Bahrum Rangkuti

(1919—1977)
Pengarang

Bahrum Rangkuti lahir tanggal 7 Agustus 1919 di Galang, Riau dan meninggal di Jakarta pada tanggal 13 Agustus 1977 karena tekanan darah tinggi. Nama lengkapnya adalah Bahrum Azaham Syah Rangkuti Pane Al Paguri. Ibunya bernama Siti Hanifah Siregar yang menyenangi tasawuf dan mistik. Ayahnya bernama Muhammad Tosib Rangkuti yang mendalami tarikat. Tahun 1947 Bahrum Rangkuti menikah dengan gadis yang berasal dari Sumatra Utara, yaitu Apul Batubara, seorang bidan. Pasangan Bahrum Rangkuti dengan Apul Batubara dikaruniai empat orang anak, dua laki-laki dan dua perempuan, yaitu Komarul Zaman, Fachrunnisa, Mahmuda Suraya, dan Basiruddin.

Bahrum Rangkuti, seorang pengarang, yang ditandai oleh hasil karyanya yang berupa naskah sandiwara radio dan puisi. Naskah sandiwara yang dikarangnya, antara lain, adalah "Laila Majenun", "Asmara Dahana", dan "Sinar Memantjar dari Djabal En Nur". Kepengarangan Bahrum Rangkuti diwarnai pikiran-pikiran Iqbal, seorang pengarang Pakistan yang dikaguminya. Hal itu tampak lebih jelas ketika ia membacakan puisi-puisi Iqbal di Taman Ismail Marzuki tahun 1969. Beberapa judul puisinya dimuat dalam majalah Pandji Poestaka, Pantja Raja, Gema Suasana, Gema, Siasat, dan Horison. Sebagian besar puisinya belum sempat diterbitkan, tetapi sudah terkumpul dengan judul "Nafiri Tjiputat".

Ketaatannya terhadap agama diwarisi dari ibunya, selain dari pelajaran agama yang diperolehnya sejak kecil dari madrasah. Sampai akhir hayatnya, ia tetap berkecimpung dalam dunia keagamaan (islam), baik sebagai penceramah, dosen, maupun sebagai pengelola yayasan untuk orang-orang yang terlantar.

Pendidikan umum Bahrum Rangkuti diawali di Hollands Inlandche School (HIS), setingkat dengan sekolah dasar sampai tahun 1933 di Medan. Setamat dari HIS, ia melanjutkan pendidikannya ke Hogere Burger School (HBS), setingkat dengan sekolah menengah pertama, di Medan dan tamat tahun 1937. Setelah tamat dari HBS, Bahrum Rangkuti melanjutkan studi ke Algemene Middelbare School (AMS) di Yogyakarta, setingkat dengan sekolah menengah atas, dan tamat tahun 1940. Dari Yogyakarta ia pindah ke Jakarta dan meneruskan pendidikannya ke Faculteit der Lettern yang kemudian menjadi Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Di situ ia belajar bahasa-bahasa Timur sampai tingkat sarjana muda. Akan tetapi, sebelum menamatkan kuliahnya, tahun 1950 Bahrum Rangkuti mendapat kesempatan belajar di Jamiatul Mubasheren, Rabwah, Pakistan. Dia menguasai tujuh bahasa, yaitu bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Arab, Urdu, dan Melayu.

Tokoh yang dikaguminya adalah Muhammad Zafrullah Khan, filosof Islam yang pernah menjabat Menteri Luar Negeri Pakistan. Di samping itu, ia sangat terpikat oleh pikiran-pikiran Muhammad Iqbal. Bahkan, Bahrum telah menerjemahkan kumpulan puisi Muhammad Iqbal yang berjudul Asrar-i-Khudi ke dalam bahasa Indonesia dengan judul "Rahasia-Rahasia Pribadi".

Sekembali dari Pakistan, Bahrum Rangkuti melanjutkan kuliahnya di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia dengan mengambil studi untuk sarjana muda tentang dalam sastra Indonesia Islam dan tamat tahun 1960. Tesis sarjananya merupakan studi tentang Pramudya Ananta Toer.

Keberhasilan studi Bahrum Rangkuti hingga memperoleh gelar profesor tidak terlepas dari jasa beberapa tokoh, seperti Prof. Hoesein Djajadiningrat yang mengajarkan Sejarah dan Lembaga-Lembaga Islam yang selalu meminjamkan buku-buku serta membuka pintu rumahnya seluas-luasnya untuk Bahrum Rangkuti.

Pekerjaan Bahrum Rangkuti meliputi berbagai bidang, seperti pengarang, guru, wartawan, pegawai negeri, dan rohaniwan militer. Di bidang kewartawanan, pada masa pendudukan Jepang tahun 1942—1945, Bahrum Rangkuti bekerja sebagai Hoso Kanrikyoku dan menjabat sebagai redaksi majalah Indonesia. Dia juga turut aktif di Jawa Hokokai. Saat itu ia juga memasuki Gerakan Baru, organisasi pemuda-pemuda Indonesia yang menyongsong kemerdekaan. Malang baginya, karena organisasi ini dituduh hendak memberontak oleh pemerintah Jepang, ia lalu ditangkap dan dipenjara di Rumah Tahanan Seksi III Senen bersama Basuki Resobowo, Chairil Anwar, dan Burhanuddin Muhammad Diah.

Tahun 1945—1950 ia memasuki Barisan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Republik Indonesia (TRI), dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tahun 1947 ia menjadi anggota Tentara Rakyat. Ketika itu ia mencoba melarikan jip tentara Belanda yang menurut rencananya akan diserahkan kepada tentara Republik di Cikampek. Namun, sebelum rencana itu berhasil, ia dan teman-temannya ditangkap Belanda dan ditahan di Glodok.

Setelah merdeka, Bahrum Rangkuti mendapat kesempatan menjadi sekretaris dan guru Bahasa Urdu dan Bahasa Inggris di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Karachi, Pakistan. Kesempatan itu juga dimanfaatkannya untuk memperdalam agama Islam di Islamic Studies.

Tahun 1953 Bahrum pulang ke kampung halamannya. Saat itu, lahirlah kumpulan puisinya yang berjudul "Nafiri Ciputat". Sebagai seorang rohaniwan, Bahrum Rangkuti sering berceramah tentang agama Islam. Berkat ceramahnya tentang aspek sosial hari raya dan Mikraj di muka para perwira ALRI, akhirnya ia diminta menjadi Ketua Dinas Perawatan Rohani Islam Angkatan Laut dan diberi pangkat kolonel tituler. Tahun 1969 ia mendapat tugas sebagai anggota DPRGR, menggantikan Laksamana Muda Mursalin. Tahun 1971 ia diangkat sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Agama di bawah Menteri Agama, Mukti Ali. Tahun 1976 Bahrum Rangkuti pensiun dari Departemen Agama, tetapi tidak berarti bahwa ia pensiun dari pekerjaannya. Dia ditugasi Menteri Agama untuk menjadi guru besar dalam Ilmu Sejarah dan Kebudayaan Islam, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah dan pengukuhannya berlangsung tanggal 18 Desember 1976.

Dalam dunia kepengarangan Bahrum Rangkuti hidup sezaman dengan Chairil Anwar, Asrul Sani, dan H.B. Jassin. Hampir semua puisi Bahrum Rangkuti bernafaskan keagamaan.

Keloerga Gerilja karya Pramoedya Ananta Toer dan Di Bawah Lindoengan Ka'bah karya Hamka telah membangkitkan seleranya untuk bersastra. Khusus untuk Pramoedya Ananta Toer, Bahrum Rangkuti telah membuat buku berjudul Pramoedya Ananta Toer dan Karja Seninja yang diterbitkan Gunung Agung tahun 1963.

Sebagai sastrawan, Bahrum Rangkuti pernah mendapat sorotan. Ketika menggelar sandiwara radio tentang Nabi Muhammad yang berjudul "Sinar Memantjar di Djabal Ennur" ia diprotes keras. Protes itu merupakan salah satu sebab mengapa ia mempelajari buku Muhammad Iqbal yang berjudul The Reconstruction of Religius Thought in Islam. Balfas menamainya filosof "kuda lumping" karena gayanya yang bombastis.

Karya sastra yang dihasilkan Bahrum Rangkuti berbentuk puisi, cerpen, drama, dan esai. Sayangnya, puisinya belum ada yang diterbitkan berupa buku, tetapi masih tersebar dalam beberapa majalah, antara lain Gema, Pandji Poestaka, Gema Islam, dan Horison. Karya Bahrum Rangkuti yang berbentuk puisi, antara lain adalah (1) "Toehankoe" dalam Pandji Poestaka No. 9--10 Tahun ke-21 (1943:334), (2) "Akibat" dalam Pantja Raja No. 24 Tahun ke-1 (1946:671), (3) "Laila" dalam Gema Suasana No. 4 Tahun ke-1 (1948:199), (4)"Pasar Ikan" dalam Gema Suasana No. 7 Tahun ke-1 (1948: 396), (5) "Sajak-Sajak Muhammad Iqbal" dalam Siasat No. 219 Tahun ke-5 (1951:12), (6) "Lebaran di Tengah-Tengah Gelombang" dalam Horison No. 12 Tahun ke-6 (1971:368).

Drama yang dihasilkannya ialah (1) "Laila dan Madjenun" dalam Gema Suasana No. 5 Tahun ke-2 (1949:195—214), (2) "Sinar Memantjar dari Djabal Ennur" dalam Indonesia No. 6 Tahun ke-1 (1949:323—344), dan (3) "Ardjuna Wiwaha" dalam Indonesia No. 2 Tahun ke-2 (1950:113—128).

Cerpen yang ditulisnya ialah (1) "Ditolong Arwah" dalam Pandji Poestaka No. 95 Tahun ke-14 (1936:1864—1865), (2) "Rindu" dalam Poedjangga Baroe No. 7 Tahun ke-8 (1941: 181), (3) "Renungan Djiwa" dalam Pandji Poestaka No. 27--28 Tahun ke-20 (1942:1008), (4) "Ngobrol dengan Tjak Lahana" dalam Gema Soeasana No. 12 Tahun ke-1 (1948:707—717), (5) "Sajuti Parinduri Alfaghuri" atau "Antero Krisis Tjita, Moral, dan Benda" dalam Zenith No. 1—3 Tahun ke-2 (1952:33—64), dan (6) "Laut, Perempuan,dan Tuhan" dalam Gema Tanah Air (1969).

Esai yang ditulis oleh Bahrum Rangkuti, antara lain adalah "Setahun di Negeri Bulan Bintang I—III" dalam Zenith (1951) dan "Pengantar kepada Tjita Iqbal" dalam Indonesia (1953), sedangkan terjemahannya antara lain (1) "Puisi Dunia" dari "Antagone" karya Sophocles (1948), (2) "Dengan Benih Kemerdekaan" karya Alexander Pushkin (1949), (3) "Waktu Itu Adalah Pedang" (1953), dan (4) "Iqbal di Hadapan Rumi" karya M. Iqbal (1953).

Menurut Indonesia O. Galelano, seorang wartawan dan sastrawan, Bahrum Rangkuti sekeluarga selalu sederhana dalam hidupnya. Dia mengawali kegiatan sosialnya dengan mengelola orang-orang yang terlantar, pada saat ia berusaha sebagai penjual minyak tanah di rumahnya, di Kebon Kacang. Sejak kecil Bahrum Rangkuti sudah mengenal dan mencintai bahasa Arab karena pendidikan agamanya berawal di madrasah. Kemahirannya berbahasa Arab bertambah ketika ia berguru pada Hamka di Medan selama enam bulan.