Bebasari

(1926)
Karya Sastra

Bebasari merupakan drama yang ditulis oleh Rustam Effendi. Dialog dalam Bebasari disajikan dengan bentuk sajak sehingga H.B. Jassin (1967) menyebutnya sebagai drama bersajak. Naskah Bebasari pertama kali dipentaskan pada saat murid-murid MULO di Padang hendak mementaskan sebuah drama pada suatu pesta sekolah karena tidak ada naskah drama yang siap dipentaskan. Rustam Effendi akhirnya menulis naskah Bebasari dalam bentuk sajak. Akan tetapi, drama itu batal dipentaskan karena dilarang oleh Pemerintah Hinia Belanda. Bebasari terbit pertama kali pada tahun 1926. Tahun 1953, Penerbit Fasco, Jakarta menerbitkan kembali drama Bebasari ini menjadi tiga babak.

Bebasari mengungkapkan masalah yang dihadapi Kerajaan Maharaja Takutar. Maharaja Takutar telah ditaklukkan oleh Rawana. Kerajaannya dirampas karena Rawana mendengar kabar dari ahli nujum bahwa Bujangga, anak Maharaja Takutar, akan dijodohkan dengan Putri Bebasari, anak bangsawan Sabari. Rawana tidak percaya pada peruntungan yang telah ditentukan lebih dahulu. Rawana memisahkan Bujangga dengan Bebasari dan mengurung Bebasari dalam terungku yang dijaga dengan ketat oleh jin dan peri.

Ketika telah menginjak dewasa, Bujangga bermimpi melihat wajah Bebasari dan timbullah cintanya yang sangat besar. Bujangga menanyakan arti mimpi itu kepada ayahnya. Ayahnya menerangkan bahwa Bebasari adalah tunangan Bujangga. Bujangga merasa bahwa ia berkewajiban mencari Bebasari. Bujangga hendak pergi mencari Bebasari, tetapi ditahan oleh ayahnya dan pamannya, Sabari.

Dakarati dan Sabainaracu menyuruh Bujangga untuk menyelamatkan Bebasari. Bujangga, karena dorongan hasrat cintanya, tidak mengindahkan perkataan Sabari. Ia pergi meninggalkan negerinya menuju tempat Rawana mengurung Bebasari yang ditunjukkan oleh Sabainaracu.

Bujangga mengalahkan laskar dan rakyat Rawana, mengusir Rawana dari kerajaan yang dirampasnya, serta melepaskan Bebasari dari kurungan. Bujangga kawin dengan Bebasari, seperti yang telah dijanjikan oleh peruntungan alam dari mulanya.

Rustam Effendi mengatakan bahwa Bebasari diterbitkan sewaktu keinsafan nasional kita baru mulai membakar jantung angan-angan pemuda-pemuda kita, yang pada saat itu sedang terlena oleh kehebatan paham-paham penjajah. Komentar itu dikemukakan oleh Rustam Effendi pada kata pendahuluan buku Bebasari yang diterbitkan oleh Penerbit Fasco, Jakarta.

Boen S. Oemarjati (1971) mengatakan bahwa jalinan simbolisme Roestam Effendi dengan kenyataan sangat erat. Hal itu dapat kita selami dalam penamaan tokoh-tokohnya yang ternyata betul-betul mendukung watak sebagaimana lambang yang dimunculkan. Bebasari merupakan simbol Ibu Pertiwi yang terjajah dan memperoleh kemerdekaan berkat kebulatan tekad para pahlawan muda serta berkat perjuangan seluruh bangsa.

Bahasa dalam naskah Bebasari tergolong bahasa sajak. A. Teeuw (1978) mengatakan bahwa Bebasari merupakan drama bersajak yang menyuguhkan simbolisme. Bebasari tergolong drama yang berbentuk kiasan yang menggambarkan perjuangan menentang tirani penjajahan. Cara ini digunakan agar tidak disalahpahamkan oleh pihak penguasa, yang ketika itu amat sensitif terhadap manifestasi nasionalisme seperti itu.

H.B. Jassin (1967) menunjukkan pentingnya Bebasari sebagai usaha mencoba bentuk baru dalam kesasustraan Indonesia, yaitu bentuk syair yang diperbaharui dan dipergunakan dalam percakapan. Selanjutnya, Jassin menegaskan bahwa dengan mudah kita melihat simbolik hasrat bangga Indonesia yang hendak merdeka (Bebasari, perkataan bebas ada di dalamnya).