam Perbandingan dari Pandji-verhalen Onderling vergeleken karya Perbatjaraka (1966), Max Havelaar karya Multatuli (1972), The Complete Poems of Chairil Anwar bersama Liauw Yock Fang (1974), Cuk dari cerpen Tjuk karya Vincent Mahieu (1976), Pemberontakan Guandalajara dari novel De Opstand van Guandalajara karya J. Slauerhoff (1976), Teriakan Kakatua Putih: Pemberontakan Patikura di Maluku dari De Schreeuw van de Witte Kakatoea karya Johan Febricius (1980), dan Multatuli yang Penuh Teka-Teki dari karya Willem Frederik Hermans (1988).

Buku-buku yang diterjemahkannya ada yang di luar bidang sastra, seperti Sepuluh Tahun Koperasi terjemahan dari Tien Jaren Cooperatie oleh R.M. Margono Djojohadikusumo, Chushingura yang diterjemahkan bersama Karim Halim dari karya Sakae Shioya (1945), Al-Quranu 'l-Karim-Bacaan Mulia (1978), Juz Amma Berita Besar (1984), Percakapan Erasmus dari karya Desiderius Erasmus (1985), dan Sapi Betina dan Keluarga Imran (1985).

Sebagai editor, Jassin juga bertindak sebagai penulis kata pengantar untuk sejumlah buku, antara lain, dalam terjemahan Idrus Kereta Api Baja 1469, dalam kumpulan drama karya Usmar Ismail Sedih dan Gembira, dalam kumpulan drama Taufan di Atas Asia karya El Hakim, dalam buku Roman Atheis: Sebuah Pembicaraan Karya Boen S. Oemarjati, dalam buku Djalan Tak Ada Udjung Mochtar Lubis karya M.S. Hutagalung, dalam terjemahan Magdalena karya A.S. Alatas, kumpulan cerpen Orang-Orang Terasing karya Pamusuk Eneste, dalam novel Sanu, Infinita-Kembar karya Motinggo Busye, dan dalam novel Tiga Puntung Rokok karya Nasjah Djamin.

Sejak tahun 1949, H.B. Jassin menjabat sebagai penasihat berbagai penerbit, antara lain Balai Pustaka (1949—1952), Gapura (1949—1951), Gunung Agung (1953—1970), Nusantara (1963—1967), Pembangunan (1964—1967), dan Pustaka Jaya (1971—1972). Dia juga pernah ddiangkat sebagai pemeriksa beberapa universitas di luar negeri, antara lain, di Universitas Malaya, Malaysia, serta Universitas Monash dan Univer-sitas Sydney, Australia.

Buku-buku yang membicarakan H.B. Jassin, antara lain adalah Antara Hukum dan Imajinasi Sebuah Roman Biografi H.B. Jassin yang ditulis oleh Darsjaf Rachman dan diterbitkan tahun 1986 dan H.B. Jassin Paus Sastra Indonesia (1987) karya Pamusuk Eneste. Di samping yang berupa buku, pembicaraan tentang H.B. Jassin banyak tersebar di berbagai majalah dan koran sejak tahun 1977 sampai sekarang.

H.B. Jassin menerima Satyalencana Kebudayaan dari Pemerintah Republik Indonesia tahun 1969. Tahun 1972 ia mendapat Cultural Visit Award dari pemerintah Australia. Pada waktu itu selama delapan minggu ia mengunjungi pusat-pusat pengajaran bahasa dan sastra Indonesia/Malaysia di Australia. Dia menerima hadiah Martinus Nijhoff dari Bernhard Fonds, Belanda tahun 1973; Hadiah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia tahun 1983; Hadiah Magsaysay dari Yayasan Magsaysay, Filipina, tahun 1987. Tahun 1994 ia menerima Bintang Mahaputra Nararaya dari Pemerintah Indonesia.

Dia juga tercatat sebagai anggota Akademi Jakarta sejak tahun 1970 yang berlaku seumur hidup dan sebagai Ketua Yayasan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin sejak tahun 1976 sampai akhir hayatnya.