Bianglala

(1963)
Karya Sastra

Bianglala merupakan kumpulan cerita pendek karya A.A. Navis yang diterbitkan NV Nusantara, Bukittinggi pada tahun 1963. Buku kumpulan cerpen yang berukuran 20 x 25 cm itu terdiri atas empat buah cerpen, yaitu "Pemburu dan Srigala", "Dokter dan Maut", "Tanpa Tembok", dan "Ibu". "Pemburu dan Srigala" menceritakan tentang seorang pemburu yang merasa paling tangguh. Keangkuhan sang pemburu dipertaruhkan ketika pada suatu waktu ia tersesat bersama kudanya di suatu daerah yang dihuni srigala. Sang pemburu pun menjadi buruan para srigala. Ia memacu kudanya dengan cepat sambil menanggalkan pelana, baju, dan celananya lalu melemparkannya kepada srigala. Semua benda itu dimangsa srigala-srigala yang terus mengejarnya. Ketika sang pemburu hampir sampai di rumah, kudanya yang letih terjatuh dan rebah. Kuda pun diterkam oleh srigala-srigala. Pada saat pemburu mengetuk pintu rumahnya dalam keaadaan telanjang, ia tak lagi dikenali sebagai ayah oleh anak-anaknya. Anak-anak itu tidak mengakui sang pemburu sebagai ayah karena bagi mereka, sang ayah adalah pemburu yang gagah, bukan orang gila yang telanjang. Sementara di belakang sang pemburu, sekawanan srigala siap untuk menerkam.

"Dokter dan Maut" menceritakan tentang seorang dokter yang baik hati dan tulus dalam menunaikan tugasnya. Selain bijaksana, sang dokter juga merupakan seorang pendidik yang arif. Pada suatu hari dokter pingsan akibat terlalu kelelahan melayani pasien-pasiennya. Maut pun mendekat, yaitu mengajak roh sang dokter untuk pergi meninggalkan jasadnya. Keluarganya menangis dan orang-orang berdatangan menyatakan duka cita. Roh sang dokter melihat betapa harta bendanya diperebutkan oleh sanak familinya dan dicuri atau dibagi-bagi secara licik dan semena-mena. Pada saat sang dokter melihat bahwa jasad yang terbaring di atas tempat tidur adalah jasadnya, ia baru sadar bahwa sebenarnya ia sudah mati sehingga ia menjadi amat sedih melihat perangai sanak familinya.

"Tanpa Tembok" menceritakan tentang seorang penjilat yang menjadi anak buah seorang tuan besar. Di dalam lingkungan tembok ia hidup senang dengan pekerjaan menjilat dan memuji-muji Tuannya. Orang-orang pun mengetahui ia sebagai anak buah kesayangan tuannya. Sang penjilat merasa bahwa dirinya mulia dengan induk semangnya. Suatu hari ia diizinkan keluar dari lingkungan tembok tempat tinggalnya. Ia mengembara dengan keangkuhan yang tinggi. Lalu bertemulah ia dengan seorang wanita cantik yang ternyata seorang penjilat lihai. Sang penjilat membanggakan kehebatannya sehingga penjilat wanita tertarik. Ketika suasana mulai akrab di antara keduanya, terdengarlah suara penembak-penembak anjing gila. Penembak itu mengarahkan tembakannya kepada anjing itu dan tepat mengenai anjing betina yang kemudian jatuh tersungkur. Ketika melihat keadaan itu, anjing jantan menjadi marah dan menggigit sang penembak. Seorang penembak lain siap hendak menembak penjilat besar itu. Namun, ia segera ingat bahwa yang akan ditembaknya itu adalah anjing kesayangan Tuan Besar sehingga ia tak jadi menembak, tetapi malah memanggilnya dengan lemah lembut: Moppi! Moppi! Anjing itu pun datang sambil mengibas-ngibaskan ekornya dan sang penembak mengusap-usap kepalanya.

Cerpen "Ibu" menceritakan tentang jiwa pengasih dan tanggung jawab ibu tokoh aku terhadap anak-anaknya. Ibu tokoh aku bersusah payah menghidupi anak-anaknya karena sang ayah ditawan oleh Jepang. Ketika tiba-tiba kaki sang ibu lumpuh, timbullah kepahitan hidup di tengah-tengah kedamaian keluarga itu. Sakit sang ibu bertambah parah dan tokoh aku menilai dokter yang mengobati ibunya sangat angkuh dan serakah. Ketika dihadapkan pada berbagai persoalan, tokoh aku terpaksa menggunakan uang organisasi demi keluarganya meskipun pada akhirnya sang ibu yang disayanginya meninggal jua.

Melalui kumpulan cerpen Bianglala, A.A. Navis kembali mengangkat masalah-masalah kemanusiaan dengan gaya satir yang menggugah. Pada cerpen "Pemburu dan Srigala" dilukiskan mengenai egosentris dan kekonyolan manusia pemburu; renungan (pasca-kematian) seorang dokter tentang harta dunia yang menjadi sumber dosa bagi keluarganya disampaikan dalam cerpen "Dokter dan Maut"; manusia yang jatuh pada tingkah polah dan derajat binatang demi kesenangan dunia diangkatnya pada cerpen "Tanpa Tembok"; dan melalui cerpen "Ibu" pengarang berbicara mengenai pergulatan hidup manusia di tengah-tengah keluarganya.

Gaya sindiran memang menjadi ciri khas A.A. Navis dalam berkarya. Sebagaimana disebutkan pada majalah Sastra, Volume 1, Edisi 3, Juli 2002, bahwa A.A., Navis adalah seorang "Sastrawan Satiris Ulung" meskipun dalam kumpulan cerpen ini sindiran itu terasa demikian halus dan sederhana.

Buku Bianglala ini pernah dibahas oleh Nasrul Sidik dalam koran Res Republika, Edisi 29 Januari 1964. Nasrul Sidik berpendapat bahwa bahasa yang digunakan dalam cerpen ini sederhana, tetapi mengikat hati.