Dewi Lestari

(1976—...)
Pengarang

Dewi Lestari bernama lengkap Dewi Lestari Simangunsong dan akrab dipanggil Dee. Sebelum dikenal sebagai penulis novel, sudah lebih dulu ia dikenal sebagai seorang penyanyi yang tergabung dalam Trio RSD (Rida Sita Dewi). Sebelum ia bergabung dengan RSD, ia pernah menjadi backing vokal untuk Iwa K, Java Jive, dan Chrisye. Sekitar bulan Mei 1994, ia bersama Rida Farida dan Indah Sita Nur Santi bergabung membentuk trio RSD atas prakarsa Ajie Soetama dan Adi Adrian.

Anak keempat dari lima bersaudara dari pasangan Yohan Simangunsong dan Turlan br Siagian (alm) ini lahir di Bandung, 20 Januari 1976. Ayahnya adalah seorang anggota TNI yang belajar piano secara autodidak, sedangkan saudara-saudaranya pemain biola, guru piano profesional. Keluarga Dee sama seperti keluarga kebanyakan yang hidup sederhana dan harus pandai-pandai mengatur keuangan.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di SMU 2 Bandung, ia melanjutkan pendidikan hingga memperoleh gelar Sarjana Fisip jurusan Hubungan Internasional dari Universitas Katolik Parahyangan, Bandung pada 1999. Kini, namanya termasuk dalam jajaran penulis perempuan yang diperhitungkan di dunia sastra Indonesia setelah ia meluncurkan novel Supernova Satu: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, 16 Februari 2001 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Novel yang laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari dan terjual sampai kurang lebih 75.000 eksemplar ini banyak menggunakan istilah sains dan cerita cinta.

Sebelum ia banyak dibicarakan orang karena novelnya Supernova, ternyata cerpen Dee pernah dimuat di beberapa media. Salah satu cerpennya "Sikat Gigi" pernah dimuat di buletin seni terbitan Bandung, Jendela Newsletter, yaitu sebuah media berbasis budaya yang independen dan berskala kecil untuk kalangan sendiri. Tahun 1993 ia mengirim tulisan berjudul "Ekspresi" ke majalah Gadis yang saat itu mengadakan lomba menulis dan ia berhasil mendapat hadiah juara pertama. Tiga tahun berikutnya, ia menulis cerita bersambung berjudul "Rico the Coro" yang dimuat di majalah Mode. Bahkan, ketika masih menjadi siswa SMU 2 Bandung, ia pernah menulis sendiri 15 karangan untuk buletin sekolah.

Sarjana jurusan Hubungan Internasional dari Universitas Katolik Parahyangan Bandung ini mengaku bahwa novel Supernova berawal dari pergumulan dan perenungannya yang dalam tentang spiritualitas. Di akhir 1999, ia merasa ada sesuatu yang salah dengan dirinya tentang pemahaman religi di tengah masyarakat. Dee mulai banyak membaca. Ia ingin tahu lebih banyak ajaran Hindu, Budha, Islam termasuk mengenal lebih jauh tokoh-tokoh dunia seperti Einstein dan Hawking yang dikenal brilian dalam mencari jawaban atas eksistensi manusia di muka bumi ini.

Selama menulis Supernova Satu, Dee berdiam di rumah ditemani dua anjingnya. Selama berbulan-bulan ia tidur tidak teratur, tidur jam delapan pagi, bangun jam dua siang lalu kerja sampai pagi di depan komputer. Menurutnya, masa-masa itu adalah masa yang paling mendamaikan dan mengasyikkan, sedangkan kegiatan bersama RSD, dilakukannya dua kali seminggu.

Dalam memasarkan Supernova Satu ini, Dee menggunakan uang tabungannya dan membentuk penerbit bernama Truedee Books. Alasan ia memilih merangkap menjadi penerbit selain menjadi penulis karena ia tidak ingin naskahnya diedit oleh penerbit apalagi ia sempat beberapa kali ditolak oleh beberapa percetakan. Pada Maret 2002, Dee meluncurkan Supernova Satu edisi bahasa Inggris untuk menembus pasar internasional dengan menggaet Harry Aveling (60), seorang yang ahli dalam urusan menerjemahkan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris.

Supernova pernah masuk nomine Katulistiwa Literary Award (KLA) yang digelar QB World Books.

Sukses dengan novel Supernova Satu: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, bagian pertama Supernova Dua (Supernova 2.1 Akar) sudah lepas ke pasaran pada 16 Oktober 2002 di 20 kota utama Indonesia. Novel Supernova 2.1 sempat mendapat protes keras dari kalangan umat Hindu karena dianggap melecehkan lambang keagamaan Hindu, lewat surat tertanggal Bali, 26 Februari 2003 yang diatasnamakan Ketua Umum DPP FIMHD AA Ngurah Arya Wedakarna MWS dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum Intelektual Muda (FIMHD) Hindu Dharma yang berkedudukan di Bali. Mereka menolak dicantumkannya lambang OMKARA/AUM yang merupakan aksara suci BRAHMAN Tuhan yang Maha Esa dalam HINDU sebagai cover dalam bukunya. Akhirnya, disepakati bahwa lambang Omkara tidak akan ditampilkan lagi pada cetakan ke-2 dan seterusnya.

Dalam memasarkan Supernova 2.1 Akar, Dee memilih tidak lagi memasarkan sendiri bukunya. Ia menjalin kerja sama dengan BArK Communication, suatu perusahaan penerbitan yang sekaligus perusahaan promosi. Di samping BArK, muncul sebuah wadah baru, Truedee Semesta. Di BArK dan Truedee Semesta, Dewi memiliki sejumlah saham dan mendapatkan royalti sekitar 20%. Namun, sayang, pertengahan tahun 2003, Dee akhirnya berpisah jalan dengan penerbit buku keduanya ini dan kini ia kembali sendiri memasarkan bukunya. Novelnya yang lain Perahu Kertas (Bentang, 2009), Rectoverso (2008), dan Madre (2013).