Daerah Tidak Bertuan

(1963)
Karya Sastra

Daerah Tidak Bertuan merupakan novel karya Toha Mohtar yang diterbitkan tahun 1963 oleh Pantjaka, Jakarta, dengan kete balan 115 halaman. Buku itu memperoleh hadiah sastra Yamin tahun 1964. Pada tahun 1971 novel itu diterbitkan kembali oleh penerbit Pustaka Jaya, Jakarta, dengan tebal 137 halaman. Sebelum terbit sebagai buku, novel ini pernah dimuat dalam majalah Warta Dunia sebagai fragmen dengan judul "Gugurnya Ganda" (1 dan 2) dan "Tuntutan" (1 dan 2).

Latar novel itu berkisar zaman revolusi, dengan mengisahkan pertemuan beberapa orang yang berasal dari latar belakang yang berlainan dalam satu keyakinan, yaitu perjuangan melawan kaum penjajah. Semangat merebut kemerdekaan telah menyatukan mereka, yaitu Kaelani (komandan pasukan), Marno, Pak Mantri, Truno, Ganda, dan Solimin yang tergabung dalam Pasukan Liar.

Meskipun anggota pasukan itu memiliki visi yang sama tentang kemerdekaan dan perjuangan, perbedaan latar belakang sosial (Truno, Ganda, Solimin pernah menjadi narapidana) sempat menimbulkan permasalahan yang rumit dan membutuhkan penyelesaian yang bijaksana dan adil.

Pak Mantri mendapat tugas yang cukup berat dari Kaelani, yakni menyerahkan sekampil perhiasan kepada induk pasukan guna perjuangan selanjutnya. Untuk menjalankan tugasnya itu, Pak Mantri dikawal oleh Truno (mantan narapidana). Semula ada perasaan kurang nyaman pada diri Pak Mantri yang tidak mempercayai Truno. Apalagi, setelah Truno mendesak Pak Mantri untuk menjelaskan apa sebenarnya tugas mereka itu.

Dengan terpaksa, Pak Mantri menjelaskan tugas yang harus mereka jalankan kepada Truno walaupun dengan perasaan khawatir. Ternyata, Truno sangat puas dengan penjelasan Pak Mantri itu. Truno merasa dianggap sebagai manusia yang utuh. Pengalaman pahit selama di penjara seketika lenyap. Ia merasa sangat berharga dan berarti bagi bangsa dan tanah airnya.

Untuk itu, ia bersedia mati demi tanah air. Berbeda dengan Truno, Solimin yang juga mantan narapidana justru berbuat sebaliknya. Ia menginginkan bagian dari perhiasan yang berada di kampil itu. Untuk mewujudkan niat buruknya itu, Solimin berusaha membujuk Ganda untuk menunjukkan di mana tempat sisa perhiasan itu disimpan. Karena tidak berhasil, Solimin mengancam Ganda dengan kekerasan. Ganda memilih melawan daripada bekerja sama dengan Solimin. Sebagai akibatnya, ia tewas di tangan Solimin. Kematian Ganda mengundang kecurigaan Kaelani. Laporan Solimin yang menyatakan bahwa Ganda mungkin tewas di tangan tentara Ghurka tidak dapat diterima Kaelani. Apalagi bukti-bukti menunjukkan bahwa Soliminlah yang telah membunuh Ganda. Di antara bukti yang menguatkan perbuatan Solimin ialah pipa rokok milik Ganda yang terjatuh di tempat Ganda terbunuh.

Dengan siasat yang jitu, Kaelani mengajak Marno, teman dekat Ganda, untuk mengorek keterangan dan pengakuan Solimin. Semula Solimin berbelit-belit berusaha mengelak segala tuduhan Kaelani. Akan tetapi, setelah semua bukti menunjukkan bahwa dirinya telah membunuh Ganda, Solimin mengakui semua perbuatannya di hadapan Kaelani dan Marno. Sebagai hukuman, Kaelani mengajukan dua cara penyelesaian yang harus dipilih Solimin untuk menebus kematian Ganda. Cara yang pertama, Solimin dieksekusi di tempat itu dan disebarkan segala keburukannya serta pengkhianatannya. Cara yang kedua adalah Solimin diperintahkan menyerang markas tentara Inggris dengan granat. Solimin memilih cara yang kedua, menyerang markas tentara Inggris.

Walaupun telah memilih salah satu dari dua pilihan itu, Solimin ternyata masih bimbang. Kebimbangan Solimin itu telah diduga oleh Kaelani. Untuk itu, ia mengatakan kepada Solimin bahwa jika Solimin melarikan diri dari tugas itu, Solimin juga akhirnya akan mati di tangan Mobin dan Alwi, dua orang penembak mahir di pasukan itu yang akan menghadang Solimin.

Tampak di situ bahwa daerah tak bertuan merupakan daerah antara hidup dan mati. Secara fisik, jelas mengisyaratkan bahwa daerah tak bertuan mengandung berbagai kemungkinan. Di daerah itu tidak ada aturan hukum. Barang siapa yang tegar akan memiliki kemungkinan untuk tetap bertahan dan hidup. Pak Mantri gugur karena ketuaannya dan ketidakmampuannya menggunakan pistol.

Ganda mati ditikam Solimin karena ia kurang waspada dan salah perhitungan. Solimin mati karena ketamakannya dan pengingkarannya kepada hakikat perjuangan bangsanya. Kaelani dapat tetap hidup karena ia menggunakan nalar dan batinnya. Sebenarnya, ia dengan mudah dapat membunuh Solimin. Akan tetapi, perhitungan cermat menyebabkan Kaelani memberikan dua pilihan bagi Solimin untuk menebus dosanya. Bagi Kaelani, perjuangan adalah segala-galanya. Untuk itu, persatuan dan kekompakan pasukan ia utamakan. Dengan demikian, makna kata daerah tidak bertuan sangat kompleks. Pada daerah itulah hidup kita ditentukan di antara hidup dan mati.

Menurut Jakob Sumardjo (1979) "Memang konflik batin lima tokoh utamanya digambarkan dengan jelas dan realistis, tetapi konflik-koflik batin yang personal tadi tidak terkait dalam konflik utama cerita."