Dodong Djiwapraja

(1928—2009)
Pengarang

Dodong Djiwapraja, penyair dari tanah Sunda ini, lahir di Banyuresmi, Garut, Jawa Barat, tanggal 25 September 1928 dan meninggal 23 Juli 2009. Dodong yang menganut agama Islam menempuh pendidikan mulai dari SD tahun 1916 dan SMA tahun 1951 di Bandung. Tahun 1951—1952 Dodong mengikuti pendidikan di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, tetapi tidak tamat kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Akademi Hukum Militer sampai lulus tahun 1960 dan Perguruan Tinggi Hukum Militer sampai mendapatkan gelar sarjana hukum tahun 1963.

Baik selama masih dalam pendidikan maupun sesudah itu Dodong banyak melakukan penelaahan dan penelitian dalam bidang kesusastraan dan kebudayaan, khususnya kesusastraan dan kebudayaan Sunda, yang pernah diselenggarakan oleh Proyek Sundanologi. Dia juga pernah ikut serta dalam penyusunan Ensiklopedi Kebudayaan Sunda yang diprakarsai oleh Ajip Rosidi. Dia pernah bekerja di penerbit Pustaka Rakyat yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana pada tahun 1949, bertugas sebagai redaktur majalah Angkasa pada tahun 1950, dan menjadi perwira hukum di Lanuma Husein Sastranegara, Bandung sampai pensiun tahun 1976. Sebelum pensiun, Dodong pernah bekerja sebagai guru SMA IPI Jakarta pada tahun 1953—1958, anggota Komisi Istilah Seksi Penerbangan tahun 1951—1960, anggota pengurus pleno BMKN tahun 1960, dan sebagai dosen luar biasa Estetika di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, tahun 1962—1964. Terakhir, setelah pensiun, ia bekerja sebagai dosen luar biasa di Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung pada tahun 1979—1985.

Dodong Djiwapraja mulai menulis puisi sejak tahun 1948. Puisi yang ditulisnya tahun 1948—1972 dipublikasikan dalam berbagai majalah di Indonesia, antara lain dalam Mimbar Indonesia, Gema Suasana, Gelanggang, Siasat, dan Budaja Djaya, sedangkan puisinya yang mutakhir, tahun 1973—1994, dimuat dalam majalah Budaya Jaya. Puisinya yang tersebar dalam majalah itu dihimpun dan diterbitkan dalam bentuk buku yang berjudul Kastalia, oleh Pustaka Jaya tahun 1997. Bagi Dodong terbitnya kumpulan puisi ini mempunyai arti tersendiri, yakni sebagai album pribadi. Puisi yang tercantum di dalamnya tak ubahnya potret pribadi, terpampang dalam berbagai pose, tampang, dan gaya yang berbeda-beda seiring dengan meningkatnya usia dengan berlatarkan suasana zaman yang berlain-lainan pula (Kastalia, 1997:ix).

Puisi Dodong selain tersebar dalam berbagai majalah, juga dimuat dalam Gema Tanah Air (1948) susunan H.B. Jassin, Laut Biru Langit Biru (1977) yang disunting oleh Ajip Rosidi, serta dalam Tonggak (1987) editor Linus Suryadi AG. Ajip Rosidi dalam Ichtisar Sedjarah Sastra Indonesia (1969) menyatakan bahwa Dodong Djiwapraja adalah salah seorang penyair Indonesia terkuat di samping W.S. Rendra. Sementara itu, W.S. Rendra dalam kata pengantar buku Kastalia mengatakan bahwa Dodong sebagai penyair yang waspada. Dikatakan penyair waspada karena puisi-puisi Dodong mencerminkan sikap hidupnya yang berhati-hati, tekun melindungi kemurnian hati nuraninya, dan sangat menghargai saat-saat bahagia sekecil dan sesederhana apa pun, penuh rasa syukur kepada-Nya atas anugerah keindahan alam, yang semuanya itu dilukiskannya dengan cermat dan bagus.

Sebagai seorang penyair, Dodong juga aktif dalam organisasi Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Bahkan, ia menjadi anggota delegasi pengarang Indonesia yang tergabung dalam Lekra bersama Sitor Situmorang sebagai ketua delegasi, Rivai Apin dan Utuy Tatang Sontani sebagai anggota. Delegasi pengarang Indonesia ini pernah mengikuti Konferensi Pengarang Asia—Afrika di Uni Sovyet (1958), di Tokyo, Jepang (1960), di RRT (1961), dan di Bali (1962). Konferensi Pengarang Asia-Afrika ini memberi inspirasi bagi Dodong dalam proses kreatifnya, misalnya, "Malam di Tokyo" yang mengungkapkan rasa solidaritasnya kepada buruh yang mogok, puisi "Dari Utara ke Selatan, dari Selatan ke Utara" menggambarkan suasana kegembiraan saat menyambut konferensi yang akan menggalang kerja sama negara Asia-Afrika, dan puisi "Pasir Putih, Pantai Sanur" yang dimuat dalam Sastra, No. 9—10, Tahun III, 1963 yang mengungkapkan kenangan kepada Konferensi Pengarang Asia-Afrika di Bali, tahun 1963. Dalam puisi itu disebut nama-nama Sitor Situmorang, Cheung, Pramoedya Ananta Toer, dan Joebair. Lekra memaksa Dodong agar menarik puisinya yang telah dimuat dalam majalah Sastra. Honor yang sudah diterima Dodong harus dikembalikan dan puisinya yang belum dimuat yang masih berada di tangan redaksi diminta supaya tidak dimuat. Untuk itu, Dodong membuat surat terbuka yang dimuat dalam harian Rakyat Minggu, 23 Pebruari 1964 dan harian Bintang Timur, 24 Februari 1964 yang menyatakan keberatan Dodong terhadap pemuatan puisinya dalam majalah Sastra.

Di samping mendapat tekanan dari Lekra karena karyanya dimuat dalam majalah Sastra, Dodong juga pernah dipecat dari Badan Pusat Pembina Kebudayaan Jawa Barat bersama 13 orang lainnya berdasarkan SK Nusa Putra, 29 Oktober 1965. Karyanya juga mengalami pencekalan berdasarkan SK Menteri P dan K, tanggal 30 November 1965.

Dodong Djiwapraja selain sebagai penyair dikenal juga sebagai penerjemah. Beberapa judul buku terjemahannya, antara lain adalah Rumah Tangga yang Bahagia karya Leo Tolstoy tahun 1976. Islam, Filsafat, dan Ilmu, terjemahan tahun 1984 yang diprakarsai oleh Unesco. Beberapa puisi penyair Inggris dan Prancis, seperti karya Saint-John Perse, W.H. Auden, dan Charles Madge, telah diterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia dan dimuat dalam majalah Siasat dan Budaya Jaya.

Sebagai penyair, Dodong Djiwapraja pernah mendapatkan Hadiah Sastra Harian Rakyat pada tahun 1960 untuk puisinya yang berjudul "Tantangan" (Zaman Baru, No.3—4, 1961). Tahun 2001 dengan kumpulan puisinya Kastalia (1997) Dodong memperoleh Penghargaan Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.