Buku Harian

(1979)
Karya Sastra

Buku Harian merupakan buku kumpulan sajak yang keempat karya Subagio Sastrowardojo setelah Simphoni (1957), Daerah Perbatasan (1970), dan Keroncong Motinggo (1975). Buku Harian diterbitkan pertama kali pada tahun 1979 dalam majalah Budaya Jaya. Tiga tahun kemudian, yakni tahun 1982, Buku Harian itu ditambah dengan sajak-sajak lainnya, dikumpulkan menjadi satu buku yang kemudian diterbitkan oleh Balai Pustaka dengan nama kumpulan sajak Hari dan Hara.

Pada penerbitan seratus sajak sajak Subagio Sastrowardojo yang dikumpulkan oleh Penerbit Grasindo dalam buku Dan Kematian Makin Akrab (1995), hanya lima dari 21 sajak yang dimuat kembali dalam buku itu, yaitu "Leiden 4/10/78 (Malam)'", Leiden 6/10/78 (Pagi)'', "Leiden 15/10/78 (Pagi pk. 8.24)", "Leiden 16/10/78 (Pagi pk. 8.30), dan "Leiden 27/10/78 (Pagi pk. 7)".

Kedua puluh satu sajak yang dimuat dalam Buku Harian merupakan refleksi batin renungan falsafah hidup dan tanggapan Subagio terhadap masalah kehidupan selama persinggahannya di tiga kota besar di Eropah, yaitu Leiden, Paris, dan Leeuwarden, selama kurang lebih satu bulan setengah, dari tanggal 3 Oktober 1978 sampai dengan tanggal 13 November 1978. Delapan belas sajak ditulis oleh Subagio Sastrowardojo di kota Leiden, Negeri Belanda. Di sebuah negeri yang juga disebut dengan "Negeri Kincir Angin" atau "Negeri Bunga Tulip" itu, Subagio Sastrowardojo menambah buku hariannya dengan menulis satu sajak dari kota Leeuwarden. Ketika Subagio Sastrowardojo berpindah singgah di kota Paris, ia dapat menghasilkan dua catatan hariannya.

Setiap sajak yang ditulis diberinya judul dengan nama kota tempat Subagio Sastrowardojo bersinggah, yaitu Leiden, Paris, dan Leeuwarden. Untuk membedakan satu sajak dengan sajak lainnya, Subagio Sastrowardojo menambahkan pula pada judul sajak itu tanggal, bulan, tahun, dan waktu kapan sajak tersebut selesai ditulis. Tidak ada satu sajak pun yang ditulis pada siang hari. Semua sajak ditulis pada malam atau pagi hari. Ada sebelas sajak yang ditulis pada pagi hari dan ada sepuluh sajak yang ditulis pada malam hari. Tujuh sajak tidak disebutkan jam atau pukul ketika selesai ditulis sajak itu, yaitu lima sajak hanya ditulis pada waktu pagi hari, dan dua sajak ditulis pada malam hari atau larut malam. Empat belas sajak yang ditulis dengan petunjuk waktu jam atau pukul, terbagi menjadi dua bagian, yaitu enam sajak yang ditulis pada pagi hari (dengan diberi penanda waktu pagi pukul 3.55, pagi pukul 6.10, pagi pukul 6.30, pagi pukul 7, pagi pukul 8.24, dan pagi pukul 8.30.), dan delapan sajak ditulis pada malam hari (dengan diberi penanda waktu malam pukul 18.40, malam pukul 20, malam pukul 20.15, malam pukul 22.30, malam pukul 22.36, malam pukul 24, malam pukul 3, dan malam pukul 3.15. Hal ini menunjukkan bahwa kreativitas Subagio Sastrowardojo menulis sajak itu dapat dimulai pada malam hari pukul 18.00 hingga pukul 03.15.

Berdasarkan bentuk struktur fisik sajaknva, sajak-sajak yang termuat dalam Buku Harian ini tampak sederhana. Semua sajak disusun secara konvensional dengan larik-larik sajak yang membentuk bait-bait. Dari 21 sajak, ada sembilan sajak yang ditulis dalam satu bait, dua sajak ditulis dalam tiga bait, delapan sajak ditulis dalam empat bait, dan dua sajak ditulis dalam lima bait. Setiap lariknya terdiri atas dua sampai tujuh kata. Tidak ada tanda baca akhir kalimat. Semua ditulis dengan huruf kecil, kecuali untuk menyebut nama kota (Amsterdam, Delft, Paris, Rotterdam) dan nama diri (Zadkine, Shakespeare).

Selain ciri-ciri yang disebutkan di atas, sajak-sajak Subagio Sastrowardojo yang terkumpul dalam Buku Harian ini semuanva ditulis dengan menggunakan bahasa sehari-hari. Pilihan kata atau diksinya biasa saja, cenderung sederhana dan mudah dipahami makna lugasnya. Namun, pilihan kata yang sederhana dengan bahasa sehari-hari yang dirangkaikan menjadi jalinan sajak yang puitis itu tentu sukar untuk dipahami, terutama pada semangat ekspresinya yang menggebu-gebu. Nada sajaknya muram. Diberati pemikiran tentang manusia, nasib, kemerdekaan, dan maut. Dalam menghadapi zaman yang menyuguhkan penindasan dan penderitaan, ia tidak berteriak, hanya mendesis, tetapi tajamnya terkadang bagai sembilu.