Hamsad Rangkuti

(1943—...)
Pengarang

Hamsad Rangkuti, lahir 7 Mei 1943, di Titikuning, Medan, Sumatra Utara. Anak keempat dari enam bersaudara ini sebenarnya bernama Hasyim Muhammad Rangkuti. Hamsad adalah singkatan dari namanya sendiri (Hasyim), nama bapaknya (Muhamad Saleh Rangkuti), dan nama ibunya (Djamilah). Menurut Hamsad, singkatan yang menjadi nama itu ditirunya dari Buya Hamka. Di sisi lain, mulanya ia merasa malu jika harus menyebutkan namanya sendiri.

Ketika masih kanak-kanak, Hamsad suka menemani ayahnya begadang sebagai penjaga malam di pusat perbelanjaan kota Kisaran. Kadang-kadang ia juga membantu ibunya menjadi pemungut ulat yang menempel pada daun tembakau. Setelah ia dewasa dan berkeluarga, kehidupannya berubah menjadi lebih baik. Dari honor tulisan dan pekerjaannya, ia bisa membeli rumah dan mobil.

Hamsad menikah pada tahun 1972 dengan Nurwindasari, gadis Purworejo. Pada saat pernikahannya berlangsung, hanya pelukis Nashar yang menjadi saksi dan wali. Dari perkawinannya itu, mereka dikarunia empat orang anak, yaitu Bonang Kiswara, Girindra, Bungaria, dan Anggi Mauli.

Hamsad Rangkuti mengawali pendidikannya di sekolah rakyat (SR) di Kisaran, Sumatra Utara, tahun 1950--1955. Tahun 1955--1958 Hamsad bersekolah di SMP. Setelah tamat dari SMP, Hamsad ikut pamannya ke Tanjung Balai. Tahun 1961--1963 Hamsad mengenyam pendidikan di SMA bagian C hingga kelas II. Dia ikut pamannya ke Medan dan kemudian menetap di sana. Tanggal 9 Juni 1960 sampai dengan tanggal 28 Februari 1961 Hamsad bekerja di Kesatuan Staf Penguasa Perang Kodam II, Bukit Barisan sebagai pegawai sipil. Dari tanggal 1 Maret 1961 sampai dengan 23 Juni 1961 ia bekerja di Kejaksaan Tentera Medan Kodam II, Bukit Barisan sebagai pegawai sipil. Sejak 24 Juni 1961 sampai dengan 14 Oktober 1964 ia bertugas di Inspeksi Kehakiman Daerah Militer II, Bukit Barisan, sebagai pegawai sipil. Tahun 1964 ia bekerja sebagai korektor surat kabar harian Patriot, Medan dan pengasuh ruang kebudayaan "Budaya" bersama-sama dengan Herman Ks. Tahun 1964 Hamsad bekerja sebagai wartawan surat kabar harian Sinar Masjarakat Medan dan pengasuh ruang kebudayaan "Menara".

Pada tahun 1964 itu juga Hamsad ditunjuk sebagai utusan Sumatra Utara untuk menghadiri Konferensi Karyawan Pengarang Indonesia I (KKPI) di Jakarta. Dia langsung "jatuh cinta" pada ibu kota Jakarta. Menurutnya, ia berkenalan dengan beberapa pengarang ternama waktu itu dan tumbuh dorongan yang kuat untuk tinggal di Jakarta. Karena rindu terhadap Jakarta, Hamsad menderita sakit saat kembali ke Medan. Tahun 1965 Hamsad nekad pindah ke ibu kota. Kepindahannya ke Jakarta merupakan langkah kaki kanan bagi kepengarangan Hamsad. Pada awal tinggal di Jakarta, Hamsad ditampung oleh Zulharman (ketua PWI pada waktu itu). Hamsad dipekerjakan di PT Peredaran Film Indonesia (Perfini) dan Persatuan Produser Film Indonesia (PPFI) tahun 1966—1968. Dari Zulharman pulalah Hamsad banyak mendapat bimbingan dan bacaan. Setelah enam bulan ikut di rumah Zulharman dan merasa tidak "berbuat" apa-apa, ia pindah ke Balai Budaya tahun 1966 (Ramadhan Pohan, Jawa Post, 29 Januari 1992). Dia tinggal di kantor Balai Budaya. Dia menimba ilmu tokoh-tokoh kebudayaan yang berdiskusi di Balai Budaya. Menurutnya, pada waktu itu kreatif kepengarangannya mulai menyimpang. Di Balai Budaya ia merasa menjadi manusia liar bagaikan kuda lepas. Teman-temannya mengajak Hamsad mengenal kehidupan di gubuk-gubuk kere sepanjang Kali Malang dan menyusuri rel di gubuk-gubuk pelacuran Planet Senen (Eneste, 1984:172).

Tahun 1969 Arief Budiman mengajaknya bergabung dengan majalah Horison. Mula-mula ia bekerja sebagai korektor, kemudian menjadi redaktur. Selain sebagai pemimpin redaksi Horison, Hamsad juga diangkat menjadi pengurus Dewan Kesenian Jakarta.

Hamsad tidak hanya menulis cerpen, tetapi juga menulis novel dan cerita anak-anak. Karya-karyanya banyak mendapat penghargaan, seperti cerpen "Spanduk" yang memenangi Sayembara Mengarang Prosa oleh Front Nasional/Lekra, Sumatra Utara. Cerpen "Lukisan Perkawinan" mendapat penghargaan Sayembara Mengarang Cerpen femina, tahun 1979. Cerpen "Berdering dan Berdebar" mendapat hadiah sebagai cerpen terbaik dari surat kabar mingguan Waspada Teruna, Medan. Novel yang berjudul Ketika Lampu Berwarna Merah mendapat Hadiah Harapan Penulisan Roman DKJ, tahun 1980. Di samping itu, cerita anak-anaknya yang berjudul Kereta Pagi Jam Lima mendapat hadiah pertama Sayembara Mengarang Cerita Anak-Anak yang diadakan oleh Balai Pustaka. Bahkan, cerita anak-anaknya yang berjudul Surat dalam Tabung dibukukan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui proyek Inpres. Cerpen "Panggilan Rosul" dimuat dalam Antologi Cerpen Indonesia 2 (Satyagraha Hoerip, editor), dan dimuat pula dalam buku paket Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMU seluruh Indonesia. Cerpennya yang lain, "Rencong" menjadi pokok pembicaraan esai Seno Gumira Ajidarma ketika mengulas kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia di Aceh. Beberapa cerpen Hamsad yang lain terbit dalam antologi Cerpen-Cerpen Indonesia Mutakhir (Suratman, editor), Derabat: Cerpen Pilihan Kompas 1999 dan Dua Tengkorak Kepala: Cerpen Pilihan Kompas 2000.

Karya-karya Hamsad mulai dipublikasikan tahun 1960-an. Dia sangat produktif dalam berkarya. Hamsad terus mengasah bakatnya dan melahirkan banyak cerpen yang tersebar di surat kabar dan majalah. Bakat seni (sastra) yang dimilikinya diturunkan dari ayahnya, Muhammad Saleh Rangkuti. Ayahnya memiliki keahlian sebagai penutur cerita yang bertema keagamaan. Di samping itu, Hamsad senang membaca buku dan sering bergaul dengan para seniman. Ketika tinggal di Medan, Hamsad berkumpul dengan seniman Medan. Hamsad dan kawan-kawannya, yaitu Zaini Nasution, Sori Siregar, Zakaria M. Pase, N.A. Haian, dan Herman Ks. berkumpul di Warung Tinggi atau di Titi Gantung. Dalam pertemuan itu, mereka membicarakan masalah sastra. Pertemuan seperti itu memacu Hamsad untuk berkarya lebih baik lagi. Hamsad mulai menulis cerpen pada usia 16 tahun (1959) "Sebuah Nyanyian di Rambung Tua" dimuat di koran Indonesia Baru terbitan Medan. (Horison No.1/XXXV, Januari 2001: 11).

Tahun 1975 Hamsad mendapat kesempatan mengikuti workshop penulisan skenario di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta. Di situlah ia mendapatkan ilmu tentang teknik penulisan. Kumpulan cerpennya yang terkenal adalah Lukisan Perkawinan (1982) dan Sampah Bulan Desember (2000), kumpulan cerpennya yang lain adalah Bibir dalam Pispot (2003) dan Cemara (1982), sedangkan novelnya yang terkenal adalah Ketika Lampu Berwarna Merah (1988). Karya-karya Hamsad banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Cerpen "Sukri Membawa Pisau Belati" diterjemahkan oleh Berthold Damshauser, dimuat dalam majalah Jerman Orientierungen I/1999 dengan judul "Und Sukri Zog den Dolch". Cerpen "Sampah Bulan Desember" diterjemahkan oleh David T. Hill dengan judul "December Garbage" yang dimuat dalam New Voices in Southeast Asia Solidarity (1991), sedangkan cerpen "Senyum Seorang Jenderal pada 17 Agustus" dan "Umur Panjang untuk Tuan Joyokroyo" dimuat dalam Beyond the Horizon, Short Stories from Contemporary Indonesia, Monash Asia Institute.

Beberapa cerpen Hamsad telah disinetronkan, seperti cerpen "Lukisan Perkawinan", "Dendang", "Salam Lebaran", dan "Permintaan" (yang berubah judulnya menjadi "Ngidam") ditayangkan oleh ANTV tahun 1997.

Bulan Agustus 1985 Hamsad berangkat ke Irian Jaya dalam rangka penulisan novel tentang buruh minyak di tempat pengeboran dan eksplorasi, yang merupakan produksi TV Sorong, Irian Jaya. Novel Klamono, diterbitkan dalam rangka menyambut 100 tahun industri perminyakan Indonesia. Tahun 2000 Hamsad mendapat Penghargaan Sastra dari Pemda DKI Jakarta atas novelnya Klamono. Penghargaan lainnya yang telah diterima oleh Hamsad adalah penghargaan Khatulistiwa Literary Award (2003).

Keunikan Hamsad sebagai cerpenis adalah bahwa kadang-kadang ia memublikasikan cerpen-cerpennya terlebih dahulu secara lisan dengan cara membacakannya. Baru kemudian ia memublikasikan cerpen tersebut secara tertulis dengan mengirimkannya ke media massa untuk dimuat. Salah satu cerpen yang dilahirkannya dengan cara seperti itu adalah cerpen "Untuk Siapa Kau Bersiul". Hamsad juga gemar membacakan cerpen-cerpennya. Cerpen "Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu" termasuk salah satu cerpen yang amat memukau khalayak pendengar ketika dibacakannya. Pada tahun 2008 Hamsad memperoleh penghargaan Penulisan Sasatra dari Pusat Bahasa dan diputuskan untuk memperoleh SEA Write Award 2008 mewakili Indonesia.