Citra

(1943)
Karya Sastra

Citra pada awalnya merupakan salah satu sajak karya Usmar Ismail yang diciptakan di Malang pada tanggal 20 September 1943 oleh Balai Pustaka. Selanjutnya, Usmar Ismail meminta seorang komponis, yaitu C. Simanjutak untuk mengaransemen sajak itu menjadi sebuah lagu. Pada akhir tahun 1943, di Bangil, Jawa Timur, Usmar Ismail mengangkat "Citra" sebagai suatu pertunjukan sandiwara yang tokoh utamanya seorang gadis bernama Citra.

"Citra" dimuat dalam buku kumpulan sajak Poentoeng Berasap karya Usmar Ismail (Balai Pustaka, 1950). Sajak itu kemudian dikutip oleh Mbijo Saleh (1967:74—75) dalam bukunya Sandiwara dalam Pendidikan (Gunung Agung). Sebagai karya drama, "Citra" pertama kali dipentaskan pada bulan Desember 1943 oleh kelompok sandiwara Maya yang dipimpin oleh Usmar Ismail di Bangil, Jawa Timur. Drama tersebut kemudian digabungkan dengan dua drama lainnya, yakni "Api" dan "Liburan Seniman" yang diterbitkan dalam buku berjudul Sedih dan Gembira (Balai Pustaka, 1948).

Drama "Citra" terdiri atas tiga babak yang berlatar cerita di sebuah pabrik tenun Jawa Timur. Ketika Jepang mengalahkan Belanda di Jawa pada bulan Maret 1942, pabrik tenun Jawa Timur itu ditutup karena ditinggalkan oleh orang-orang Belanda. Sesudah lima bulan Jepang berkuasa di Jawa, pabrik tenun itu dibuka kembali dan dipimpin oleh Sutopo. Pabrik itu merupakan warisan dari Suriowinoto, ayah kandung Harsono atau ayah tiri Sutopo. Sepeninggal Suriowinoto, pabrik tenun itu beralih menjadi milik Ny. Suriowinoto. Dalam memimpin perusahaan itu Sutopo, dibantu oleh Citra, seorang gadis remaja yang berparas cantik.

Citra adalah anak pungut keluarga Suriowinoto yang diasuh sejak kecil. Asal-usul anak itu tidak diketahui. Pak Gondo, seorang mandor pabrik tenun Jawa Timur, menemukan anak itu di depan rumahnya. Setelah agak besar, Citra dijadikan anak angkat oleh keluarga Suriowinoto.

Pada suatu hari pabrik tenun itu kedatangan seorang komponis muda bernama Kornel. Ia datang ke pabrik karena diutus oleh pemerintah untuk menghibur para pekerja pabrik. Salah satu keahliannya adalah mengarang lagu dan menyanyikannya di hadapan para pekerja pabrik. Ketika berjalan-jalan di kebun kapas, ia bertemu dengan Citra kemudian bercakap-cakap sebentar.

Pertemuan Kornel dengan Citra di kebun kapas mengilhami Kornel untuk menciptakan sebuah lagu. Lagu yang diciptakan diberi judul "Citra". Setelah selesai, lagu itu diberikan kepada Sutopo sebagai tanda kenang-kenangan darinya. Sutopo sangat senang menyanyikan lagu "Citra" dengan iringan piano. Seiring dengan kesenangan Sutopo menyanyikan lagu "Citra", cinta Sutopo pada Citra semakin tumbuh. Akan tetapi, cinta itu tetap dipendam dalam hati sehingga Citra tidak mengerti isi hati Sutopo.

Pada suatu hari datanglah Harsono, adik tiri Sutopo, dari Jakarta. Sekolah Hakim Tinggi tempat belajar Harsono ditutup. Ia pulang ke Bangil dan hidupnya seperti tanpa pegangan. Setiap hari pekerjaannya hanya bertualang. Secara diam-diam, Harsono menjalin cinta dengan Citra. Gadis manis itu dinodainya sehingga hamil. Ketika mengetahui Citra hamil, Harsono kabur bersama seorang janda kaya ke Surabaya. Ketika mengetahui perilaku adik tirinya itu, Sutopo marah. Dikejarnya Harsono yang pergi bersama janda kaya itu. Namun, Sutopo ketinggalan kereta api. Untuk menjaga kehormatan keluarganya, Sutopo terpaksa mengawitu Citra. Perkawinan mereka hanya bersifat lahiriah.

Citra melahirkan Rilwan, anak Harsono, tetapi umur Rilwan hanya beberapa bulan. Sutopo ikut bersedih melihat nasib Citra yang selalu dirundung kemalangan.

Setahun kemudian, terdengar kabar bahwa istri Harsono meninggal. Sepeninggal istrinya itu, Harsono menjadi seorang kaya yang dermawan. Sutopo bermaksud mencari Harsono ke Surabaya dan memaksa Harsono menikahi Citra. Namun, ketika mendengar maksud Sutopo itu, Citra bingung dan ia mencoba bunuh diri dengan terjun ke sungai. Tak lama kemudian, Harsono datang. Harsono sudah jatuh miskin karena semua harta bendanya diberikan kepada fakir miskin. Harsono hendak mengasuh anak yang dikandung Citra dahulu. Namun, Harsono tidak mengetahui bahwa Citra sudah ditukahi Sutopo demi menjaga kehormatan Citra dan keluarganya.

Sutopo bersedia menyerahkan Citra kepada Harsono jika Citra tidak keberatan. Citra dan Harsono dipertemukan untuk menyelesaikan persoalan mereka berdua. Citra menolak pergi bersama Harsono karena cintanya terlanjur diberikan kepada Sutopo walaupun tidak sepenuh hati. Setelah pertemuan itu, Harsono insaf dan berjanji akan kembali ke jalan yang benar. Ia kemudian memilih pergi menjadi barisan jibaku untuk membela tanah air setelah menyerahkan Citra kepada Sutopo.

Cukup banyak kritikus dan peneliti sastra yang membicarakan drama "Citra" karya Usmar Ismail. Teeuw (1978) menyatakan bahwa isi "Citra" merupakan sintesis dari cita-cita dan tanggung jawab pribadi dan kebangsaan sehingga ia sampai kepada simpulan bahwa "Citra" ialah Indonesia. H.B. Jassin (1954) menyatakan bahwa "Citra" tergolong hasil kesusastraan karena di dalamnya masih membiaskan corak dan tokoh jiwa romantik dan pemuda yang penuh idealisme dalam masa starm and drang meskipun bertendensi propaganda (1981). Boen S. Oemarjati dalam bukunya Bentuk Lakon dalam Sastra Indonesia (Gunung Agung, 1971) menyatakan bahwa "Citra" adalah lambang kesucian dan kemesraan klasik Indonesia. Dari milieu jelata yang tak bernama dan tak berasal, Citra mampu memancarkan sinar kasih yang lembut dan penuh kemesraan. Mbijo Saleh dalam bukunya Sandiwara dalam Pendidikan (1967) menyatakan bahwa "Citra" merupakan sandiwara yang melukiskan pasang surut romantik revolusi Indonesia. Drama itu besar manfaatnya bagi pendidikan, terutama sebagai bahan indoktrinasi mental para tunas muda bangsa Indonesia.

Pada awal tahun 1950-an drama "Citra" itu difilmkan dan merupakan film pertama garapan Usmar Ismail. Kemudian sejak tahun 1970-an sampai sekarang, "Citra" dijadikan lambang supremasi insan sekaligus dunia perfilman Indonesia dalam wujud Piala Citra. Jadi, "Citra" selain sebagai judul sajak, juga judul sebuah lagu, judul dijadikan sandiwara, nama tokoh utama drama, judul film, dan pada puncaknya nama sebuah piala sebagai lambang supremasi dunia perfilman Indonesia.