Agus Noor

(1968--..)
Pengarang

Agus Noor dikenal sebagai cerpenis, penulis prosa, naskah monolog atau naskah panggung dengan gaya parodi dan mimikri untuk satire atau sindiran dan kritik. Ia lahir di Tegal, Jawa Tengah, 26 Juni 1968. Setelah tamat SMA ia kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta, Jurusan Teater. Tahun 1998 ia mengikuti Writing Program Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera). Sejak SMA ia sudah menghasilkan banyak tulisan. Menulis baginya seolah sebagai cara memuaskan diri dalam mengkritisi. Ia menghasilkan banyak karya prosa seperti novel, naskah drama dan naskah monolog, skenario film sinetron, terutama cerita pendek, sehingga ia lebih dikenal sebagai cerpenis berbakat yang sangat produktif. Tulisan-tulisannya dipublikasikan di majalah Hai, Anita, Gadis, Matra, Ulumul Qur’an, Horison, dan surat kabar Kompas, Jawa Pos, Surabaya Pos, Suara Pembaruan, Media Indonesia, Republika, Bernas, Kedaulatan Rakyat, Suara Karya Minggu, Berita Kota, Berdaulat, dan lain-lain. Sejak tahun 2001, Agus Noor sebagai Creative dan Artistic Director untuk panggung Indonesia Kita.

Cerpen-cerpennya tersebar di beberapa antologi seperti Ambang (1992); Pagelaran (1993); dan Lukisan Matahari (1994). Sebelum dan sesudahnya terbit cerpen-cerpennya seperti Musuh (1993), Nyidam (1994), “Pepes Bayi Buat Baginda Raja” (Media Indonesia, 1997); dan Tamansari (1998). Cerpen-cerpennya yang dimuat di berbagai media massa antara lain “Tamu” (Koran Tempo, 2004); “Cerita Buat Bapak Presiden” (Kompas, 2005); dan “Komposisi untuk Sebuah Ilusi” (Koran Tempo, 2006). Buku kumpulan cerpennya yang telah terbit antara lain Memorabilia (1999, Yayasan Untuk Indonesia); Bapak Presiden yang Terhormat (2000, Pustaka Pelajar); Selingkuh itu Indah (2001, 2006 cetakan ke-15, Galang Press); Rendevouz: Kisah Cinta yang Tak Setia (2004, Galang Press); dan Potongan Cerita di Kartu Pos (2006, Penerbit Buku Kompas).

Dalam antologi bersama, terbit cerpen-cerpennya, Lampor (Cerpen Pilihan Kompas, 1994); Kitab Cerpen Horison Sastra Indonesia (Majalah Horison dan The Ford Foundation, 2002); Jalan Asmaradana (Cerpen Pilihan Kompas, 2005); Dari Pemburu ke Tapuetik (Majelis Sastra Asia Tenggara dan Pusat Bahasa, 2005); Pembisik (Cerpen-cerpen terbaik Republika); 20 Cerpen Indonesia Terbaik (Pena Kencana, 2008 dan 2009); dan Un Soir du Paris (Gramedia Pustaka Utama, 2010). Tiga cerpennya yang lain diterbitkan oleh Bentang (2010), yaitu Sebungkus Nasi dari Tuhan, Sepasang Mata Penari Telanjang dan Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia. Kemudian, Kelepak Sayap Jibril (2011); Cerita Buat Para Kekasih (Gramedia Pustaka Utama, 2015); Memorabilia Melankolia (Gambang, 2016); dan Lelucon Para Koruptor (2017). Puisi-puisi terbaiknya dihimpun dalam Ciuman yang Menyelamatkan dari Kesedihan, diterbitkan oleh Motion Publishing tahun 2012. Sedangkan tahun 2018 Diva Press menerbitkan kumpulan puisi Agus Noor, Barista Tanpa Nama. Masih banyak sekali karya-karya Agus Noor yang bertebaran di seantero media dan publikasi di Indonesia.

Tahun 2005 Agus Noor menyiapkan repertoar bersama teater Gandrik untuk berkeliling Australia. Ia menulis beberapa naskah lakon untuk Laboratorium Nol. Ia juga menulis karya ilmiah seperti kritik sastra dan kritik sosial politik. Agus Noor terkenal sebagai penulis naskah monolog. Karya monolognya merupakan kritik sosial dan politik bahkan yang menertawakan keadaan Indonesia. Monolognya yang terkenal, Matinya Toekang Kritik (Lamalera, 2006) dan Lidah Pingsan menjadi program televisi Sentilan Sentilun yang dimainkan oleh monolog kenamaan, Butet Kartaredjasa, di stasiun televisi Metro TV. Monolognya Buket Hitam dimainkan oleh Rieke Diah Pitaloka. Naskah monolognya banyak mengurai profil tokoh-tokoh politik dan para korban politik. Karya monolognya menjadi ruang publik, atau ibarat medium ingatan sosial bahwa narasi dan ingatan para korban yang terlupa (the subaltern) tak bisa terpendam selamanya. Ada banyak parodi, ironi, dan aneka metafora local wisdom di dalamnya. Beberapa cerpennya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Swedia. Bersama Ayu Utami, Agus Noor menulis naskah lakon Sidang Susila untuk merefleksikan dan mengkritik Rancangan Undang Undang Anti-Pornografi. Naskah ini dipentaskan sejak 2018 oleh Teater Gandrik! Naskah drama ini dibebaskan dipentaskan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Hanya dianjurkan memberitahukannya kepada penulisnya sebagai sopan santun saja. Agus Noor aktif di Komunitas Pak Kanjeng bersama Emha Ainun Nadjib.

Atas karya-karyanya, Agus Noor menerima beberapa perhargaan seperti Juara I penulisan cerpen pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) Tahun 1991; Cerpenis terbaik pada Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) IV (1992) untuk cerpennya, Musuh; Anugerah Cerpen Indonesia oleh Dewan Kesenian Jakarta untuk tiga cerpennya, Keluarga Bahagia, Dzikir Sebutir Peluru, dan Tak Ada Mawar di Jalan Raya (1999); Karya terbaik selama kurun waktu 1990-2000 oleh Majalah Horison untuk cerpennya Pemburu; Anugerah Kebudayaan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpennya Piknik (2006).

Dalam blognya, agusnoor_files,pada Februari 2009, Agus Noor menanggapi seorang fansnya dengan mengatakan bahwa dalam membaca sebuah karya sastra, walau pembaca memiliki kedaulatan membaca, namun pembaca tetap terikat dengan teks yang dibacanya. Walau pembaca menafsir teks berdasarkan pengalaman, tingkat intelektualitas, pengetahuan, atau persepsinya, tetapi tetap harus mengacu pada teks. Tafsir yang baik ialah mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan yang ada di dalam teks dengan cara berangkat dari teks itu, bukan hanya dari “apa yang dibayangkannya”. Korrie Layun Rampan memasukkan Agus Noor sebagai sastrawan Angkatan 2000.

SUMBER DATA

Hasanuddin WS - Pemred, Mursal Esten, dkk. – Redaktur Ali Penyelia, Maizar Karim, dkk. – Redaktur). 2004. Ensiklopedia Sastra Indonesia. Bandung: Titian Ilmu (hal. 22).

Rampan, Korrie Layun. 2000. Leksikon Susastra Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka./23

Sugono, Dendy dan Abdul Rozak Zaidan. 2005. Dari Pemburu ke Terapeutik – Antologi Cerpen Mastera. Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.

Media Indonesia, Jakarta. Minggu, 15 Juni 1997 halaman 17 kolom 1—7

Koran Tempo, Jakarta, Minggu 4 Januari 2004 halaman B5 kolom 1—6

Kompas, Jakarta, Minggu 27 Februari 2005 halaman 17 kolom 1—8)

Harian Koran Tempo, Jakarta. Minggu, 16 April 2006 halaman C2 dan C3 kolom 1—5.

Harian Indopos, Minggu, 9 April 2006 hal. 6 kolom 2—6

Jost Kokoh Prihatanto “Belajar dari Tukang Kritik” oleh, mahasiswa Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, alumnus STFT Driyarkara, Jakarta, Resensi buku Matinya Tukang Kritik. 2006. Agus Noor. Yogyakarta: Lamalera. Xxxii + 246 halaman

Agus Noor menulis di KOMPAS Thn 41 No. 263, Minggu, 26 Maret 2006 Hal. 27 kolom 1—7, “Aktor di panggung Teater” (Agus Noor, Studi Teater di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta). Juga ada dalam KOMPAS terbitan tahun 1997, Koran Tempo, April 2006.

“Komposisi untuk Sebuah Ilusi” (Koran Tempo, Minggu, 16 April 2006 Thn. VI Nomor 1753 halaman C2, C3 kolom 1—5, 1—5. Cerpen: Manekin (tokoh, patung boneka gantungan busana di toko pakaian).

“Potongan Cerita di Kartu Pos” – KOMPAS 2006

Wikipedia, diunggah 22 Mei 2018.