Armijn Pane

(1908—1970)
Pengarang

Armijn Pane adalah salah seorang pendiri majalah Pujangga Baru (Poedjangga Baroe) yang lahir di Muara Sipongi, Sumatra Utara, 18 Agustus 1908 dan meninggal 16 Februari 1970 di Jakarta karena pendarahan di otak. Istrinya, Ny. Pudjiati Yong Brot, meninggal 6 Mei 1981 di Zurich, Jerman. Dia adalah adik kandung sastrawan Sanusi Pane. Dia pernah mengenyam pendidikan di Holland Inlandsche (HIS) dan ELS (Tanjung Balai, Sibolga, dan Bukittinggi). Tahun 1923 ia mengikuti pendidikan di STOVIA Jakarta, kemudian tahun 1927 memasuki NIAS di Surabaya. Karena minatnya tertumpu pada bahasa dan sastra, ia pindah ke AMS A-1 (sastra Barat) di Solo dan tamat tahun 1931.

Dia pernah menjadi wartawan di Jakarta dan Surabaya tahun 1931—1932, menjadi guru Taman Siswa di Kediri, Malang, dan Jakarta tahun 1932—1934, menjadi sekretaris dan redaktur majalah Poedjangga Baroe tahun 1933—1938, menjadi wartawan free lance (1934—1936), menjadi redaktur Balai Pustaka tahun 1936, Ketua Bagian Kesusastraan, Pusat Kebudayaan tahun 1942—1945, penganjur di Balai Bahasa Indonesia dan Sekretaris Komisi Istilah, serta menjadi penganjur dan sekretaris Lembaga Kebudayaan Indonesia yang kemudian menjadi Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) tahun 1950—1955, dan redaktur majalah Indonesia tahun 1948—1955. Dia tercatat sebagai sekretaris Kongres Bahasa Indonesia I tahun 1938.

Sebelum terbit sebagai buku, karyanya terbit dalam berbagai majalah. Dramanya yang berjudul "Lukisan Masa" terbit dalam Poedjangga Baroe No. 11, Tahun 1937, Nyai Lenggang Kencana" dalam Poedjangga Baroe No. 11, Tahun 1939, "Jinak-Jinak Merpati" dalam Kebudajaan Timoer No. 3, Tahun 1945, dan "Antara Bumi dan Langit" dalam Indonesia, No. 4, Tahun 1952. Novelnya yang terkenal, Belenggu, terbit pertama kali tahun 1940 dalam majalah Poedjangga Baroe. Novel ini mendapat reaksi yang hebat dari kalangan peneliti dan pengamat sastra Indonesia. Karyanya yang lain adalah Djiwa Berdjiwa (kumpulan puisi, diterbitkan sebagai nomor istimewa majalah Poedjangga Baroe, 1939), Kisah Antara Manusia (kumpulan cerpen, 1953), Djinak-Djinak Merpati (kumpulan drama, 1954), Gamelan Djiwa (kumpulan puisi, 1960). Cerpennya antara lain "Pujaan Cinta" dalam Pandji Poestaka, No. 11, Tahun 1932, "Sukma" dalam Poedjangga Baroe No. 6, 7, 9 Tahun 1934/1935, "Pertemuan Rasa" dalam Poedjangga Baroe No. 5, Tahun 1932; "Barang Tiada Berharga" dalam Poedjangga Baroe No. 4 dan 5 Tahun 1935, "Kulit Pisang" dalam No. 1 Ä 2 Tahun 1935, dan "Jika Pohon Jati Berkembang" dalam Pandji Poestaka, No. 97 Tahun 1937. Puisinya antara lain "Kapan Datang" terbit dalam Pandji Poestaka No. 70, Tahun 1932, "Kembang Setengah Jalan" dalam Pandji Poetska Baroe No. 85, Tahun 1932, "Menimbulkan Kenangan" dalam Pandji Poestaka No. 75, Tahun 1932, "Masgul" dalam Poedjangga Baroe No. 4, Tahun 1933; "Hamba Buruh" dalam Poedjangga Baroe No. 3, Tahun 1934, "Di Bawah Riak Alun Senyummu" dalam Poedjangga Baroe No. 7 Ä 8 , Tahun 1939, "Bintang Merdeka" dalam Djawa Baroe No. 19, Tahun 1944, "Pasti Berkibar" dalam Djawa Baroe No. 19, Tahun 1944, "Pedomanku" dalam Keboedajaan Timoer No. 2 Tahun 1944, dan "Rindu di Tepi Danau Sarangan" dalam Indonesia No. 11 dan 12 Tahun 1949.

Armijn juga banyak menulis drama pada masa sebelum perang. Armijn banyak mengambil latar belakang kenyataan hidup zamannya. Berdasarkan cerpennya "Barang Tiada Berharga" ia membuat drama "Lukisan Masa". Drama yang ditulisnya pada masa Jepang dibukukan dalam Djinak-Djinak Merpati, berdasarkan roman I Gusti Nyoman Pandji Tisna, ia menghasilkan drama "I Swasta Setahun di Bedahulu", dan berdasarkan cerita M.A. Salmun dalam bahasa Sunda ia menghasilkan drama "Nyai Lenggang Kencana" yang mengambil cerita masa silam. Drama "Antara Bumi dan Langit" ditulis sesudah proklamasi kemerdekaan yang mempermasalahkan kedudukan kaum Indo di alam Indonesia merdeka.

Selain karya kreatif, Armijn Pane juga menulis esai tentang sastra yang tersebar di berbagai majalah yang belum dibukukan, di antaranya "Mengapa Pengarang Modern Suka Mematikan?" dalam Poedjangga Baroe No. 8 Tahun 9, "Seniman, Pujangga, dan Masyarakat" dalam Spektra No. 1 Tahun 1. Dalam bahasa Belanda ia menulis Kort Overzicht van de Moderne Indonesische Literatuur (1949) dan Sandjak-Sandjak Muda Mr. Mohammad Jamin (1954). Buku terjemahannya antara lain adalah Tiongkok Zaman Baru, Sedjarahnja: Abad ke-19 Sekarang (1953), Membangun Hari Kedua (novel karya Ilya Ehrenburg, 1956), dan Habis Gelap Terbitlah Terang (karya R.A. Kartini, 1968). Buku sadurannya, antara lain, adalah Ratna (drama karya Hendrik Ibsen, Nora, 1943).

Tahun 1969 Armijn Pane menerima Hadiah Tahunan dari Pemerintah Republik Indonesia. Pandangannya tentang kesusastraan tampak dalam tulisannya yang dimuat majalah Poedjangga Baroe No. 1, Tahun I 1933 yang intinya adalah bahwa pengarang sebagai hamba seni adalah hamba sukmanya. Jadi, seni pesanan bukanlah seni yang menghamba kepada sukma.

Dalam tulisannya yang berjudul "Kesusastraan Baru Yang Kuno dan Yang Baru" dalam Poedjangga Baroe Nomor 2, Armijn Pane menyatakan, "Kami tiada hendak mempertahankan form yang lama, kami tiada hendak bernyanyi, berseloka, bergurindam seperti moyang kami, kami hendak menimbulkan form baru yang sepadan dengan semangat masyarakat kami yang senantiasa berubah-ubah itu, yang senantiasa berjuang itu. Kami hendak menimbulkan form baru yang sesuai dengan roh perjuangan bangsa kami ke arah kemerdekaan".

Kesusastraan Indonesia bukan natuurmonument, batu tulisan yang senantiasa tetap begitu, bukan, kesusastraan Indonesia ialah semangat hidup yang menimbulkan form baru akan menjadi penunjuk dirinya.

Dalam pandangan Teeuw kesusastraan sebelum perang dan sesudah perang diperlihatkan dalam karya Armijn Pane, salah seorang di antara sejumlah kecil pengarang yang sebenarnya terus-menerus menghasilkan tulisan kreatif sepanjang jangka waktu yang mencakup sebagian daripada kedua zaman itu. Akan tetapi, bukan keadaan luar ini saja yang menjadikan ia seorang tokoh zaman peralihan. Baik dari segi kerohanian maupun dari segi bentuk, ialah tokoh yang paling modern di kalangan Pujangga Baru, seorang pelopor kegiatan sastra yang meletus pada zaman revolusi. Baik dari segi umur maupun dari segi latar belakangnya, ia seorang Pujangga Baru: tiga tahun lebih muda daripada kakaknya, tiga tahun lebih tua daripada Amir Hamzah, dan seumur dengan Sutan Takdir Alisjahbana. Dia memasuki beberapa sekolah yang berbahasa pengantar Belanda dan walaupun mengalami pengaruh yang sama seperti kakaknya, pandangannya lebih cenderung ke arah barat, demikian pula bahasanya, yang tidak begitu terikat oleh kebiasaan, tidak banyak retorikanya, tidak begitu dikuasai kata-kata nan indah seperti halnya dengan sebagian besar teman penulis yang sezaman. Bukan saja dari segi teori, ia insyaf bahwa pada dasarnya bahasa Indonesia seharusnya berbeda dari bahasa Melayu. Akan tetapi, ia juga menjadikan bahasa Indonesia yang digunakannya berbeda dari bahasa Melayu sehingga bahasanya kadang-kadang dikritik sebagai "bahasa Belanda dengan kata-kata Melayu", yang tidak dapat dipahami oleh orang yang tahu berbahasa Melayu, tetapi tidak tahu berbahasa Belanda. Dia mencoba menggunakan bahasa sehari-hari dalam membicarakan manusia sehari-hari dan dengan demikian karyanya secara jelas merupakan prakata bagi penulis sesudah perang.

Ajip Rosidi dalam Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia (Cetakan Kedua, Binacipta, 1976) berkomentar bahwa gaya bahasa Armijn sangat bebas dari struktur bahasa Melayu. Dalam karangan-karangannya ia lebih banyak melukiskan gerak kejiwaan tokoh-tokohnya daripada gerak lahirnya. Inilah yang terutama membedakan Armijn dengan para pengarang sezamannya. Oleh karena itu, beberapa orang penelaah sastra Indonesia menganggap ia sebagai pendahulu angkatan sesudah perang, paling tidak dianggap sebagai "missing link" antara para pengarang sebelum dan sesudah perang.

Selanjutnya, Ajip menyatakan bahwa dari segi sastra cerpen-cerpen Armijn Pane ditulis lebih sungguh-sungguh dan lebih berhasil. Cerpennya "Barang Tiada Berharga" sangat kuat yang kemudian menjadi dasar romannya Belenggu. Dalam cerpennya "Tujuan Hidup" ia mencoba melukiskan kesepian hidup seorang gadis yang menjadi guru dan memilih hidup menyendiri. Dalam cerpen "Lupa" Armijn melukiskan kehidupan kaum politikus yang karena tak dapat memperjuangkan cita-citanya oleh berbagai tekanan pemerintah, lalu menghabiskan waktunya di tempat maksiat. Dari cerpen itu tampak adanya usaha Armijn untuk membuat lukisan dari kenyataan hidup sehari-hari pada zamannya. Hal itu berhasil ia lakukan dalam cerpennya "Barang Tiada Berharga yang melukiskan kemelut dan tingkah laku masyarakat Indonesia pada zaman malaise (tahun 1930-an).

Dalam bukunya Puisi Indonesia Modern (Jakarta: Pustaka Jaya, 1987:77) Ajip Rosidi menyatakan bahwa percobaan menulis sajak tentang hal sehari-hari dilakukan Armijn Pane dalam tahun 1930-an. Sajak-sajaknya yang terkumpul dalam Jiwa Berjiwa penuh semangat perjuangan bangsa, tetapi dalam Gamelan Jiwa memperlihatkan keberanian penyairnya untuk melukiskan keadaan nyata sehari-hari dengan mempergunakan kata sehari-hari. Selanjutnya, Rosidi (1987:79) menegaskan bahwa percobaan Armijn Pane seperti itu membawakan kesadaran bahwa sajak pun dapat mengenai hal sehari-hari dan tidak semata-mata bertalian dengan perasaan-perasaan yang mulia sifatnya. Dengan demikian, ia memberikan jalan kepada penulis sajak yang mengambil tema seperti itu oleh para penyair muda sesudah perang, seperti M. Husseyn Umar, Toto Sudarto Bachtiar, Muhammad Ali, dan Sobron Aidit.