Daerah Perbatasan

(1960)
Karya Sastra

Daerah Perbatasan merupakan salah satu judul sajak karya Subagio Sastrowardojo yang ditulis pada tahun 1960-an. Pada tahun 1970,judul sajak tersebut kemudian diangkat menjadi judul buku kumpulan sajak Subagio Sastrowardojo yang kedua setelah Simphoni 1957, diterbitkan secara khusus oleh majalah Budaya Jaya.

Sebagai sebuah judul buku kumpulan sajak, Daerah Perbatasan memuat dua bagian, yaitu bagian pertama "daerah Perbatasan" yang terdiri atas enam belas buah sajak: (1) "Lahir Sajak", (2) "Manusia Pertama di Angkasa Luar, (3) "Drama Penyaliban dalam Satu Adegan, (4) "Parasu Rama", (5) "Kubu", (6) "Daerah Perbatasan", (7) "Pembersihan", (8) "Pidato di Kubur Orang", (9) "Doa di Medan Laga", (10) "Nyanyian Ladang", (11) "Di Negeri Asing" (12) "Nawang Wulan", (13) "Anak Angin", (14) "Cerita Tua", (15) "Candi Prambanan", (16) "Monginsidi", dan bagian kedua "Salju" yang terdiri atas dua belas buah sajak: (1) "Salju", (2) "Pembicaraan", (3) "Putri Gunung", (4) "Kata", (5) "Di Ujung Ranjang" ((6) "Juga Waktu", (7) "Sebelum Tidur", (8) "Petunjuk Sutradara", (9) "Di Pojok Jalan", (10) "Juru Silat", (11) "Perpisahan", dan (12) "Dan Kematian Makin Akrab". Meskipun dalam buku kumpulan sajak Daerah Perbatasan itu memiliki keragaman tema, titik sentral atau pumpunan masalah terkonsentrasi pada masalah maut atau kematian.

Buku kumpulan sajak daerah perbatasan itu mampu mengantarkan Subagio Sastrowardojo tahun 1970 menerima Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Setelah 12 tahun diterbitkan oleh majalah Budaya Jaya, pada tahun 1982 Balai Pustaka menerbitkan kembali buku kumpulan sajak Daerah Perbatasan yang diluncurkan bersama buku kumpulan sajak keempat Subagio Sastrowardojo yang berjudul Hari dan Hara. Namun, ketika sajak-sajak (100 sajak) Subagio Sastrowardojo diterbitkan oleh Grasindo(1995) dengan judul Dan Kematian Makin Akrab, judul sajak "Daerah Perbatasan" itu dimuat dalam buku kumpulan sajak tersebut. "Daerah perbatasan" dalam buku kumpulan sajak Dan Kematian Makin Akrab hanya menjadi subjudul atau bagian kedua buku itu dengan penambahan angka tahun, yaitu Daerah Perbatasan (1970), yang memuat sembilan belas sajak.

Teeuw (1983) mengatakan bahwa salah satu sajaknya yang berjudul "Salju" lebih bersifat filsafat dibandingkan dengan sajak "Cocktail Party" karya Toety Heraty dan mengandung kebenaran umum sehingga barangkali cocok dengan harapan pembaca Indonesia yang konvensi puisinya ditempa melalui pembacaan karya klasik Jawa, Melayu, dan lain-lain yang bersifat filsafat, etik, dan lain-lain.